Hakim PN Banjarmasin Ikuti HUT IKAHI ke 68 Secara Virtual, Ini Poin Penekanan Ketua MA

Banjarmasin, KP -Seluruh IKAHI (Ikatan Hakim Indonesia) merayakan HUT-nya ke 68, Kamis (18/3/2021).

Tak terkecuali para Hakim di Pengadilan Negeri Banjarmasin, turut menyambut dengan penuh makna dan intropeksi diri di usia IKAHI ini.

“Kita bersama harus bersikap saling mengingatkan untuk tujuan kebaikan dan harus menjadi budaya di kalangan para hakim.

Karena itulah wujud soliditas yang sebenarnya,” kata Juru Bicara PN Banjarmasin, Aris Bawono Langgeng SH MH, selarah arahan Ketua Mahkamah Agung, Prof Dr. H.M. Syarifuddin, SH, MH.

Pada puncak HUT IKAHI, jajaran Hakim di PN Banjaramsin mengikuti bersama secara virtual dengan Mahkamah Agung (MA) di Jakarta.

Silaturahmi Nasional dengan Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang IKAHI Se-Indonesia ini bertema “Soliditas IKAHI Dalam Mengawal Modernisasi Peradilan di Era Pandemi Covid-19 Menuju Peradilan yang Agung”.

Pesan Penting untuk para anggota IKAHI adalah sesama hakim harus senantiasa saling mengingatkan satu sama lain, agar tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri dan lembaga.

“Hakim harus berhati-hati dalam mengekspresikan pikiran, ucapan, dan tindakan di media sosial.

Belum tentu apa yang kita anggap baik, ditafsirkan baik oleh publik.

Bisa saja apa yang kita unggah justru menimbulkan kegaduhan di ruang publik atau menimbulkan ketersinggungan bagi orang lain dan sekelompok orang tertentu,” pesan Ketua MA.

Kemudian katanya, hakim tidak perlu ikut beropini dan memberikan pendapat di media sosial terhadap kondisi sosial atau peristiwa hukum yang terjadi di masyarakat.

Berita Lainnya

Ketua KONI Tabalong Dituntut Lima Tahun

Jumat Berkah, Polsek Banteng Berbagi

1 dari 1.400

Karena bukan tidak mungkin peristiwa tersebut suatu saat akan menjadi perkara di pengadilan.

Hakim juga tidak perlu menumpahkan keluh kesah dan amarah di media sosial, karena bisa jadi keluh kesah dan amarah yang diunggah terbaca oleh pihak yang sedang berperkara di pengadilan yang perkaranya sedang kita tangani.

“Apa yang kita unggah di media sosial akan menjadi milik publik dan publik berhak untuk menilai apapun tentang apa yang kita publikasikan.

Oleh sebab itu, kita harus selalu bersikap arif dan bijaksana,baik ketika di dalam persidangan, maupun dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika menggunakan media sosial,” ujarnya lagi.

Ketua MA juga inngatkan, Hakim harus memiliki akhlak dan prilaku yang lebih baik, dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.

Karena hakim adalah orang-orang yang dipilih untuk mengemban tugas dan jabatan sebagai Wakil Tuhan di dunia. Lainnya, senantiasa menunjukan sikap rendah hati dan santun dalam bertindak serta bertutur kata.

“Apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan akan menjadi contoh bagi apartur penegak hukum yang lain.

Panggilan “Yang Mulia” bukan untuk dibangga-banggakan, melainkan harus menjadi pengingat bagi kita,” ujarnya.

Bahwa kemuliaan dari jabatan hakim tidak diukur dari kewenangan dan kekuasaanya yang besar, melainkan diukur dari sikap dan prilaku kita sendiri.

Sikap dan prilaku kitalah yang akan menentukan, layak atau tidak untuk dipanggil “Yang Mulia”.

Kemudian harus membiasakan diri untuk tidak mengatakan semua yang dipikirkannya, jika itu akan menimbulkan gangguan bagi kemandirian hakim yang lain.

“Hakim harus lebih banyak menuangkan pemikirannya di dalam pertimbangan putusan, bukan di media sosial, atau di ruang publik lainnya,” tutup Syarifuddin. (K-2)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya