Dari Peristiwa Isra Mi’raj
Shalat Hendaknya Mampu Membentuk Kepribadian Luhur

Oleh : Ismail Wahid
Dosen dan Pemerhati Keagamaan

Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan terus naik ke langit pertama sampai ke tujuh dan ke Sidratul Muntaha hingga ke Mustawa, melintasi beberapa ufuk dan cakrawala serta ke ’Asy yang hanya ditempuh dalam waktu kurang dari 12 jam pulang pergi. Kejadian ini dapat disimpulkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj tersebut merupakan peristiwa yang menakjubkan hati dan akal manusia dansukar untuk diterima oleh orang-orang yang hatinya gersang dan jauh dari iman.

Sebagai seorang muslim harus yakin dan percaya akan kebenaran peristiwa Isra Mi’raj dan tidak boleh meragukan apalagi tidak mempercayai kebenaran peristiwa tersebut, meskipun kejadian tersebut sulit diterima dengan akan pikiran. Karena hal tersebut jelas-jelas diterangkan dalam Al-Qur’an, “Maha Suci Allah, yang telah menjalan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui,”. (QS. Al Isra : 1).

Ada hal yang paling penting hasil dari perjalanan Isra Mi’raj ialah diterimanya perintah shalat lima waktu yang diwajibkan kepada kaum muslimin, laki-laki dan perempuan dalam sehari semalaman. Untuk melaksanakan perintah shalat lima waktu ini dengan ikhlas dan khusyu’, bukan perkara mudah. Tidak semua orang mengaku muslim mau dan mampu

mengerjakan dengan baik dan benar. Banyak kita lihat saudara saudara kita dengan berbagai dalih dan alasan yang dibikin-bikin tidak sanggup mengerjakan ke lima waktunya shalat yang diwajibkan Allah tersebut. Ada yang hanya mengerjakan shalat Magrib atau Isya saja dan kelupaan

mengerjakan ke lima waktunya, tetapi belum dapat sepenuhnya mengerjakan dengan ikhlas dan khusyu’ dan bahkan ada pula yang tidak mengerjakan shalat tersebut karena berbagai kesibukan duniawi yang mempengaruhinya. Seharusnya ibadah shalat yang mulia dan agung yang merupakan perolehan

Rasulullah ketika Isra Mi’raj, harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan Rasulullah tidak ingin melihat umatnya yang tidak shalat, karena shalat merupakan tiang agama. Selanjutnya setelah selesai mengerjakan shalat lima waktu, hendaknya kita biasakan memuji dengan

Berita Lainnya

Perempuan dan Clash of Civilizations

PKKM dan Implementasinya

1 dari 231

membesarkan keagungan Allah. Kita bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya. Kita mengaku tak ada Tuhan selain Dia dan cuma Dia yang layak dipuji setinggi-tinggi, sesuai dengan apa yang kita perjanjikan dalam shalat. “Sesungguhnya shalatku, hidupku dan matiku, kupersembahkan untuk Allah Penguasa alam semesta”.

Shalat lima waktu yang kita kerjakan, sejak berusia baliq sampai sekarang hendaknya mampu menyadarkan kita bahwa keberadaan kita hanya karena Rahman dan Rahim-Nya. Apa yang kita miliki sekarang dulu dan akan datang semuanya adalah anugerah Allah.

Oleh karena itu, sehabis shalat lima waktu sudah sepantasnya kita mengangkat tangan dan berdoa yang menunjukan bahwa kita sesungguhnya adalah dhaif atau lemah, karena itu kita tidak boleh sombong, congkak dan takabur. Ibadah shalat harus mampu menginsyafkan kita bahwa apapun yang kita miliki pada dasarnya milik Allah jua. Milik Allah yang Dia pinjamkan kepada kita, bahkan bukan cuma yang ada pada kita semua ini milik Allah, diri kita pun sesungguhnya milik-Nya jua. Ibadah shalat lima waktu yang kita kerjakan terus menerus, hendaknya mampu membentuk kepribadian lebih baik dan luhur serta mampu mengingatkan diri kalaupun berkuasa, berkedudukan atau pun berpangkat, memiliki harta kekayaan yang banyak, mempunyai ilmu, berwajah tampan atau cantik, haruslah selalu diingatkan, bahwa semua itu tidak lain adalah anugerah Allah belaka. Semua anugerah itu harus mampu mengingatkan kita bahwa kita harus bersyukur kepada-Nya, kita harus berterima kasih kepada Allah SWT, ibadah shalat, juga harus mampu membentuk moral dan kepribadian, meningkatkan

keimanan dan ketakwaan, serta mampu menghindarkan diri kita dari perbuatan keji dan munkar. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. (QS. Al Ankabut : 45)

Kalau ibadah shalat kita benar sesuai dengan syarat dan rukunnya, niscaya kita tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, meski demikian, kita tidak bisa mengingkari bahwa orang yang shalat juga banyak yang melakukan kejahatan atau kemaksiatan; seperti mencuri, korupsi dan manipulasi dan perbuaian yang dilarang agama lainnya. Hal ini jelas ada sesuatu yang tidak beres dalam pelaksanaan shalatnya. Untuk itu, maka seharusnya kita perlu untuk meneliti ibadah shalat yang kita laksanakan .

Apakah sudah benar shalat yang kita kerjakan sudah benar atau sesuai dengan syarat dan rukunnya, pakaian yang digunakan apakah didapat dari usaha yang halal, hati dan pikiran sudahkah konsentrasi kepada Allah dengan khusyu’. Semua itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, karena hal tersebut menjadi penilaian Allah. Selanjutnya mari kita memikirkan diri kita, bertafakur kepada Allah sejenak sehabis shalat, apakah sudah cukup banyak beribadah kepada Allah untuk mempersiapkan bekal di alam akherat nanti, sebab suatu ketika diri kita pasti mati. Tidak ada manusia yang hidup selamanya. Makanya selagi umur masih ada,

semangat dan kegairahan beribadah kepada Allah seperti shalat dan ibadah-ibadah sunnah lainnya hendaknya terus ditingkatkan, balk kualitas maupun kuantitasnya dan kita tidak boleh surut atau mengendur, meskipun usia sudah uzur. Semoga peringatan Isra dan Mi’raj, ibadah shalat dan sunnah lainnya, Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita dan menerima ampun.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya