Lingkungan Belajar Anak dalam Keluarga

Oleh : MHD. Natsir Yunas
Dosen Jurusan PLS FIP UNP Padang

Keluarga merupakan lingkungan belajar terkecil dan utama bagi anak. Dalam keluargalah anak mendapatkan pengalaman belajar yang akan diterapkannya di lingkungan sosial yang lebih luas. Ketika pengalaman belajar yang didapatkan dalam lingkungan keluarga adalah nilai-nilai kebaikan, maka nilai ini akan memotivasi perilaku anak untuk selalu berbuat baik. Sebaliknya tindakan tidak baik yang dilakukan anak, cenderung didasari pengalaman belajarnya yang tidak baik dalam lingkungan keluarga. Sehingga dalam hal ini, menjadi sangat penting bagi orang tua menyiapkan dan menjaga lingkungan keluarga sebagai tempat terbaik bagi anak mendapatkan pembelajaran yang dapat mengarahkannya menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa siap bersikap baik dan menyebarkan kebaikan pada masyarakat sekitarnya.

Pandemi yang belum sepenuhnya berakhir menjadi momentum bagi para orangtua untuk menyiapkan lingkungan belajar dalam keluarga. Lingkungan yang dapat meningkatkan peran keluarga dalam pembentukan karakter anak sebagai individu yang siap memberikan kontribusi bagi masyakatnya. Bukan hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulum dengan mendampingi anak dalam belajar daring. Kondisi ekonomi keluarga yang terdampak pandemi tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak memberikan perhatian yang lebih pada pembelajaran nilai baik dalam keluarga. Apapun kondisinya, lingkungan keluarga harus mampu memberikan pembelajaran yang baik bagi anak.

Oleh sebab itu, dalam kondisi seperti ini penting bagi kita untuk menjadikan keluarga sebagai lingkungan belajar terbaik bagi anak. Menjadikan rumah tempat belajar yang nyaman bagi anak. Untuk mewujudkan hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan para orangtua. Pertama, memahami peran orangtua sebagai teladan dalam keluarga. Anak akan mencontoh orang terdekat dengan mereka. Figur terbaik yang pertama yang dilihat anak dalam proses perkembangannya adalah orangtua. Oleh sebab itu orangtua haruslah menampilkan perilaku baik yang dapat dicontoh oleh anak. Menyelesaikan masalah tanpa harus marah, memberikan pembelajaran pada anak tanpa harus memberikan tekanan yang berlebihan. Orangtua menjadi cermin bagi anak untuk bersikap dan meniru semua perilaku baik yang menjadi kebiasaan dari orangtuanya.

Kedua, mengintensifkan komunikasi dalam keluarga. Keluarga yang baik dapat dilihat dari komunikasi yang dibangun dalam keluarga tersebut. Orangtua harus mampu menjaga lingkungan belajar yang baik dengan menjalin komunikasi intensif antar anggota keluarga. Tidak ada ceritanya orangtua yang tidak mengetahui masalah dari anaknya. Komunikasi haruslah dijalin dengan baik dan memberikan ketenangan dalam keluarga. Jangan samapai dalam satu keluarga ada anggota keluarga yang tidak saling tegur sapa. Baik itu orangtua, anak dengan saudara-saudaranya, apalagi anak dengan orangtuanya.

Komunikasi yang dibangun adalah komunikasi harmonis yang selalu menebarkan kebaikan dalam setiap intinsesitas komunikasi yang dilakukan. Kesibukan dari masing-masing dalam keluarga tidak boleh mengurangi intensitas komunikasi. Komunikasi haruslah semakin diintensifkan, agar terwujud ikatan emosional yang baik antar anggota keluarga.

Berita Lainnya

Isu Terorisme : Berulang Menstigma Islam

Kapitalisme Produksi Anak Durhaka

1 dari 383

Kondisi pandemi seperti saat ini jangan sampai hubungan komunikasi antara anak dengan orangtua dikalahkan oleh gadget. Ketergantungan yang berlebihan dari masing-masing anggota keluarga terhadap gadget jangan sampai menghilangkan kepedulian dan kesempatan untuk berkomunikasi dengan keluarga. Karenanya berbagai upaya untuk mewujudkan komunikasi efektif dalam keluarga menjadi penting untuk dilakukan. Kalau tidak hati-hati, maka kondisi saat ini bisa saja memicu pertengkaran dalam keluarga dan merusak suasana belajar di rumah. Sehingga komunikasi intensif dan efektif diharapkan akan menjadikan suasana belajar menjadi lebih nyaman.

Ketiga, bersikap solutif terhadap masalah yang muncul. Menyelesaikan setiap masalah yang muncul tanpa harus membesarkan masalah dengan hanya fokus pada siapa yang bersalah. Sekecil apapun masalah akan merusak suasana belajar dalam keluarga. Terkadang masalah itu tidak selesai bukan karena beratnya masalah, tetapi disebabkan salah dalam menyikapi masalah yang muncul. Sehingga masalah yang tadinya kecil bias berubah menjadi besar, karena dibiarkan dan tidak segera dicarikan solusinya.

Keempat, meningkatkan kerjasama dalam keluarga. Lingkungan belajar yang baik bagi anak di rumah tidak bisa diwujudkan tanpa adanya kerjasama seluruh anggota keluarga. Setiap individu bertanggung jawab dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan belajar yang baik baik anak. Sekecil apapun itu akan menjadikan suasana belajar menjadi nyaman. Keterlibatan semua anggota keluarga akan menjadikan keutuhan keluarga dan memberikan pengaruh terhadap terciptanya keluarga yang harmonis. Sehingga kerjasama tidak hanya berimbas kepada lingkungan belajar dan kepentingan pendidikan anak. Tetapi juga terhadap utuhnya rumah tangga sebagaimana yang diimpikan setiap keluarga.

Tugas dan tanggungjawab masing-masing harus dijalankan dengan baik. Seorang ayah, tidak bisa menyerahkan seluruh tanggung jawab mendampingi anak dalam belajar kepada istrinya. Karena keterlibatan ayah dalam mendampingi anak belajar juga memberikan motivasi yang berbeda terhadap anak. Terkadang ini terasa berat, namun ketika saling kerjasama bisa diwujudkan yang muncul adalah saling pengertian dan menjadikan lingkungan keluarga terasa nyaman sebagai tempat belajar anak.

Kelima, setiap individu harus berupaya menjadi teladan dalam keluarga. Teladan tidak hanya milik orangtua, tetapi berbagai perilaku baik yang dilakukan anak juga bisa diteladani. Nilai positif itu tidak selamanya harus datang dari orangtua. Anak dengan usianya yang masih muda juga bisa dicontoh berbagai perbuatan positifnya. Memperlihatkan perilaku-perilaku yang baik dan positif, sehingga bisa menjadi contoh bagi anggota keluarga yang lainnya. Semua anggota berlomba untuk memberikan contoh yang baik. Sehingga menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak dalam keluarga.

Kondisi sulit seperti ini hanya bisa dilalui oleh keluarga yang kuat dan siap. Mengeluh dan menyalahkan orang lain dalam hal ini tidak akan mengubah kondisi keluarga. Kita tentu tidak ingin keluarga semakin melemah baik secara ekonomi, terlebih lagi secara psikologis. Tentu saja dalam hal ini kekuatan ekonomi dan psikologis keluarga haruslah dikuatkan dalam menghadapi situasi sulit seperti saat ini. Namun wabah pandemi ini tidak boleh mengurangi perhatian terhadap pendidikan dan masa depan anak.

Semoga bisa mewujudkan dan menjaga lingkungan belajar yang baik bagi anak dalam keluarga. Menjadikan mereka nyaman dalam belajar dan bisa mewujudkan cita-citanya di tengah keterbatasan proses belajar selama pandemi ini.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya