Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

HIJRAH AKTUAL

×

HIJRAH AKTUAL

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Sebagian ulama mengatakan, hijrah seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW bersama kaum muhajirin dari Makkah ke Madinah l4 abad silam sekarang tidak ada lagi. Yang ada adalah hijrah mental, dari maksiat kepada taat, dari acuh tak acuh terhadap agama menjadi sadar beragama, dan hijrah dengan cara menjauhi segala larangan Allah. Sesuai dengan hadits Nabi, wal-muhaajiru man hajara maa nahallaahu anhu (Shahih Bukhari, I/l: l40l H: 9).

Kalimantan Post

Memang setelah penaklukan Makkah, hijrah kependudukan sudah selesai. Nabi mengatakan, la hijrata ba’dal fath. Tapi saat itu kaum muslimin tetap dibai’at untuk Islam, jihad dan kebajikan, yang kesemuanya dilakukan dengan niat yang saleh (Shahih Muslim II, l40l H: 205).

Karena itu setiap perbuatan baik pada dasarnya terus dituntut, walaupun hijrah Rasul sudah berlalu. Untuk itu hijrah dapat dimaknai secara luas dan terus dibutuhkan dalam segala tempat dan zaman, baik bersifat fisik maupun mental.

Menuntut ilmu merupakan bagian dari hijrah, yakni dari kebodohan menuju pintar, cerdas dan bijaksana, dari tujuan dunia jangka pendek (misalnya untuk mengejar gelar dan posisi tertentu) menuju tujuan mulia, yatu kebaikan dunia, agama dan akhirat, minazzulumaati ilan nuur. Agar memperoleh ilmu, seseorang dituntut untuk keluar, jangan mengurung diri dalam rumah atau kampungnya saja, sebab ilmu itu umumnya didatangi, bukan mendatangi.

Nabi SAW mengatakan, “man kharaja fi thalabil ‘ilmi fahuwa fi sabilillahi hatta yarji’a”. Artinya, “Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga kembali”. (Sunan Turmudzi 4: l38). Kata kharaja di sini dapat kita maknai keluar dari rumah, dari kampung, dari daerah, bahkan dari negeri sendiri untuk menuntut ilmu. Sejak dahulu, ulama kita banyak yang rela meninggalkan Indonesia menuju Makkah, Madinah, Masir, Syria, india Pakistan dan lainnya untuk menuntut ilu agama. Dan bagi yang menuntut ilmu lain, ada yang belajar ke Eropa, Amerika, Australia dan sebagainya. Ini sejalan pula dengan hadits yang menyuruh menuntut ilmu, walaupun sampai ke negeri Cina, karena menuntut ilmu wajib atas setiap muslim (al-Jamiush Shagir 2: 44).

Baca Juga :  Ketika Jalanan Bercerita tentang Ekonomi Kalsel

Saking pentingnya keluar menuntut ilmu, dalam kondisi perang pun, kegiatan belajar mengajar tidak boleh ditinggalkan, sebagaimana ditegaskan dalam surat al-Taubah: l22. Asbab al-nuzul ayat ini, saat Rasul menyerukan perang, semua orang tua dan muda ingin terjun bertempur. Allah melarang dengan ayat ini dan menyuruh agar tetap ada orang yang pergi ke tempat lain atau tetap bertahan dalam kota untuk aktif belajar mengajar. Kalau dalam kondisi perang saja menuntut ilmu sangat dituntut, apalagi dalam kondisi relatif damai seperti sekarang.

Untuk menuntut ilmu pada umumnya orang harus berhijrah sementara secara fisik, sekian tahun sampai lulus sekolah, kuliah, beroleh ilmu dan skills. ijazah dan atau gelar kesarjanaan. Ini sudah dicontohkan, misalnya oleh ulama besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang rela meninggalkan tanah airnya, bahkan istrinya yang sedang hamil, untuk menuntut ilmu ke tanah suci selama puluhan tahun.

Bangsa yang maju pasti lebih dahulu memprioritaskan ilmu. Eropa dahulu juga belajar ke dunia Islam, sehingga peradaban Islam yang gemilang di zaman keemasan mampu mereka alih. Jepang era Restorasi Meiji di abad l8-l9 juga melakukan pengiriman warganya secara besar-besaran untuk menggali iptek ke barat, sehingga saat ini posisi mereka setara bahkan lebih mju dari barat. Malaysia di tahun l960-an juga banyak mengirim warganya ke Indonesia dan negara lain untuk belajar. Saat ini kita sudah ketinggalan kereta api jauh dari beberapa negara lain yang berhasil maju. Bahkan peringkat human development index bangsa kita saat ini sudah berada di bawah Vietnam. Ini semua karena bangsa kita lebih mengutamakan materi daripada ilmu. Akhirnya kesejahteraan materinya tidak tercapai, kehidupan tidak kunjung sejahtera, dan kualitasnya kedodoran. Hampir dipastikan kita akan kalah dalam persaingan antarbangsa.

Sesuai tuntutan surat al-Taubah l22, mestinya sehabis sekolah/kuliah, yang bersangkutan harus pulang kampung dan balik ke negerinya sendiri, hal mana juga sudah dicontohkan oleh Syekh Arsyad al-Banjari. Jangan bertahan di tempat ilmu itu digali, kecuali kalau sangat dbutuhkan.

Baca Juga :  Ketika Pekerjaan Tak Lagi Pasti, Mari Menimbang Ulang Peran Negara Dalam Menjamin Nafkah Rakyat

Patut disayangkan, karena sekarang para sarjana lebih banyak menumpuk di kota. Niat untuk mengabdi ke desa asal mereka kubur. Ini diperparah pula oleh kesalahan anggapan masyarakat desa, kalau pulang kampung belum bekerja sebagai sesuatu kegagalan. Padahal dengan ilmu yang diperoleh, alam desa bisa digali dan dikembangkan untuk usaha-usaha produktif sebagai lahan mempraktikkan ilmu dan skills yang diperoleh. Desa masih sangat kekurangan SDM, sehingga kehadiran para sarjana berbagaidisiplin ilmu sangat dibutuhkan.

Tapi agar ada daya tarik pulang kampung, masyarakat dan pemerintah daerah setempat mesti ikut mengupayakan, memfasilitasi dan memfungsikan para sarjana dan kalangan terdidik tersebut. Program Sarjana Pulang Kampung seperti dilaksanakan di masa Bupati Tapin H. Knach Noor Ajie, SH, MH (1993-2003), atau sekarang juga digiatkan oleh Bupati Tabalong Mohammad Rifani (2025-2030) sangat urgen. Dengan begitu para sarjana bisa menggali potensi desanya, mengabdi sekaligus mulai memberdayakan hidupnya ke depan.

Bagi sarjana yang enggan pulang kampung tapi juga terbentur bertahan di kota tempatnya sekolah, dapat pula berhijrah ke kota atau daerah lain. Siapa tahu nasib mujur lebih menjanjikan di kota lain. Saat Nabi dan kaum muslimin mau hijrah ke Makkah, sebagian juga ada yang pesimis dan takut kalau nasibnya akan lebih buruk. Lalu Allah menegaskan, sesungguhnya bumi yang Dia sediakan untuk makhluk-Nya itu amat luas. Ternyata setelah mereka hijrah, banyak yang justru hidup makmur dan mapan melebihi saat di Makkah.

Hadits yang menyuruh menuntut ilmu walau sampai ke negeri Cina, tidak otomatis harus pergi ke Cina. Karena orang Tionghoa sudah begitu banyak tersebar di Indonesia, maka cukup belajar ilmu kepada mereka, khususnya ilmu berbisnis, misalnya cara mereka berhemat, menjaga kualitas dan kuantitas barang, memelihara pelanggan dan sebagainya. Orang Tionghoa biasanya mengutamakan usaha daripada penampilan. Rumah dan mobil mereka biasa saja, tapi usahanya banyak, besar dan terus berkembang. Sementara kita rela berhutang demi penampilan.

Iklan
Iklan