Kapal Sapu-Sapu yang biasanya menjadi andalan, justru tidak kelihatan
BANJARMASIN, KP – Kepala Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang) Kota Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah menjawab soal menghilangnya Kapal Sapu-Sapu dalam mengatasi pampangan atau tumpukan material sampah di bawah Jembatan 9 November.
“Kemaren karena ketinggian air, kapal kada kawa lewat” kata Suri Sudarmadiyah
Pantauan KP, Rabu pagi (17/01/2024), pembersihan pampangan dibawah jembatan beraksesoris 11 milyar rupiah ini dilakukan dengan cara manual oleh pasukan turbo.
Menggunakan galah bambu, Pasukan Turbo mengurai dan mendorong tumpukan sampah hingga bisa dilewati angkutan sungai.
Kapal Sapu-Sapu yang biasanya menjadi andalan, justru tidak kelihatan.
Ditemui usai Apel Bela Negara dan Kesadaran Nasional KORPRI di Halaman Balaikota Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah mengatakan penyebab Kapal Sapu – Sapu tidak melakukan pembersihan pampangan karena tinggi muka air.
Kapal yang disewa Pemko Banjarmasin ini tidak bisa melewati bawah jembatan.
“Air pasang sungai Martapura sangat tinggi, sehingga Kapal Sapu – Sapu tidak bisa lewat dibawah jembatan, santuk lah sehingga harus menunggu dulu sampai muka air turun” kata Suri Sudarmadiyah.
Menurutnya pampangan ini merupakan kejadian rutin kalau terjadi banjir di wilayah Hulu Sungai Martapura.
Untuk pembersihan ini, PUPR tidak bisa bergerak sendiri, perlu koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai 3 Kalimantan dan Provinsi Kalimantan Selatan.
“Secara manual hari ini sudah jalan, sedikit demi sedikit, targetnya hari ini bisa diselesaikan pampangan” sebut Suri Sudarmadiyah.
Suri Sudarmadiyah juga membantah menghilangnya Kapal Sapu-Sapu sebagai dampak refocusing anggaran.
“Untuk sifatnya pemeliharaan rutin, penanggulangan darurat, itu harus tetap kita jaga, karena itu yang harus bisa dilakukan segera, untuk anggarannya kita selalu konsultasikan dengan TAPD, yang mana menjadi skala prioritas” tutup Suri Sudarmadiyah. (mar/K-3)















