Menyiapkan Rohani Selama Ramadan

Oleh : Ismail Wahid
Dosen dan Pemerhati Masalah Keagamaan

Kita sudah memasuki bulan Ramadhan. Bulan yang sangat mulia di sisi Allah SWT dan di mata umat Islam. Pasalnya, pada bulan ini diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Selain itu, pada bulan ini, setidaknya ada tiga kemuliaan yang bisa diraih, yaitu pertama rahmat Allah SWT, kedua pengampunan atas segala dosa dan yang ketiga pembebasan Allah dari api neraka. Ketiganya bisa diraih jika benar-benar mengisi bulan suci Ramadhan ini dengan melakukan perbuatan amal saleh. Bahkan, ganjaran berpuasa di bulan Ramadhan langsung berhubungan dengan Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Semua amal manusia miliknya, kecuali puasa. Sesungguhnya, ia (puasa) adalah milik-Ku, dan aku yang akan memberikan balasannya”. (Bukhari)

Hadits tersebut menunjukan bahwa begitu spesialnya bulan Ramadhan, karena ibadah puasa diakui oleh Allah SWT sebagai milik—Nya, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Begitu utamanya bulan Ramadhan, sampai-sampai Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa, “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan sampaikanlah kami dengan bulan Ramadhan”.

Dalam doa tersebut, tidak hanya meminta keberkahan bulan Rajab dan bulan Sya’ban, tetapi juga memohon diberi umur yang panjang, sehingga bisa bertemu dengan bulan Ramadhan. Maksud bertemu, tidak hanya menjumpai, seperti si Fulan bertemu dengan si Fulanah. Tetapi, ada aktivitas intens pada saat bertemu itu. Aktivitas intens tersebut adalah berkomunikasi, yakni mengisinya dengan amalan-amalan yang baik, yang menjadi wasilah untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Ada banyak cara untuk menyambut bulan Ramadhan. Salah satunya di daerah Jawa umpamanya ada istilah “pudusan”, ketika akan menyambut Ramadhan. Pudusan yang berarti mandi, membersihkan badan. Barangkali ulama Jawa waktu dahulu ingin mengajari umat Islam Jawa bahwa sebelum menunaikan puasa alangkah baiknya membersihkan diri atau mensucikan diri.

Memang yang pertama kali perlu ditata ketika menyambut Ramadhan adalah menyiapkan rohani. Mensucikan rohani, menata dan memurnikan niat hanya semata tertuju kepada Allah SWT. Misalnya, merasa senang akan datangnya bulan Ramadhan.

Berita Lainnya
1 dari 296

Namun rasa senang ini harus diteliti dahulu, apakah murni senang karena Allah SWT atau hanya sebab duniawi, misalnya dapat untung berlipat jika berjual macam-macam keperluan orang untuk berbuka puasa atau keperluan yang lain sebagainya.

Bulan Ramadhan memang bulan untuk berpuasa, menahan makan dan minum serta hal hal yang dapat membatalkan puasa. Namun kenyataannya, pada bulan ini, konsumsi malah meningkat. Kalau biasanya lewat jalan-jalan begitu sepi pedagang. Namun saat bulan puasa tiba, banyak aneka makanan dan minuman yang diperjual belikan, mulai dari gorengan, aneka minuman dan makanan, kurma serta aneka berbagai macam makanan lainnya. Tentunya, bagi para pedagang dan pengusaha jasa kuliner, bulan Ramadhan mendatangkan keuntungan finansial yang lebih besar dibandingkan dengan hari biasa. Lalu apakah salah berjualan pada bulan ini. Salahkah kita meraih

finansial yang lebih. Tidak salah. Sama sekali tidak salah. Hanya saja yang perlu diingat, jangan sampai hati juga ikut dalam hiruk pikuk duniawi. Berdagang dengan tujuan menyenangkan dan membantu orang-orang yang berpuasa tentu lebih baik. Jangan sampai mengotori hati untuk meraih ridha illahi di bulan yang suci hanya gara-gara ingin mendapatkan rupiah yang banyak.

Syekh Abdul Qadir menasihati untuk menyambut bulan Ramadhan dengan cara mensucikan diri dan bertobat dari dosa-dosa yang telah diperbuat di masa yang lalu. Anjuran ini sangat relevan. Bukankah saat akan bertemu dengan teman atau orang yang berkedudukan atau berpangkat, kita berdandan rapi, terlebih dahulu mandi. Dan sudah selayaknya jika berprilaku demikian ketika akan menyambut Ramadhan dengan menata hati dan mensucikan diri.

Menyucikan diri dengan cara ber muhasabah dan memohon ampunan kepada Allah SWT adalah cara yang tepat dalam menyiapkan rohani menyambut bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan. Harapannya, saat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan tidak semata kuantitas amalan yang diburu, tetapi juga kualitasnya. Jangan sampai sudah lelah berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa apa dari puasa tersebut. Hal ini pernah diingatkan Rasulullah SAW, bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Rsulullah SAW bersabda, “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apapun dari puasanya selain rasa lapar saja”. (Ahmad).

Puasa Ramadhan tidaklah sekedar menjalankan rukun Islam yang keempat. Puasa mengajarkan dan mendidik untuk menguasai jiwa dan nafsu. Puasa yang dalam bahasa Arab dibahasakan sebagai “shiyam” yang berarti menahan. Secara rohani, berarti menahan diri dari gejolak keinginan yang kelihatannya menyenangkan, namun kenyataannya menjerumuskan. Jika dahulu berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa,

seperti berkata kata jelek atau kasar, mengghibah, berbohong atau memfitnah orang, maka untuk saat ini, di era digital ini, tambahannya adalah menahan diri untuk menulis hal hal jelek di media sosial seperti dalam bentuk menyebar kebencian, menulis berita bohong, mencaci maki dan perbuatan jelek lainnya. Hal ini perlu diingatkan, karena dikhawatirkan ada anggapan bahwa yang dilarangkan berkata jelek, bukan menulis yang jelek-jelek. Pemahaman ini keliru, karena hanya memahami medianya dan caranya, bukan muatan esensinya. Dalam menyambut bulan Ramadhan ini, semoga bisa selamat dari akhlak yang buruk sehingga bisa menjalani ibadah dalam bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, jernih dan pikiran yang tenang yang pada akhir segala amal dan perbuatan di bulan Ramadhan akan diterima di sisi Allah dan kita akan mendapatkan keampunan dari Allah SWT. Aamiin.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya