Menanti Peran Negara Selamatkan Rakyat dari Virus Pelangi

Oleh : Afifah, S.Pd
Praktisi Pendidikan

Akhir-akhir ini kampanye kaum pelangi (LGBT) makin intensif. Bahkan, atas nama pengakuan terhadap kebebasan dan penciptaan lingkungan inklusif berbagai pihak diantaranya ada aktifis, korporasi/MNC, politisi, dll condong mendukung LGBT. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan mengungkapkan ada lima fraksi di DPR RI yang dianggap “menyetujui perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT)”. (https://kumparan.com).

Dalam kegiatan Tanwir I Aisyiyah di Surabaya, Sabtu (20/1), Zulkifli mengungkapkan bahwa terdapat lima partai yang tengah membahas rancangan Undang-Undang mengenai LGBT.

“Saat ini di DPR sedang dibahas soal Undang-Undang LGBT atau pernikahan sesama jenis. Sudah ada lima partai politik menyetujui LGBT,” kata Zulkifli seperti dilansir Antara.

Selain itu, Unilever juga mendukung terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+) meski menuai kecaman di dunia maya. Unilever, perusahaan yang berbasis di Amsterdam, Belanda, pada 19 Juni lalu resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LGBTQ+. Hal tersebut disampaikan melalui akun Instagram.

“Kami berkomitmen untuk membuat rekan LGBTQ+ bangga karena kami bersama mereka. Karena itu, kami mengambil aksi dengan menandatangani Declaration of Amsterdam untuk memastikan setiap orang memiliki akses secara inklusif ke tempat kerja,” kata Unilever. Unilever juga membuka kesempatan bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian dari koalisi global. Selain itu, Unilever meminta Stonewall, lembaga amal untuk LGBT, untuk mengaudit kebijakan dan tolok ukur bagaimana Unilever melanjutkan aksi ini.

Mengapa Terjadi?

Penyimpangan seksual seperti ini terjadi karena gaya hidup liar yang diajarkan dalam sistem sekularisme-liberalisme yang diterapkan sekarang. Menurut sistem ini perilaku seks bebas seperti zina dan lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender adalah boleh karena merupakan hak asasi manusia (HAM) dan bagian dari kebebasan individu yang harus dihormati dan dijaga oleh negara. Bahkan di beberapa negara kapitalis sekuler perkawinan sesama jenis bagi kaum LGBT sudah dilegalkan.

Di negeri kita sendiri, dengan pengesahan UU TP-KS dan Permendikbud PPKS Nomor 30 tahun 2021, condong mendukung terhadap kaum LGBT. Kedua regulasi di atas membuka pintu legalisasi perilaku LGBT, karenanya kampanye LGBT di media sebagaimana dilakukan oleh selebritas sebagai pelaku maupun pendukung LGBT harus ditentang keras.

Hal itu karena tindakan LGBT ini dilihat dari aspek apapun berbahaya bagi masyarakat dan generasi. Dalam aspek kesehatan, tindakan tersebut bisa menyebabkan menyebarnya penyakit kelamin seperti sifilis, ghonorea (kencing nanah), dan HIV/AIDs. Dalam aspek pendidikan virus pelangi ini merusak moral generasi yang sudah dididik dan dibina oleh para pendidik. Dalam aspek sosial dan hukum tindakan ini merusak norma sosial dan bertentangan dengan norma hukum agama (Islam).

Strategi Hentikan LGBT

Berita Lainnya
1 dari 543
loading...

Perilaku kaum pelangi yakni lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender hukumnya haram dalam Islam. Tak hanya itu, semua perbuatan haram itu sekaligus dinilai sebagai tindak kejahatan/kriminal (al-jarimah) yang harus dihukum.

Lesbianisme dalam kitab-kitab fiqih disebut dengan istilah as-sahaaq atau al-musahaqah. Definisinya adalah hubungan seksual yang terjadi di antara sesama wanita. Tak ada khilafiyah di kalangan fuqaha bahwa lesbianisme hukumnya haram. Lesbianisme menurut Imam Dzahabi merupakan dosa besar (al-kaba`ir). Namun hukuman untuk lesbianisme tidak seperti hukuman zina, melainkan hukuman ta’zir, yaitu hukuman yang tidak dijelaskan oleh sebuah nash khusus. Jenis dan kadar hukumannya diserahkan kepada qadhi (hakim). Ta’zir ini bentuknya bisa berupa hukuman cambuk, penjara, publikasi (tasyhir), dan sebagainya.

Homoseksual dikenal dengan istilah liwath. Imam Ibnu Qudamah mengatakan bahwa telah sepakat (ijma’) seluruh ulama mengenai haramnya homoseksual (ajma’a ahlul ‘ilmi ‘ala tahrim al-liwaath). Sabda Nabi SAW, “Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth”. (HR Ahmad, no 3908). Hukuman untuk homoseks adalah hukuman mati, tak ada khilafiyah di antara para fuqoha khususnya para shahabat Nabi SAW seperti dinyatakan oleh Qadhi Iyadh dalam kitabnya Al-Syifa. Sabda Nabi SAW, "Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah keduanya". (HR Al Khamsah, kecuali an-Nasai).

Hanya saja para sahabat Nabi SAW berbeda pendapat mengenai teknis hukuman mati untuk gay. Menurut Ali bin Thalib RA, kaum gay harus dibakar dengan api. Menurut Ibnu Abbas RA, harus dicari dulu bangunan tertinggi di suatu tempat, lalu jatuhkan gay dengan kepala di bawah, dan setelah sampai di tanah lempari dia dengan batu. Menurut Umar bin Khaththab RA dan Utsman bin Affan RA, gay dihukum mati dengan cara ditimpakan dinding tembok padanya sampai mati. Memang para shahabat Nabi SAW berbeda pendapat tentang caranya, namun semuanya sepakat gay wajib dihukum mati.

Biseksual adalah perbuatan zina jika dilakukan dengan lain jenis. Jika dilakukan dengan sesama jenis, tergolong homoseksual jika dilakukan di antara sesama laki-laki, dan tergolong lesbianisme jika dilakukan di antara sesama wanita. Semuanya perbuatan maksiat dan haram, tak ada satu pun yang dihalalkan dalam Islam.

Hukumannya disesuaikan dengan faktanya. Jika tergolong zina, hukumnya rajam (dilempar batu sampai mati) jika pelakunya muhshan (sudah menikah) dan dicambuk seratus kali jika pelakunya bukan muhshan. Jika tergolong homoseksual, hukumannya hukuman mati. Jika tergolong lesbianisne, hukumannya ta’zir.

Transgender adalah perbuatan menyerupai lain jenis. Baik dalam berbicara, berbusana, maupun dalam berbuat, termasuk dalam aktivitas seksual. Islam mengharamkan perbuatan menyerupai lain jenis sesuai hadits bahwa Nabi SAW mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita dan mengutuk wanita yang menyerupai laki-laki. (HR Ahmad, 1/227 & 339).

Hukumannya, jika sekedar berbicara atau berbusana menyerupai lawan jenis, adalah diusir dari pemukiman atau perkampungan. Nabi SAW telah mengutuk orang-orang waria (mukhannats) dari kalangan laki-laki dan orang-orang tomboy (mutarajjilat) dari kalangan perempuan. Nabi SAW berkata, “Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian.” (akhrijuuhum min buyutikum).

Jika transgender melakukan hubungan seksual maka hukumannya disesuaikan dengan faktanya. Jika hubungan seksual terjadi di antara sesama laki-laki, maka dijatuhkan hukuman homoseksual. Jika terjadi di antara sesama wanita, dijatuhkan hukuman lesbianisme. Jika hubungan seksual dilakukan dengan lain jenis, dijatuhkan hukuman zina.

Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender adalah perbuatan yang diharamkan Islam, sekaligus merupakan tindakan kriminal dan berbahaya yang harus dihukum tegas.

Negara harus melakukan penggecaran sosialisasi tentang bahaya seks bebas/perilaku Lesbi Gay Biseksual Transgender (LGBT) melalui media massa maupun media audio visual, yang semua itu dilakukan dengan harapan dapat menghindarkan masyarakat dari tertular tindakan virus tersebut. Pemerintah juga wajib menerapkan syari’ah Islam dalam menindak tegas dan memberikan keputusan hukum bagi para pelaku zina utamanya pelaku seks bebas dan LGBT. Penutupan tempat tempat pelacuran atau lokalisasi dan tempat tempat praktik para penzina, penerapan hukuman cambuk, pengasingan dan rajam, bukanlah sebuah tindakan melanggar HAM, tapi justru tindakan penyelamatan bagi masyarakat.

Sudah seharusnya upaya menuntaskan seks bebas dan LGBT ini mutlak perlu peran negara dengan penerapan syariat Islam dan sistem hukum yang tegas. Fenomena seperti ini hanya bisa dihentikan oleh peran tegas negara menurut Islam untuk menegaskan Islam sebagai standar benar dan salah (halal-haram) bagi pemikiran dan perilaku individu/masyarakat juga diterapkan dalam tatanan kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara. Wallahu a’lam

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya