Pemusik Jalanan di Banjarmasin Haruskah Mereka Ditertibkan ?

DITENGAH sulitnya dan minimnya peluang mendapatkan pekerjaan, Banjarmasin sebagai salah satu kota besar tak luput dari berbagai permasalahan sosial.

Dari sekian permasalahan itu adalah dari soal gelandangan dan pengemis (gepeng), pengamen atau musisi jalanan.

Khusus musisi jalanan seperti yang kini marak di sejumlah persimpangan jalan di Banjarmasin bagi sebagai orang dinilai bisa menganggu kenyamanan dan ketertiban kota.

Lantas apakah aktifitas mereka harus ditertibkan? Kekhawatiran itulah dirasakan Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) hampir sejumlah kota besar di Indonesia. Mereka menyampaikan aspirasi baik kepada pemerintah daerah maupun dewan perwakilan rakyat setempat.

Aspirasi sama juga disampaikan sejumlah pemuda yang tergabung dalam Sekolah Musik Jalanan (SMJ), Yayasan Anak Jalanan Yang Baik (AL- AJYB) Banjarmasin ke DPRD Kota Banjarmasin.

Kedatangan perwakilan musik jalanan ini diterima Komisi IV DPRD Kota Banjarmasin sekitar Juni 2020 tahun lalu.

Sebelum diterima mereka menyuguhkan hiburan musik dengan memainkan gitar lengkap dengan pengeras suara di depan kantor perwakilan rakyat di kawasan Jalan Lambung Mangkurat tersebut.

Dalam aspirasi disampaikan intinya mereka menuntut keadilan dan Pemko Banjarmasin memberikan jaminan serta peduli kepada pengamen dan musisi jalanan agar bisa tetap mencari nafkah.

Dalam pertemuan itu aspirasi disampaikan selain terkait keberadaan pemusik jalanan juga hak- hak anak jalanan (anjal) yang selama ini dinilai banyak terabaikan.

Ketua Sekolah Musik Jalanan Yayasan Al- AJYB Banjarmasin Bahtiar dalam aspirasi disampaikan, meminta perhatian semua pihak dalam menyikapi permasalan anak jalanan dan keberadaan pemusik jalanan.

Ia menilai selama ini, ada kesan anak jalanan hanya dipandang sebelah mata ini hingga penanganan dan pembinaan anak jalanan kurang mendapatkan perhatian berbagai pihak.

” Kalaupun ada yang peduli jumlahnya hanya sedikit. Padahal mereka juga manusia dan punya keinginan sama punya harapan agar meraih masa depan hidup yang lebih baik,” ujar Bahtiar .

Berita Lainnya

Satgas Belum Rekomendasikan PTM

1 dari 3.201

Bahtiar berharap ada bentuk nyata dari Pemko dalam bentuk program sebagai solusi dalam menangani permasalahan anak jalanan.

Minimal kata Bachtiar, Pemko memfasilitasi anak jalanan seperti yang dilakukan Pemerintah Daerah Jogjakarta dan DKI Jakarta, terutama dalam pengembangan musik anak jalanan.

Menanggapi aspirasi disampaikan, Matnor Ali yang menjadi Ketua Komsisi IV ketika itu mengatakan. keberadaan anak jalanan di Indonesia, khususnya kota-kota besar tak terkecuali Banjarmasin merupakan fakta tidak terbantahkan.

Matnor Ali yang kini menjabat Wakil Ketua DPRD Banjarmasin berpendapat, permasalahan sosial ini tentunya menuntut perhatian serius, tidak pemerintah tapi juga perlu partisipasi pihak swasta serta masyarakat secara terencana dan terpadu.

Matnor Ali juga menilai, fenomena keberadaan dan berkembangnya anak jalanan merupakan persoalan yang pada hakikatnya bukanlah pada masalah kemiskinan belaka, melainkan banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya sulit dan terbatasnya kesempatan mendapatkan pekerjaan,baik formal maupun non formal.

Bahkan dalam kesempatan itu Matnor Ali juga menyarankan, agar komunitas pemusik jalanan memiliki struktur dan pembinaan yang jelas. Seperti berkolaborasi dengan Sanggar Budaya agar mudah menjalin koordinasi dengan Pemko Banjarmasin.

Sementara terlepas saran, pendapat maupun pro dan kontra, pemusik jalanan adalah warga Banjarmasin dimana dengan kemampuan dimiliki mereka berusaha berjuang mencari nafkah, sehingga harus ada solusi yang bijak.

Sebaliknya, jangan sampai mendiskriminasi para musisi jalanan. Sebab sudah seharusnya kewajiban pemerintah khususnya Pemko Banjarmasin menjamin kenyamanan dan keamanan warganya dalam mencari nafkah.

Apalagi jika Pemko Banjarmasin mampu menyediakan sarana dan prasarana sebagai wahana ekspresi dan profesional kepada musisi jalanan di ibukota provinsi Kalsel ini. Pemusik jalanan memang tak seberuntung musisi yang masuk dapur rekaman. Namun mereka melalui lagu yang dinyanyikan di persimpangan perempatan jalan dengan harapan dihargai.

Seperti yang dilakoni Randi, bersama tiga kawannya yang biasanya memilih mangkal menyuguhkan musik jalanan di perempatan Jalan Sutoyo S-Jalan Skip Lama, Banjarmasin.

Berbekal gitar akuistik yang cukup apik dipetik, ditambah tabuhan cajo, Randi dan tiga temannya menghibur para pengendara saat lampu merah di perempatan jalan, mengais lembar rupiah.

” Kami sekedar mencari rezeki kehadiran kami mengamen disini tidak ada yang merasa terganggu,” kata Randi. (Amir Hamzah/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya