Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

BERTEMAN ORANG TAKWA

×

BERTEMAN ORANG TAKWA

Sebarkan artikel ini

Oleh : H AHDIAT GAZALI RAHMAN

Dalam menjalin pertemanan atau persahabatan, umat muslim miliki seorang teladan yang sangat mulia. Beliau adalah baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat pandai dalam bergaul. Dengan keahliannya, Beliau mampu melembutkan hati para kaum Quraish dan berhasil mengajak mereka mengikuti dakwahnya. Dalam riwayatnya beliau juga memiliki sikap yang ramah, rendah hati, dan beliau juga tidak pernah mencela orang lain. Dan sebagai umatnya hendaknya mencontohi apa yang telah dilakukan beliau.

Kita harus mengakui salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada ummat manusia dengan menjadikan manusia sebagai makhluk sosial. Yakni manusia yang tak mampu hidup sendiri manusia memerlukan manusia lain untuk mengharungi hidup ini, hikmah yang dapat diambil dari kejadian itu adalah bahwa manusia harus menjalin hubungan dengan manusia lain, manusia harus saling menjalin ukhwah atau hubungan yang erat dengan manusia lain. Berteman dengan orang baik, kita harus melakukan seleksi, terhadap manusia yang akan kita jadikan teman, apakah dia seorang muslim yang taat, kelompok orang dzalim, kelompok yang menentang terhadap ajaran Islam, orang kafir dan sebutan lainnya.

Agar dapat melakukan seleksi yang benar dalam rangkan memilih teman yang takwa, maka ada baik mengetahui bagaimana seorang muslim yang takwa itu? Apa perilakunya?

Secara etimologi, takwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. Kata “waqa” juga bermakna melindungi sesuatu, yakni melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Sedangkan secara istilah, takwa adalah sikap seorang hamba kepada Allah SWT dengan melaksanakan semua perintah Allah, men jauhi larangannya, dan menjaga diri agar terhindari dari api neraka atau murka Allah. takwa juga dapat ditunjukkan dengan adanya kemampuan dalam untuk membedakan antara hal-hal yang baik dan buruk ataupun yang benar dengan yang batil.

Baca Juga:  Kenali Diri dan Tunjukkan Potensimu

Ciri-ciri dari orang yang bertakwa adalah sebagai berikut : 1. Beriman pada yang ghaib. Beriman pada yang ghaib, yakni seperti malaikat, takdir dan ketetapan Allah, sebagaimana firman Allah SWT, “Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat”. (QS. Al Baqarah : 3-4); 2. Mendirikan salat. Allah memerintahkan kepada manusia untuk beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya. Nabi Muhammad SAW bahkan menyatakan bahwa amalan yang pertama nanti akan dihisab (dihitung) di hari kiamat adalah salat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”. (HR Muslim); 3. Mengeluarkan hartanya di Jalan Allah. Perlu dipahami bahwa sebagian rezeki yang diterima sesungguhnya bukan milik kita sepenuhnya. Tapi milik orang lain, yaitu milik mereka yang dhu’afa, fakir miskin, anak-anak yatim, untuk perjuangan di jalan Allah, dan yang membutuhkan pertolongan lainnya. Seorang yang bertakwa harus menyadari hal itu sepenuhnya, dengan hal itu ia akan dengan ringan untuk menginfakan sebagian hartanya bagi mereka yang membutuhkan; 4. Beriman kepada kitab-kitab Allah. Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu Al-Qur’an, serta kitab-kitab sebelumnya yang diwahyukan kepada Nabi-Nabi sebelum Rasulullah SAW. Percaya dengan beriman kepada al-Qur’an, kita juga percaya terhadap segala isi dan kandungan yang ada di dalamnya berupa penjelasan-penjelasan, perintah-perintah dan larangan-larangan dari Allah SWT. Bagi orang yang bertakwa, Al-Qur’an adalah landasan hidup dan pedoman dasar serta sumber segala sumber hukum sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan ini; 5. Dapat Menahan Amarah. Sikap hati-hati dan waspada agar terhindar dari perbuatan dosa. Salah satu cara agar terhindar dari perbuatan dosa adalah dengan cara mengendalikan diri dari sikap-sikap yang cenderung merusak seperti marah; 6. Mengerjakan kebaikan. Orang yang benar-benar baik. Baik dari sisi Allah maupun sesama manusia. pasti selalu melakukan kebaikan. Dimanapun keberadaannya pasti akan senantiasa melakukan kebaikan. tidak suka dengan perbuatan kemungkaran yang bisa menimbulkan kemudaratan.

Iklan
Iklan