Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Menyelenggarakan Pembelajaran Matematika yang Menarik dan Menyenangkan

×

Menyelenggarakan Pembelajaran Matematika yang Menarik dan Menyenangkan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Norma S.Pd., M.Pd
Guru Matematika di SMA Negeri 6 Banjarmasin

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran penting. Tidak heran jika mulai dari tingkat SD hingga SMA, matematika selalu mendapatkan porsi yang besar dibandingkan mata pelajaran lainnya. Matematika juga memberikan banyak manfaat bagi siswa sekolah. Penelitian yang dilakukan oleh Dr Taya Evans dari Stanford University menyimpulkan bahwa mempelajari matematika sangat baik untuk otak manusia. Dalam penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa orang yang mempelajari matematika memiliki volume gray matter yang lebih banyak sehingga mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan.

Matematika juga membantu siswa untuk berpikir analitis serta mengasah kemampuan menalar. Kedua skill ini sangat penting karena dapat membantu siswa untuk memecahkan masalah dan mencari solusi atas berbagai persoalan.

Meski demikian, banyak anak sekolah di Indonesia justru tidak menyukai matematika. Pelajaran ini bahkan menjadi momok yang ditakuti oleh sebagian anak. Ternyata, ketidaksukaan murid terhadap pelajaran matematika dilatarbelakangi oleh berbagai hal. Berikut ini adalah sebagian contohnya :

1. Tidak punya dasar yang kuat. Masalah ini menjadi alasan banyak murid yang tidak menyukai matematika. Lantaran tidak menguasai dasar-dasar matematika, murid menjadi semakin kebingungan ketika naik kelas dan melanjutkan pelajaran matematikanya ke tingkat yang lebih sulit. Kenapa ada murid yang tidak menguasai dasar matematika? Salah satu alasannya karena guru cenderung menggunakan tolak ukur kemampuan mayoritas dalam menguasai pelajaran. Satu atau dua anak yang tidak mampu mengikuti kecepatan belajar rata-rata anak di suatu kelas biasanya akan tertinggal;

2. Trauma. Murid bisa trauma karena tekanan atau gagal memenuhi ekspektasi guru maupun orang tua. Pengalaman traumatis juga bisa disebabkan karena suatu kejadian yang membuat murid malu;

Baca Juga:  DMO Migor Curah : Efektif untuk Stabilkan Harga?

3. Hubungan guru dan murid yang tidak harmonis. Banyak pengajar matematika di sekolah mendapat label killer, kaku dan sulit berkomunikasi. Dalam kondisi di mana hubungan guru dan murid tidak harmonis, maka transformasi ilmu menjadi lebih sulit untuk dilakukan;

4. Butuh mengingat banyak rumus. Banyak peserta didik tidak menyukai matematika karena kesulitan untuk menghafal banyak rumus dan persamaan yang ada;

5. Metode belajar yang membosankan. Banyak murid kesulitan belajar matematika karena kehilangan motivasi. Matematika dianggap membosankan karena murid tidak dapat menemukan relevansi antara matematika dengan hal-hal nyata dalam kehidupan sehari-hari;

6. Kompetensi guru. Jika guru tidak memiliki pengetahuan yang cukup terhadap suatu mata pelajaran, maka dia akan kesulitan untuk mengajar orang lain agar memahaminya. Minimnya minat dan keterbatasan dalam komunikasi juga dapat menyebabkan murid kesulitan belajar matematika.

Setelah mengetahui sekian masalah yang menyebabkan peserta didik tidak menyukai matematika, solusi apa yang bisa ditawarkan guru selaku agen pembelajaran? Kebanyakan alasannya adalah pola pikir yang terlanjur keliru mengenai matematika, maka dari itu ada baiknya untuk mengubah pola pikir peserta didik dari yang semula menilai matematika sebagai pelajaran membosankan, rumit dan tidak relevan menjadi mata pelajaran yang menyenangkan dan disukai.

Untuk mengubah pola pikir tersebut, tentu saja pendidik harus mengubah strategi dan metode mengajar yang lebih fun. Nah, berikut ini merupakan sejumlah metode mengajar matematika yang bisa diterapkan :

1. Berdiskusi atau mengobrol santai. Jika biasanya kelas matematika didominasi oleh penjelasan mengenai soal dan cara pemecahannya, tidak ada salahnya melakukan diskusi mengenai matematika. Obrolan mengenai matematika dapat membantu murid mempelajari pengetahuan baru dan membentuk cara berpikirnya. Melibatkan murid dalam obrolan di mana mereka dapat menjelaskan cara mereka memecahkan soal. Tujuannya bukan untuk mendapatkan jawaban benar atau salah, melainkan untuk mengenai sejauh mana pemahaman matematika peserta didik. Jika ternyata dasar-dasar pemahaman matematika murid belum kuat, di situlah kesempatan guru untuk memperbaiki;

Baca Juga:  BLT Berbelit Turunkan Kepercayaan Publik

2. Menghubungkan matematika dengan hobi. Korelasikan matematika dengan dunia yang disenangi murid atau hobi mereka, seperti musik, olahraga dan seni;

3. Membuat personalisasi belajar. Berikan kesempatan pada peserta didik untuk memilih cara yang mereka suka saat belajar matematika dan kecepatan yang paling sesuai dengan kemampuan mereka. Jika terdapat jarak yang cukup jauh antara seorang anak dengan rata-rata murid di kelas, berikan dia materi dan soal yang berbeda. Di sini kesempatan guru untuk memperbaiki atau memperkuat dasar-dasar matematika seorang anak dengan memberikan perhatian khusus. Setelah kepercayaan dirinya bangkit, dan murid mulai menguasai pelajaran, secara perlahan guru bisa mengurangi perhatiannya dan menaikkan level pelajarannya;

4. Menggunakan teknologi. Gunakan teknologi untuk memancing murid terlibat dalam Pembelajaran. Teknologi merupakan motivator terbaik bagi banyak murid, terlebih yang lahir di era gadget dan internet. Cobalah memanfaatkan video, aplikasi, program hingga website untuk berlatih matematika;

5. Bermain game edukatif. Ada juga berbagai game edukasi matematika yang bisa Anda pilih untuk merangsang ketertarikan peserta didik. Mulai dari game yang berbayar hingga gratis dapat dimanfaatkan untuk merangsang murid mencintai matematika, terlebih bagi mereka yang menggandrungi video games. 

Banyak sekolah yang mengadopsi game dalam pembelajaran matematika mendapatkan berbagai keuntungan seperti :

1. Murid yang tertarik dengan game edukasi lebih fokus dengan perangkat belajarnya dan perilaku negatif seperti ngobrol, berjalan-jalan di kelas dan kegiatan mengganggu lainnya berkurang;

2. Karena pekerjaan rumah diberikan dalam bentuk game edukasi, jumlah murid yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah sangat jauh berkurang;

3. Kemampuan matematika murid berkembang dengan pesat.

Iklan
Iklan