Warga Kelayan Dilaporkan Terkait Investasi Minyak Goreng Rp 1,5 M

Untuk uang yang diinvestasikan oleh terlapor itu sudah habis, bahkan terlapor masih menyisakan utang sebesar Rp 80 juta

BANJARMASIN, KP – M Firdaus alias Daus warga Jalan Kelayan A Gang 12, Kecamatan Banjarmasin Selatan dilaporkan H Safrudin warga Pemurus Dalam, Kecamatan Banjarmasin Timur ke Satuan Reskrim Polresta Banjarmasin atas dugaan penipuan dan penggelapan investasi minyak goreng.

Dalam laporan yang dibuat, korban mengaku mengalami kerugian mencapai Rp 1,5 miliar.

Kuasa hukum korban, Ahmad Mujahid Zarkasi mengatakan, dugaan penggelapan berawal ketika kliennya H Safrudin ditawarkan oleh terlapor untuk melakukan investasi di penjualan minyak goreng pada bulan Agustus tahun 2021.

Dimana korban dijanjikan keuntungan yang besar dan membuat korban tertarik untuk melakukan investasi tersebut.

Pada bulan September 2021, korban pun melakukan investasi kepada terlapor sebesar Rp 1,5 miliar, dengan kontrak selama satu tahun sampai dengan bulan September 2022.

“Selama 6 bulan pertama usaha tersebut berjalan dengan lancar dan korban pun meraih keuntungan kurang lebih sebesar Rp 50 juta per bulannya,” jelas Mujahid.

Dikatakan kuasa hukum korban, korban dan terlapor memiliki perjanjian kalau hasil keuntungan dari penjualan minyak goreng tersebut dibagi 2, setengah untuk korban dan setengahnya lagi untuk terlapor.

“Untuk terlapor sendiri bisa dibilang sebagai perantara antara korban dengan pabrik distributor minyak goreng CV Sumber Rejeki yang ada di Sragen, Jawa Tengah. Untuk terlapor ini memang memiliki ikatan kerja sama dengan dengan pabrik tersebut, oleh sebab itu klien kami mau berinvestasi,” katanya.

Namun, tambahnya, pada bulan Maret 2022, ada kebijakan pemerintah penjualan harga minyak goreng tidak boleh melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Berita Lainnya
1 dari 1.765
loading...

Hal tersebut, membuat usaha tersebut tidak dapat berjalan lagi, lantaran harga beli minyak goreng di pabrik sudah melebihi dari HET.

Oleh sebab itu, lanjut Mujahid, korban pun mencoba menanyakan terkait uang yang diinvestasikan kepada terlapor.

“Dari sini gelagat korban mulai mencurigakan dan tidak ada memberikan kejelasan terkait uang investasi tersebut,” kata Mujahid.

Bahkan, si terlapor ini juga mengatakan, kalau pabrik tersebut juga sudah bangkrut.

Melihat hal tersebut, tutur Mujahid, pihaknya bersama korban pun langsung mengunjungi pabrik tersebut untuk mencari tahu kejelasannya.

Sesampainya di pabrik tersebut, ternyata pabrik tersebut masih berjalan dengan baik. Sementara untuk uang yang diinvestasikan oleh terlapor itu sudah habis, bahkan terlapor pun masih menyisakan utang sebesar Rp 80 juta.

Mendengar hal tersebut, ia pun langsung menanyakan hal tersebut, kepada terlapor dan terlapor pun mengakuinya.

Dimana, terlapor pun sempat menjanjikan untuk membayar uang investasi tersebut dengan cara dicicil sebesar Rp 200 juta, namun nyatanya tidak ada pembayaran hingga saat ini.

Usut punya usut, ternyata yang menjadi korban dari terlapor ini tidak hanya H Safruddin saja, tetapi juga masih banyak lagi yang lainnya.

“Yang lain juga ada yang kena tipu, ada yang Rp 200 juta, ada yang Rp 350 juta dan masih ada yang lainnya lagi,” ungkap Mujahid. (yul/K-4)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya