Oleh: DEVI
Serangan penjajah Israel dengan sekutunya Amerika Serikat ke Palestina yang telah berlangsung sejak Oktober 2023 merupakan preseden buruk bagi umat manusia di abad ini sehingga tepat mereka telah melakukan dan terus melakukan tindakan genosida. Data yang dihimpun badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), akumulasi jumlah warga Palestina di Jalur Gaza yang tewas akibat serangan Israel sampai 17 September 2025 mencapai 65 ribu orang. Korban jiwanya terdiri atas 27,6 ribu laki-laki, 9,7 ribu perempuan, 18,4 ribu anak-anak, dan 4,4 ribu orang lanjut usia (databoks, 23/09/25). PBB menaksir bahwa 83% struktur bangunan dan area pemukiman di Kota Gaza dalam kondisi rusak (theconversation.com, 271025).
Kekejian Israel dan sekutunya didukung dengan senjata yang sangat canggih dengan kemampuan genosida yang mengerikan menunjukkan kebiadaban modern dan tak berperikemanusiaan; mulai dari senapan mesin Negev 7,62 milimeter, yang mampu menembus bangunan, peluru kendali Holit dan Yated untuk menghantam kendaraan lapis baja dan target presisi di dalam gedung, Iron Sting memiliki berat 17 kilogram (37 pon) dan beroperasi dengan navigasi laser dan GPS (hidayatullah.com, 190224). Tanpa ada sedikitpun keinginan menurunkan ekskalasi jajahannya hingga mereka diyakini menggunakan senjata termal dan termobarik untuk membunuh ribuan warga di Jalur Gaza, Palestina (cnnindonesia.com,20260214).
Senjata yang dilarang secara internasional akan membuat jasad seolah menguap atau hilang tanpa jejak sebagaimana laporan investigasi Al Jazeera berjudul “The Rest of the Story”, setidaknya ada 2.842 warga Palestina yang hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Ahli militer Rusia, Vasily Fatigarov menjelaskan, senjata termobarik tidak hanya membunuh, tetapi juga melenyapkan materi. Tidak seperti bahan peledak konvensional, senjata ini menyebarkan gumpalan awan bahan bakar yang menciptakan bola api luar biasa besar dan efek vakum.
“Untuk memperpanjang waktu pembakaran, bubuk aluminium, magnesium, dan titanium ditambahkan ke dalam campuran kimia. Ini meningkatkan suhu ledakan hingga antara 2.500 sampai 3.000 derajat Celsius,” kata Fatigarov ((cnnindonesia.com,20260214).
Gempuran dan serangan menggunakan senjata modern yang dilarang internasional oleh penjajah Israel menyasar warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Meski dunia tahu hal ini adalah pelanggaran HAM, namun tak ada yang mampu menghentikan. Kerusakan yang dilakukan melampaui batas dan harus dihentikan hanya dengan jihad oleh tentara kaum muslimin. Memerangi Israel yang telah membantai kaum muslimin adalah wajib.
Tidak boleh ada upaya untuk berdamai, mengalah, apalagi memberikan jalan bagi Israel untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin misal melalaui Board of Peace (BoP)” atau “Dewan Perdamaian”. Dewan ini dipromosikan sebagai “jalan damai” bagi konflik G4z4. BoP diinisiasi dan dipimpin oleh gembong penjajah, yakni Amerika Serikat (AS), di bawah Donald Trump. BoP sejak awal dikendalikan oleh negara-negara penjajah. Amerika dan sekutunya menjadi aktor utama. Negara-negara Muslim hanya dijadikan pelengkap legitimasi. Ini bukan pola baru. Dalam sejarah kolonialisme, penjajah selalu membentuk dewan, mandat atau otoritas internasional. Semua bertujuan sama: mengamankan kepentingan penjajah.
Hukum jihad harus dipahami dan diterapkan. Hal ini membutuhkan kesatuan kekuatan kaum muslimin seluruh dunia. Tegaknya kepemimpinan Islam sangat dibutuhkan untuk menyatukan kekuatan kaum muslimin seluruh dunia. Karena itu, perjuangan menegakkan sistem Islam dan kepemimpinan Islam sangat penting.












