Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Ketika dunia larut dalam euforia Piala Dunia 2026, miliaran orang bersatu dalam satu bahasa: sepak bola. Stadion bergemuruh oleh sorak-sorai, layar televisi dipenuhi analisis pertandingan, dan media sosial dibanjiri perdebatan tentang siapa yang paling layak menjadi juara. Namun, di saat yang hampir bersamaan, umat Islam memasuki Tahun Baru Hijriah—sebuah momentum yang sesungguhnya mengajak manusia untuk berhenti sejenak dan bertanya: ke mana arah perjalanan hidup kita?
Di tengah gegap gempita itu, ada satu bentuk hijrah yang sering kali luput dari perhatian, padahal dampaknya menentukan masa depan individu maupun bangsa. Hijrah itu adalah membaca. Sebab sesungguhnya, membaca adalah hijrah yang tak pernah usai.
Hijrah bukan hanya perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebodohan menuju pengetahuan, dari prasangka menuju pemahaman, dari kemalasan berpikir menuju kebiasaan belajar. Dan setiap kali seseorang membuka buku, membaca artikel yang bermutu, atau mendalami sebuah gagasan dengan sungguh-sungguh, pada saat itulah ia sedang melakukan perjalanan hijrah.
Perjalanan itu tidak memiliki garis akhir. Tidak ada manusia yang selesai belajar. Tidak ada bangsa yang dapat bertahan hanya dengan pengetahuan masa lalu. Dunia terus berubah, teknologi terus berkembang, tantangan terus berganti, sehingga membaca menjadi proses yang harus dilakukan sepanjang hayat.
Ironisnya, di era digital justru semakin banyak orang merasa tidak perlu membaca secara mendalam. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Ringkasan beredar di mana-mana. Video berdurasi satu menit dianggap cukup untuk memahami persoalan yang sesungguhnya sangat kompleks. Akibatnya, masyarakat menjadi cepat mengetahui, tetapi lambat memahami.
Budaya ini melahirkan paradoks. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi sering mengalami kekeringan kebijaksanaan. Kita lebih mudah mengingat skor pertandingan daripada memahami persoalan bangsa. Kita hafal nama pencetak gol terbanyak, tetapi tidak mengenal gagasan-gagasan besar yang dapat membawa Indonesia keluar dari berbagai tantangan.
Padahal, keberhasilan di lapangan hijau sendiri lahir dari proses belajar yang panjang. Tidak ada pemain hebat yang hanya mengandalkan bakat. Mereka mempelajari lawan, menganalisis strategi, mengevaluasi kesalahan, dan terus berlatih tanpa henti. Pelatih menghabiskan waktu membaca data pertandingan, mempelajari pola permainan, bahkan memahami aspek psikologis pemain. Di balik satu gol yang memukau, terdapat ribuan jam belajar yang tidak pernah disaksikan penonton.
Hal yang sama berlaku bagi sebuah bangsa. Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya karena memiliki sumber daya alam yang melimpah atau jumlah penduduk yang besar. Kemajuan lahir ketika masyarakatnya memiliki budaya belajar yang kuat. Negara yang unggul bukanlah negara yang paling banyak berbicara, melainkan negara yang paling banyak membaca, meneliti, dan menghasilkan pengetahuan.
Momentum 1 Muharram mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara berpikir. Dan perubahan cara berpikir hampir selalu diawali oleh aktivitas membaca. Tidak mengherankan jika wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah Iqra’—bacalah. Sebuah pesan yang menegaskan bahwa ilmu adalah fondasi peradaban.
Namun membaca di era sekarang tidak cukup dimaknai sebagai mengeja huruf demi huruf. Membaca berarti melatih kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, memahami konteks, dan menghubungkan berbagai pengetahuan untuk melahirkan solusi. Ketika media sosial dipenuhi kabar yang belum tentu benar, membaca menjadi benteng agar masyarakat tidak mudah terprovokasi. Ketika kecerdasan buatan mampu menghasilkan ribuan informasi dalam hitungan detik, membaca dengan kritis menjadi cara memastikan bahwa manusia tetap menjadi pengendali, bukan sekadar pengikut algoritma.
Di sinilah pentingnya hijrah literasi. Kita perlu berhijrah dari budaya membaca judul menuju membaca isi, dari membagikan informasi menuju memeriksa kebenaran, dari sekadar menjadi konsumen konten menuju pencipta gagasan. Hijrah semacam ini mungkin tidak terlihat spektakuler, tetapi justru memiliki dampak yang paling tahan lama.
Perpustakaan menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan tersebut. Ia bukan lagi sekadar bangunan yang menyimpan buku, melainkan rumah bagi rasa ingin tahu. Perpustakaan adalah tempat di mana seseorang dapat memulai hijrah intelektualnya, menemukan perspektif baru, dan memperluas cakrawala berpikir. Di sana, setiap halaman yang dibuka sesungguhnya adalah langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar.
Peran pustakawan pun semakin relevan. Di tengah melimpahnya informasi, pustakawan hadir sebagai penjaga kualitas pengetahuan, membantu masyarakat menemukan sumber yang dapat dipercaya, sekaligus menumbuhkan budaya belajar yang berkelanjutan. Mereka tidak hanya mengelola koleksi, tetapi juga merawat nalar publik.
Hijrah membaca juga perlu dimulai dari rumah. Ketika orang tua menyediakan waktu untuk membaca bersama anak, mereka sedang menanamkan kebiasaan yang mungkin baru akan berbuah puluhan tahun kemudian. Ketika guru mengajak murid berdiskusi tentang buku, mereka sedang membentuk generasi yang tidak mudah diperdaya oleh hoaks dan propaganda. Ketika komunitas menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, mereka sedang membangun fondasi masyarakat yang lebih cerdas dan toleran.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, persaingan tenaga kerja yang semakin ketat, serta perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat, kemampuan terbesar yang harus dimiliki manusia adalah kemampuan untuk terus belajar. Mereka yang berhenti membaca akan tertinggal, bukan karena kurang cerdas, tetapi karena enggan memperbarui pengetahuannya.
Piala Dunia akan berakhir. Trofi akan diangkat oleh satu tim. Sorak-sorai perlahan mereda, dan perhatian dunia akan beralih pada peristiwa lain. Namun perjalanan membaca tidak mengenal peluit akhir. Ia terus berlangsung selama manusia ingin bertumbuh. Setiap buku yang dibaca membuka pintu menuju pemahaman baru. Setiap pemahaman melahirkan tindakan. Dan setiap tindakan yang berlandaskan ilmu memiliki potensi mengubah kehidupan.
Karena itu, Tahun Baru Islam seharusnya tidak hanya menjadi momentum memperbarui kalender, tetapi juga memperbarui komitmen untuk terus belajar. Hijrah sejati bukan hanya tentang berpindah tempat atau mengubah penampilan, melainkan tentang mengubah kualitas diri melalui ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, membaca adalah hijrah yang tak pernah usai. Ia bukan perjalanan menuju satu tujuan, melainkan jalan panjang yang terus membawa manusia menjadi lebih bijaksana dari hari ke hari. Jika bangsa ini ingin melangkah lebih jauh di tengah kompetisi global, maka langkah pertamanya bukanlah berlari, melainkan membuka buku, menyalakan rasa ingin tahu, dan memulai hijrah dari setiap halaman yang dibaca. Sebab dari sanalah lahir peradaban, dan dari sanalah masa depan Indonesia ditulis.













