Indeks Ekonomi Hijau Kalsel 36,26 GEI

Banjarmasin, KP – Kepala Bappeda Provinsi Kalimantan Selatan, Dr. Ariadi Noor mengangkat fakta nilai Indeks Ekonomi Hijau Kalsel sebesar 36,26 GEI yang menempatkan bumi Lambung Mangkurat masuk dalam peringkat ke 36 atau terendah setelah Jawa Tengah, Lampung dan Nusa Tenggara Barat.

Sementara Kalimantan Utara menempati rangking pertama dengan nilai GEI 65,49 dan disusul Papua Barat dengan nilai 64,68 GEI diperingkat kedua.

Hal ini terungkap pada Seminar Internasional dengan tema “Advancing Green Initiatives for The Sustainable Kalimantan through Action and Collaboration” Kamis (7/9) di salah satu Hotel di Banjarmasin diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel bekerjasama dengan Pemprov.

Ariadi mengakui fakta jujur tersebut perlu diangkat agar potensi dan strategi pembangunan hijau di Kalimantan Selatan mendapat perhatian dan dukungan penuh dari berbagai kalangan, bukan hanya oleh pimpinan daerah dan satuan kerja perangkat daerah se-Kalsel, instansi vertikal dan kementrian terkait diaspora Indonesia, akademisi dan mahasiswa; pelaku usaha dan praktisi asosiasi, media massa dan warga Kalsel.

Berita Lainnya
1 dari 3,085

Menanggapi tersebut, Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalsel, Wahyu Pratomo menyampaikan pihaknya terdorong untuk segera melakukan langkah nyata untuk menjaring ide dan pemikiran dengan menghadirkan para mengundang para pakar dan praktisi bukan hanya dari Kalsel namun narasumber nasional serta negara Malaysia dan Brazil baik secara daring maupun tatap muka.

Dari seminar diharapkan dapat memperkaya wawasan untuk mengidentifikasi langkah prioritas, peluang dan tantangan percepatan ekonomi hijau, serta potensi investasi ekonomi hijau yang didukung oleh pembiayaan hijau, untuk dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan.

Kondisi Kalsel saat ini, menjadi perhatian Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Him Haourn mengingat pentingnya pulau Kalimantan dalam isu strategis pembangunan hijau berkelanjutan kawasan ASEAN.

Dalam pidato yang disampaikan secara virtual, Kao Him Haourn menyatakan bahwa kerangka pembangunan berkelanjutan tidak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi sudah dilakukan tingkat ASEAN. Urgensi peningkatan kesadaran dan kolaborasi berbagai pihak di Kalimantan sangat diperlukan dalam mewujudkan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. (rz/K-2)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya