Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Dehumanisasi Muslim Palestina Makin Mengerikan, Apa Langkah Nyata Kaum Muslim?

×

Dehumanisasi Muslim Palestina Makin Mengerikan, Apa Langkah Nyata Kaum Muslim?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dhiya
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Genosida tehadap warga Palestina tidak semakin mereda, justru semakin menjadi. Sejak Oktober 2023 hingga saat ini Israel telah membunuh lebih dari 72.612 warga Palestina dan melukai 172.457 orang serta menghancurkan jalur Gaza. Korban terus bertambah dari hari ke hari meski di tengah gencatan senjata. Sejak serangan tahun 2023 lebih dari 6.600 orang membutuhkan perawatan prostetik dan rehabilitasi, ribuan orang telah menjalani amputasi, termasuk anak-anak (Tempo, 5/5/26). Selain itu, Kepala HAM PBB, Volker Turk, menyatakan bahwa perang yang sampai saat ini masih terjadi di Gaza telah menjadi jebakan maut bagi media. OHCHR memverifikasi kematian jurnalis mencapai angka 300 orang sejak Oktober 2023 ketika Zionis Israel mulai meluncurkan agresi, di luar dari itu banyak junalis yang mengalami luka selama meliput (antara.com, 4/5/26).

Kalimantan Post

Kebiadaban Israel benar-benar melewati batas kemanusiaan. Berita tragis terus berseliweran di beranda media. Mereka membunuh tanpa pandang bulu. Tentara Israel mengungkapkan otoritas militer telah memerintahkan pasukan untuk membunuh setiap pria yang mereka temui di Gaza selama genosida yang dimulai pada tahun 2023. Tidak ada batasan usia untuk dibunuh. Seorang tentara Israel mengatakan bahwa pasukan diajari untuk memandang siapapun sebagai ancaman (Republika.co.id,10/05/26).

Penderitaan warga Palestina semakin menjadi meski telah berkali-kali dilakukan gencatan senjata, nyatanya Israel terus ingkar janji dan bertindak brutal. Keberanian Israel tentu bukan karena semata kemampuan mereka, tapi backingan AS yang begitu besar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Israel adalah penerima bantuan luar negeri AS terbesar sepanjang sejarah. Jaffar dan Musaeva mencatat bahwa bantuan militer AS kepada Israel mencapai 3,8 miliar dolar AS selama konflik Oktober 2023 – September 2024. Akumulasi bantuan AS kepada Israel sejak 1949 mencapai 317,9 miliar dolar AS. Pada tahun fiskal 2026, Trump menandatangani anggaran pertahanan yang dialokasikan lebih dari 4 miliar dolar AS untuk keamanan Israel. Diluar paket tahunan, AS secara teratur menyetujui penjualan militer darurat. Selain dari gelontoran dana yang fantastis, AS selalu memberi perlindungan diplomatis tehadap Israel. Di PBB saja, lebih dari setengah hak veto AS digunakan hanya untuk melindungi Israel. Pada Maret 2026, AS secara resmi mengajukan “deklarasi intervensi” di Mahkamah internasional (ICJ) ketika Afrika Selatan mengajukan gugatan genosida terhadap Israel (MUIDigital, 23/03/26).

Baca Juga :  Urbanisasi Meningkat, Ancam Perekonomian Desa

Tidak mengherankan Israel menjadi tak terkendali sebab tangan negara adidaya setia melindunginya. Mereka juga tidak segan untuk menargetkan para jurnalis untuk dihabisi agar dapat membukam media dari dunia tentang apa yang sebenarnya terjadi di Palestina. Sayangnya puluhan negeri muslim justru ikut bungkam, bahkan memilih untuk menjadi teman. Sebut saja Abraham Accords, perjanjian yang membuat negeri-negeri muslim seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan menormalisasi hubungan dengan Israel.

Kaum muslim harus bersatu dan punya sikap tegas. Sebab puluhan ribu nyawa kaum muslim telah melayang. Padahal Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada pembunuhan terhadap seorang muslim tanpa hak” (HR. Ibnu Majah no. 2619, Nasai 3987, Turmudzi 1455).

Pendudukan Palestina oleh zionis mulai terjadi ketika kaum muslim terpecah akibat lemahnya ikatan aqidah mereka. Kita bisa belajar dari sejarah kemenangan Shalahuddin Al Ayyubi dalam melawan pasukan salib. Strategi politik yang digunakan beliau adalah menyatukan kaum muslim, mulai dari Mesir, Suriah dan Irak yang pada saat itu merupakan bagian dari wilayah Islam. Ditambah lagi beliau juga membangun aliansi dengan penguasa muslim lainnya dan memperkuat basis kekuasaan (Aulady Aghist dkk, 2025).

Saat ini Palestina bukan sekedar menghadapi tentara zionis Israel, tapi mereka sedang menghadapi kekuatan negara adidaya yang berdiri di balik panggung genosida. Maka tidak akan pernah seimbang kekuatan mereka. Hanya kesatuan kaum muslim di bawah panji Islam yang bisa membuat keangkuhan AS runtuh dan kebiadaban Israel berhenti atas izin Allah. Maka agenda besar kaum muslim hari ini adalah menyatukan kaum muslim, memahamkan kaum muslim pentingnya persatuan dan terus mempelajari Islam untuk membangun kekuatan, tidak mencukupkan diri dengan boikot, apalagi mengecam. Sebab Palestina perlu kekuatan besar kaum muslim sebagaimana dulu kaum muslim kuat di bawah komando Shalahudin Al Ayyubi.

Iklan
Iklan