Krisis Air Baku, PDAM Harus Bangun Embung

Berita Lainnya
1 dari 4

BANJARMASIN, KP – PDAM Bandarmasih berencana membangun embung untuk mengantisipasi krisis air baku. Hal ini penting karena, salah satu sumber air baku seperti menghilangnya air yang secara tiba-tiba tak bisa diprediksi membuktikan ancaman krisis sehingga sesuai rencana bisnis kedepan PDAM harus mewujudkan pembangunan embung.
“Kedepan Air baku adalah permasalahan utama, bermacam sebab terjadi penurunan kualitas air baku dan sebagainya. Salah satunya air berwarna hijau karena kadar oksigen di air menurun, sehingga pembangunan embung meski pelan harus diwujudkan,” ujar Direktur Operasional PDAM Bandarmasih, H Supian MT kepada awak media, Senin (06/09).
Disisi lain sumber air baku yang dikelola PDAM Bandarmasih pun sangat terbatas lantaran kualitas dan perubahan iklim. Oleh karena itu, perusahaan flat merah tersebut membutuhkan sarana dan prasarana pengelolaan air baku untuk jangka panjang dengan mewujudkan pembangunan embung.
Jadi, katanya, pembangunan embung salah satunya solusi antisipasi jangka panjang dalam menekan krisis air baku.“Jadi air sungai ditarik didalam kolam, diperbaiki kualitasnya sebelum masuk ke pengelohan. Kalau dari sungai langsung ke pengelohan, sistem kita lambat laun tidak akan mampu,” ucapnya.
Khusus untuk pembangunan embung sekarang sudah mulai dilakukan pembebasan lahan untuk mendirikan embung sudah dilakukan. Namun rencana bisnis tersebut tidak berlangsung mulus. Kerana PDAM harus berhadapan dengan berbagai kendala, sehingga gagal membuat embung air baku.
Supian menyebut bahwa sumber pembiayaan pihaknya sangat terbatas untuk membangun embung. Sebab dalam mendirikan suatu rencana proyek tidak membutuhkan dana yang sedikit, sehingga harus dilakukan perencanaan matang.
Apalagi sejak terhitung 2015 tidak adanya penyertaan modal dari pemerintah dari yang masuk ke PDAM Bandarmasih, sehingga sejak itu juga PDAM tak bisa mengembangan pembangunan dan sampai sekarang masih terbatas pergantian pipa dan boleh dibilang rutinites karena kondidi keuangan PDAM sendiri memang belum mampu berinvetasi ditambah penyertaan modal dari pusat juga belum ada.
Selain itu, Supian mengatakan bahwa upaya penyesuaian tarif air ke pelanggan ditengah pendemo ini tak memungkinkan dilakukan. Selain waktu kurang tepat karena masih dalam pandemi sehingga jangka pendek yang dilakukan masih terbatas melakukan efesiensi dengan menekan cost yang tinggi.
“Mungkin kurangnya daya bagi PDAM melakukan investasi dan saat ini PDAM tidak mampu melakukan menjadi PR bersama karena PDAM merupakan perusahaan milik pemerintah yang bergerak di bilang layanan air bersih sehingga diharapkan pemilik membijaksanai bagiamana usaha PDAM bisa ekses kembali,” imbuhnya.
Kemudian, menurut Supian, yang bisa dilaksanakan hanyalah beberapa program skala prioritas dengan dana terbatas. Salah satunya rehabilitas jaringan pipa yang disalurkan ke pelanggan sejak beberapa tahun terakhir. Hal ini untuk mempertahankan pelayanan air bersih ke pelanggan.
Selanjutntnya, kata Supian, sehubungan banyak pipa berusia sangat tua sehingga mengharuskan untuk diganti maupun ditambal. Rinciannya sekitar 30% pipa yang dimiliki PDAM Bandarmasih berusia diatas 30 tahun.“Biaya pengantian cukup besar, sementara kemampuan kami sangat terbatas,’’ demikian Direktur Operasional H Supian MT. (vin/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya