Bumbu-Bumbu Media Sosial

Oleh : Mambang,M.Kom
Pemerhati Media

Maraknya penggunaan media sosial (medsos) di era digital saat ini menimbulkan sisi positif dan negatif. Maraknya hoaks (kabar bohong) dan disinformasi jika tidak disikapi sedini mungkin dapat mengancam keutuhan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia.

Dalam menggunakan dan menyentuh “Media Sosial”, diperlukan kematangan dan pengetahuan karena apa yang ada di media sosial masih perlu kita kaji, cermati dan kita analisa terkait konten dan informasi didalamnya.

Bijaksanalah dalam bermedia sosial karena masih ada dunia nyata, dunia yang sebenarnya kehidupan sosial manusia. Media Sosial memuat dunia bebas tanpa batasan yang berisi orang-orang dari dunia nyata. Setiap orang bisa jadi apapun dan siapapun di dunia maya. Seseorang bisa menjadi sangat berbeda kehidupannya antara didunia nyata dengan dunia maya.

Media Sosial menghapus batasan-batasan manusia untuk bersosialisasi, batasan ruang maupun waktu, dengan media sosial ini manusia dimungkinkan untuk berkomunikasi satu sama lain dimanapun mereka berada dan kapanpun, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka, dan tidak peduli senja atau pun ketika embun pagi menetes pada ujung-ujung daun.

Jari jemari kita seakan tak terpisah dengan sentuhan-sentuhan layar smarphone, berbagai macam aktivitas dapat dilakukan dengan media sosial seperti bisnis makanan, transfortasi, perumahan, dan masih banyak lagi aktivitas bermedia sosial lainnya dikeseharian kita.

Pesatnya perkembangan media sosial juga dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media sosial. Para pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan jaringan internet tanpa biaya yang besar dan dapat dilakukan sendiri dengan mudah. Para pengguna media sosial pun dapat dengan bebas berkomentar serta menyalurkan pendapatnya tanpa rasa khawatir. Hal ini dikarenakan dalam internet khususnya media sosial sangat mudah memalsukan jati diri atau melakukan kejahatan.

Mengutip dari allstars.id, Keriuhan’ media sosial bisa dibilang dimulai dari kemunculan situs bernama Six Degrees. Media Sosial ini bisa dibilang menjadi pionir karena konsep yang diusungnya kemudian banyak menginspirasi kemunculan Media Sosial lainnya. Media Sosial ini pertama kali diciptakan pada tahun 1997.

Nama Six Degrees sendiri didasarkan atas teori ‘Six Degrees of Separation’. Situs ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Facebook yang sekarang lebih banyak dikenal. Six Degrees mengizinkan pengguna mengunggah foto profil dan mencari teman baru lewat internet. Sebelum adanya Six Degrees, Tahun 1980-an, mulai ada Internet Relay Chat (IRC) dan berlanjut semakin populer hingga 1990, sehingga komputer sudah menjadi hal yang umum dan media sosial jadi sangat digemari dari dekade ke dekade selanjutnya.

Berita Lainnya

UMKM Online Bukan Sekadar Tren

KESENJANGAN TATA RUANG DAN TATA WILAYAH

1 dari 354

Mengekor setelah Six Degrees situs-situs lainnya seperti MySpace dan LinkedIn menjadi terkenal di awal tahun 2000-an. Begitu pula situs seperti Photobucket dan Flickr yang memfasilitasi untuk berbagi foto secara online. Tahun 2005 YouTube hadir dengan cara baru bagi orang-orang untuk berkomunikasi dan berbagi satu sama lain dalam jarak yang sangat jauh.

Facebook dan Twitter menyusul pada tahun berikutnya dan seketika menjadi populer jumlah pengguna aktif bulanan (monthly active user/MAU) sebanyak 2,7 miliar pengguna per 25 Januari 2021 dikutip dari databoks.katadata.co.id. We Are Social, perusahaan media asal Inggris melaporkan hasil risetnya terkait pola pemakaian media sosial di sejumlah negara termasuk di Indonesia. Hasil yang tentunya menjadi perhatian kita semua, dimana rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial. Dalam laporan tersebut juga merilis ari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Artinya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia setara dengan 61,8 persen dari total populasi pada Januari 2021.

Pekan ini tentunya menjadi pekan yang unik dan menggelitik masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya. Viralnya kata kunci atau password untuk melewati sebuah jembatan yang baru selesai di bangun menarik buasnya netizen untuk dapat berpartisipasi pada gelaran viralnya suatu keadaan.

Konten-konten tandingan dengan semangat lucu-lucuan dan sindiran menghiasi jagat media sosial. Fenomena yang terjadi saat ini, tentunya harus cepat menjadi perhatian pemerintah daerah agar viralnya suatu kejadian yang terjadi di media sosial tersebut jangan sampai mengganggu kehidupan sosial masyarakat.

Klarifikasi dari pihak-pihak terkait tentunya dapat menurunkan sentimen negatif dari suatu kejadian yang terjadi. Kegaduhan media sosial yang berlangsung secara terus menerus mengundang keprihatinan kita bersama, karena saat ini kita tidak hanya dihadapkan dengan pesatnya transformasi digital yang merupakan peralihan teknologi saja, tapi juga aspek lain seperti transformasi kognitif, perilaku, dan emosi. Untuk itu, kita semua harus bisa berpikir, mengambil tindakan, dan bereaksi secara berbeda mengikuti perputaran waktu.

Perkembangan teknologi digital dengan salah satu produknya media sosial dengan dinamika yang dinamis serta merta akan mempengaruhi tatanan perilaku masyarakat.

Banjirnya informasi dan data yang saat ini berlangsung, memberikan ruang publik yang begitu luas bagi masyarakat memperoleh informasi dan memberikan pendapatnya secara bebas, sehingga terjadinya pro dan kontra terhadap berbagai isu dengan kecenderungan polarisasi pendapat yang begitu kuat di masyarakat.

Media Sosial memiliki dampak besar pada kehidupan kita saat ini. Seseorang yang asalnya “kecil” bisa seketika menjadi besar dengan Media Sosial, begitupun sebaliknya orang “besar” dalam sedetik bisa menjadi “kecil” dengan Media Sosial.

Gunakanlah media sosial dengan bijaksana, karena keindahan makna hidup tentunya ada pada kehidupan nyata dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya