Dialog Lintas Agama : Pilar Utama Perdamaian

Oleh : Ali Mursyid Azisi
Pemerhati Keagamaan

Kebebasan Beragama

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama. Dengan masyarakatnya yang multikultural, perbedaan merupakan keniscayaan yang tidak dapat diingkari, terlebih mengenai kepercayaan. Kebebasan dalam memeluk agama di Indonesia dalam tulisan Febri Handayani (2009) bertajuk “Konsep Kebebasan Beragama Menurut UUD 1945 Serta Kaitannya Dengan HAM”, dilindungi oleh UUD 1945 Pasal 28E, 28I dan pasal 29. Pemerintah juga mengakui enam agama resmi di Indonesia, diantaranya: Hindu, Katholik, Islam, Budha, Konghucu, dan Protestan.

Upaya menyampaikan perasaan, gagasan dan pemikiran, tidak lepas dari yang namanya dialog. Dengan adanya dialog, tentu dapat membuka wawasan keterbukaan antar individu, individu-kelompok, dan kelompok-kelompok/komunitas. Dengan begitu, akan terjalin hubungan/komunikasi yang baik dan bisa saling dimengerti.

Namun, praktiknya di Indonesia yang disampaikan oleh Luluk Fikri Zuhriyah dalam tulisannya “Dakwah Inklusif Nurcholis Madjid”, kerap kali terjadi perselisihan, konflik keagamaan, dan supremasi (merasa paling unggul), eksklusif (tertutup) dan cenderung ekstrim. Dari berbagai masalah tersebut, sangat penting menanamkan sikap damai dengan cara berdialog lintas iman/agama.

Era kini, dialog antar iman atau antar agama (Interfaith dialogue) merupakan fenomena paling impresif dan penting dalam perkembangan perihal agama di abad post-modern atau abad dua puluh satu. Hal ini banyak diperbincangkan dalam praktik keseharian di tengah masyarakat dan menjadi topik kontemporer baik itu dalam dunia akademik, maupun non-akademik.

Maka dari itu adanya interaksi secara massif antar penganut agama yang begitu beragam dan adanya kehidupan yang bersifat terbuka akibat berkembangnya teknologi informasi, serta kian maraknya aksi saling menyalahkan mengakibatkan rasa ingin tahu yang tinggi menganai doktrin agama lain.

Keharusan Berdialog

Berita Lainnya

Mengenal Bus Ramah Difabel di Solo

1 dari 569
loading...

Dalam tulisan Media Zainul Bahri yang bertajuk “Dialog Antar Iman dan Kerjasama Demi Hamoni Bumi”, Kardinal Jean-Louis Taurant (Presiden Pontifical Council for Intrreligious Dialogue) PCID, pada 2009 ketika berkunjung ke Indonesia menyatakan dialog antar agama/iman tidak hanya sebatas pilihan, namun sudah menjadi kebutuhan hidup dalam menentukan masa depan kemanusiaan. Taurant dalam hal ini mengajak para pemeluk agama untuk tetap berpegang teguh pada agamanya, namun juga perlu mengenali dan menghargai agama lain.

Islam memandang hal ini, keterbukaan dalam berdialog terutama menjadi pilar utama dalam menjalin hubungan harmonis, baik antar agama maupun sesama muslim. Dialog interaktif, komunikatif, dan menrumuskan pola kerjasama antar agama, menjadi titik awal muslim membangun pondasi saling membangun perdamaian tanpa adanya sekat agama. Sikap berani berdiaog dengan damai dan tanpa saling mengunggulkan diri bahwa ajaran yang dianut paling benar, merupakan ruh Islam sendiri sebagai agama kasih sayang, dan agama cinta.

Bahkan Ummu Sumbulah dan Nurjannah (2013) dalam bukunya “Pluralisme Agama: Makna dan Lokalitas Pola Kerukunan Antarumat Beragama”, bahwa al-Qur’an dan hadits begitu mewajibkan seorang muslim untuk senantiasa saling menghormati hak tetangga, tanpa memandang perbedaan kepercayaan/agama. Bahkan terdapat pula ayat yang menyatakan tentang kebebasan dalam memeluk agama.

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, sesungguhnya jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat (Islam) yang tidak akan putus, dan All/tah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256).

“Andaikan Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan umat yang satu, Dan (tetapi) mereka senantiasa berbeda” (QS. Hud : 118).

Kutipan ayat di atas mengindikasikan bahwa Islam menghargai perbedaan dan melarang seseorang untuk memeluk Islam. Dengan membangun dialog antar iman/agama dengan damai dan saling mempercayai satu sama lain, nantinya akan melahirkan generasi (Islam) yang lebih terbuka (inklusif), saling menghargai, menghormati, menerima perbedaan (toleransi), dan tidak sekedar menghormati dalam tanda kutip tidak mengganggu kehidupan antar agama, melainkan mempercayai kebenaran agama lain dengan tetap berpegang teguh kepada ajaran (Islam) sendiri.

Bahkan bapak perdamaian di Indonesia (KH. Abdurrahman Wahid) atau kerap disapa Gus Dur pernah berkata “Jangan memandang siapapun dalam hal tolong menolong, jika kamu berperilaku baik maka seseorang tidak akan pernah tanya apa agamamu”. Pernyataan tersebut juga sebagai pegangan dalam berkomunikasi/berdialog yang hanya tidak sekedar berupa ucapan, akan tetapi juga sangat perlu diimplementasikan dalam praktik kehidupan beragama.

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa membangun dialog lintas agama/iman merupakan hal yang sangat penting dalam keberlangsung kehidupan rukun khususnya di Indonesia. Dengan mengedepankan sikap saling percaya dalam berdialog tanpa memandang latar belakang agama menjadikan seseorang lebih memiliki pandangan lebih terbuka, toleran, dan pluralisme. Dengan begitu konsep Rahmatan lil ‘alamin (bersikap baik/rahmah kepada seluruh alam) terealisasi sebagai pegangan seorang muslim yang damai, bukan cerai (penuh konflik, perpecahan, takfiri, dan hal yang serupa).

Meskipun berbeda keyakinan, saling memupuk tali perdamaian begitu urgent untuk bersama dipegang teguh agar menciptakan peradaban yang berkualitas, dan menjadi kiblat negara lain dalam menerapkan pola pikir beragama yang sehat, sesuai kaidah dan perintah Sang Maha Rahman dan Rahim.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya