Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

Pembunuhan Marak, Akar Masalah Dan Solusi

×

Pembunuhan Marak, Akar Masalah Dan Solusi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ummu Wildan
Pemerhati Anak

Berita pembunuhan begitu banyak mewarnai linimasa belakangan ini. Di antaranya ada kasus pembunuhan dan mutilasi sadis di Ciamis. Setelah adu mulut suami istri, suami memukul istrinya dengan balok kayu di kepala. Selanjutnya memotong mayat korban dan membawanya ke tempat terbuka. Bahkan kasus pembunuhan seakan menjadi bagian harian dari kriminalitas di negeri. Dari satu kasus ke kasus lainnya. Bak cendawan di musim hujan. 

Ada pula penemuan mayat dalam koper di dua lokasi berbeda, yaitu Cikarang dan Bali. Selain sama-sama memasukkan mayat korbannya ke dalam koper, kedua kasus ini sama-sama terkait hubungan haram laki-laki dan perempuan. Korban di Cikarang dibunuh pacar gelap setelah hubungan suami istri di hotel. Korban menolak permintaan pelaku untuk melakukan penggelapan uang perusahaan. Adapun kasus di Bali terkait cekcok harga pelayanan seks komersil antara korban dan pelaku. 

Maraknya kasus pembunuhan ini mungkin terjadi karena beberapa hal. Pertama, ketidakjelasan tujuan hidup yang seharusnya. Ketika kebahagiaan diidentikkan dengan kesenangan jasadi, hawa nafsu bisa menutupi akal. Halal haram bisa ditabrak. Begitupun yang lemah bisa disingkirkan. 

Tak jarang terdengar pembunuhan terjadi akibat perselisihan terkait uang ratusan ribu. Ada pula perang mulut dan harga diri yang membuat gelap mata. Senjata tumpul hingga tajam bisa melayang. Dari bantal untuk membekap hingga pisau untuk menusuk. Seakan semudah itu melampiaskan marah tanpa berpikir panjang. 

Kedua, sistem sanksi yang lemah. Pembunuhan seringkali hanya mendapat hukuman penjara beberapa tahun. Diperparah pula dengan adanya remisi. Pengurangan hukuman diberikan ketika hari besar nasional dan hari besar keagamaan. Ringannya hukuman tidak membuat orang takut untuk melakukan perbuatan kriminal bahkan seekstrim menghilangkan nyawa orang lain. 

Baca Juga:  Lazimnya Suatu Pernikahan

Ketiga, sistem pendidikan yang sekular. Agama diajarkan terpisah dari mata pelajaran lainnya. Keberhasilan sering diukur dengan standar materi. Orang dianggap berhasil ketika bekerja menghasilkan materi. Sekolah dianggap berhasil oleh karena daya serap lulusan di dunia kerja. Ketaatan pada aturan agama sering hanya menjadi visi pemanis pada institusi pendidikan. 

Alhasil lulus sekolah dengan nilai baik lebih ditekankan ketimbang output yang menjadikan ridha Ilahi sebagai penuntun jalan. Ketika berada di persimpangan antara aturan Tuhan dan manusia, tak jarang aturan Tuhan disingkirkan. Kesepakatan antara anggota komunitas misalnya, dan menyingkirkan bahwa Tuhan Maha Tahu yang terbaik bagi makhluk-Nya. 

Depresi yang mudah muncul, mudah tersinggung, mudah tersulut emosi dan demdam muncul dari ketidakstabilan emosi karena lemahnya keimanan masyarakat. Ketidakfahaman untuk terikat dalam aturan syariat Allah menjadikan mereka ringan untuk melakukan kemaksiatan. Didukung oleh pemahaman masyarakat yang individualis, yang cuek dengan lingkungan tanpa nilai agama.

Hal-hal di atas berbeda secara diametral dengan sistem Islam. Tujuan hidup harusnya adalah keridhaan Sang Pencipta. Kesenangan jasadi tidaklah haram untuk diraih. Namun ia haruslah berada dalam koridor aturan Tuhan. Karena aturan Tuhan tidak lah mengekang, namun justru memanusiakan manusia. Dengan demikian manusia dapat hidup sesuai fitrahnya. Bukankah diyakini bahwa Sang Pencipta itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana? Sehingga ketundukan hati untuk menjalani hidup sesuai pinta-Nya akan membawa kebaikan bagi semesta. 

Aturan Tuhan pun berisi sanksi yang tegas atas kasus pembunuhan, yaitu qishas. Pembunuh harus dihukum bunuh. Terkecuali pada kasus tertentu dan keluarga korban memaafkan. Namun itupun dikenakan sanksi diyat alias denda 100 ekor unta. 

Sebagian aktivis menyebut hukuman mati tidak manusiawi. Namun Sang Khaliq menyebutkan dalam ayat cinta-Nya bahwa di dalam qishas ada kehidupan. Secara realita memang angka pembunuhan jauh lebih kecil di negara yang menerapkan hukum ini. Efek jera dan jeri bisa diraih dari penerapannya. 

Baca Juga:  Internet Of Things (IoT) Sebagai Solusi Jalan Buntu Dunia Digitalisasi

Adapun sistem pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk generasi yang berkepribadian Islami. Tidak hanya menghasilkan pribadi yang cerdas namun juga berkepribadian yang baik. Secara keilmuan pengurusan dunia mumpuni dan dalam mengelola dunia dengan standar akhirat.

Dalam pembelajarannya peserta didik dibimbing untuk tidak memisahkan agama dengan dunia. Pelajaran diberikan secara holistik. Misalnya dalam pembelajaran sains peserta didik mempelajari alam semesta sekaligus menyerap alasan mengapa Sang Pencipta menciptakan semesta. Mereka tidak hanya belajar what dan how, tapi juga why. Dalam pembelajaran sosial, peserta didik mempelajari pranata sosial juga dalam sudut pandang Islam sehingga interaksi sosial terjaga dalam bingkai kehormatan diri dan sosial. Dalam bidang ekonomi, peserta didik belajar tentang bisnis juga konsep rezeki. Alhasil, untung ataupun rugi mereka bisa tegar berdiri bahkan rajin berbagi dan berinvestasi riil.

Demikianlah ketika agama diterapkan dalam kehidupan. Ada banyak kebaikan yang menyertai. Bukan sekedar romantisme masa lalu ketika lebih dari seribu tahun bumi merasakan terjaganya berbagai hal, termasuk jiwa. Secara logika pun layak dijadikan pilihan dibandingkan sistem sekularisme yang sedang menguasai dunia saat ini. Wallahu a’lam 

Iklan
Iklan