Sistem Pendidikan Islam Mencetak Generasi Bermental Kokoh

Oleh : Nor Aniyah, S.Pd
Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi

Dilansir dari situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tema Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022 adalah “Make Mental Health for All a Global Priority”, atau menjadikan kesehatan mental untuk semua sebagai prioritas global. WHO melaporkan kesehatan mental adalah salah satu bidang kesehatan masyarakat yang paling terabaikan. Hampir satu miliar orang di dunia memiliki gangguan kesehatan mental. Sekitar tiga juta orang lainnya meninggalkan setiap tahun akibat penggunaan alkohol yang berbahaya dan satu orang meninggal setiap 40 detik karena bunuh diri. (kompas.com).

Sementara di dalam negeri, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza mengatakan bahwa prevalensi orang Indonesia dengan gangguan jiwa pada tahun 2021, sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20 persen populasi di Indonesia mempunyai potensi-potensi masalah gangguan jiwa jiwa. (sehatnegeriku.kemkes.go.id). Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masalah kesehatan mental telah menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di tengah-tengah masyarakat, baik di tingkat global maupun nasional. Sebenarnya keberadaan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang ada sejak 1992 ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme gagal dalam mengatur kehidupan. Sehingga menciptakan manusia-manusia bermental rapuh. Sistem kapitalisme dengan asasnya sekularisme yang memisahkan agama dari kehidu
pan membuat banyak orang termasuk kaum muslimin, tidak memahami tujuan hidupnya.

Masyarakat sekuler merasa bahwa hidup ini hanyalah mencari kesenangan dunia yang berstandar pada materi. Sehingga ketika materi, yakni harta, jabatan, prestis tidak mampu digapai masyarakat merasa gagal dan akan disingkirkan dari hiruk pikuk kehidupan. Maka cepat atau lambat banyak orang yang akan mengalami depresi dan putus harapan. Begitu pun ketika ditimpa ujian atau kesulitan hidup masyarakat sekuler tidak akan mampu menanganinya dengan cara yang benar, justru memilih bunuh diri.

Selain itu, sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme yang diadopsi negara ini telah melegalkan aturan dibuat oleh manusia yang serba terbatas dan sarat akan kepentingan. Penguasa membuat kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat, namun menguntungkan golongannya dann elit kapital. Kehidupan rakyat semakin sempit di tengah naiknya harga-harga kebutuhan hidup, PHK massal terjadi di mana-mana, tiada jaminan dari negara bagi rakyat.

Rakyat seakan dibiarkan sendirian menghadapi kesulitan hidup. Penguasa dalam sistem kapitalisme hanya bertindak sebagai regulator kebijakan, bukan pelayan umat. Maka, tidak heran meski berpuluh-puluh tahun Hari Kesehatan Mental diperingati justru isu kesehatan mental semakin merajalela. Karena sistem kapitalismelah yang merupakan pabrik penyakit mental itu sendiri.

Berita Lainnya
1 dari 695
loading...

Gangguan mental pun makin banyak terjadi di tengah masyarakat. Ada banyak faktor penyebabnya, baik faktor internal maupun eksternal termasuk lingkungan dan corak pembangunan yang kapitalistik. Ini sekaligus menunjukkan bahwa ada sesuatu problematik yang tengah menimpa umat. Inilah dampak penerapan sistem kapitalisme yang merusak yang diadopsi oleh negara-negara di penjuru dunia saat ini. Oleh karena itu, sejatinya umat membutuhkan solusi sistemik pula.

Sejatinya pangkal dari persoalan ini adalah sistem sekular kapitalisme yang ada di tengah-tengah masyarakat. Rakyat pun harus menghadapi kenyataan pahit, saat mereka hidup di dalam naungan sistem sekuler kapitalisme. Kebijakan pemerintah lebih banyak menguntungkan para oligarki ketimbang rakyat banyak. Efek domino ekonomi kapitalistik pun langsung berdampak pada harga-harga kebutuhan pokok dan makanan yang dibutuhkan rakyat. Di tengah kondisi tersebut justru disikapi pemerintah dengan mengambil kebijakan yang justru membuat rakyat semakin bertambah sulit.

Hal itu tentu berbeda dengan negara yang menerapkan Islam secara sempurna, yakni negara Khilafah. Karena hanya Islam satu-satunya agama dan sistem hidup yang lurus sesuai fitrah penciptaan, menyejahterakan dan mampu mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Pemimpin dalam Islam akan benar-benar memposisikan diri sebagai raa’in (pengurus urusan rakyat) dan bertanggung jawab. Karena ia yakin dan menyadari betul bahwa kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Pemimpin adalah pihak yang berkewajiban memelihara urusan rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus”. (HR Muslim).

Khilafah melalui sistem pendidikan Islam berbasis akidah mampu mencetak orang-orang yang bermental kuat dan berjiwa pemimpin. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk syakhsiyyah Islamiyyah (kepribadian Islam) dan mencetak para ahli, baik ahli ilmu agama maupun ahli ilmu terapan. Pembentukan kepribadian Islam akan membuat masyarakat memiliki keimanan kokoh dan senantiasa terikat dengan syariat Islam. Maka, masyarakat yang terbentuk adalah orang-orang shalih dan menstandarkan kebahagiaan kepada ridha Allah semata.

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Sehingga negara Khilafah bertanggung jawab mewujudkan pendidikan terbaik yang mudah diakses setiap rakyatnya. Dalam Kitab Muqaddimah ad-Dustur (Undang-undang Dasar Negara Islam) pasal 173 disebutkan “Negara wajib menyelenggarakan pendidikan berdasarkan apa yang dibutuhkan manusia di dalam kancah kehidupan bagi setiap individu baik laki-laki maupun perempuan dalam dua jenjang pendidikan, yakni jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menengah. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga negara secara cuma-cuma mereka diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara cuma-cuma.”

Berjalannya sistem pendidikan yang demikian tentu harus disokong sistem ekonomi yang kuat. Khilafah akan menerapkan sistem ekonomi Islam berbasis baitul mal. Sehingga mendapatkan sumber-sumber pemasukan negara bagi pembiayaan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Biaya pendidikan akan diambil dari pengelolaan kepemilikan umum dan kepemilikan negara, yakni fai’ dan kharaj. Inilah gambaran sistem Islam yang mampu mencetak generasi cemerlang bermental kokoh selama tiga belas abad lamanya. Hanya dengan penerapan sistem Islam rakyat akan sejahtera, senantiasa dalam ketaatan, dan bahagia hakiki.

Biodata Penulis:
Nor Aniyah, S.Pd, berdomisili di Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Saat ini menjadi pembina Komunitas Generasi Sm4RT n Sy4R’i (GSS) dan aktif dalam Komunitas “Nulis Produktif.” Penulis bisa dikontak lewat email: [email protected]

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya