Oleh : AHMAD BARJIE B
Dakwah adalah menyampaikan ajaran Islam secara utuh, amar ma’ruf dan nahi munkar dengan berdasarkan Alquran, Sunnah dan akal sehat. Bukan sekadar menghibur, disenangi orang dan cari aman, dengan tidak menyinggung orang, atau hanya menyinggung secara halus, sehingga orang tetap terhibur.
Seorang juru dakwah yang cukup laku secara nasional dan sering menghibur dengan joke-joke segar, menyatakan ketidaksetujuannya dengan pihak yang selalu kritis dan dianggapnya suka nyanyir. Apa yang dilakukan pemerintah, selalu dikritisi, yang ini salah yang itu salah, seolah tidak ada yang benar. Padahal menurutnya, di Indonesia ini hanya satu aspek syariah Islam yang belum dilaksanakan, yaitu hukum potong tangan terhadap pencuri. Mengapa, karena kalau itu diberlakukan, para pejabatlah yang lebih dahulu mengalaminya, sebab merekalah yang lebih banyak melakukan korupsi. Yang kecil-kecil misalnya mencuri kertas dan alat-alat kantor, mengambil atau menggunakan alat-alat atau barang dinas untuk keperluan pribadi, dan seterusnya, minimal korupsi waktu. Yang besar lebih lagi, banyak pelaku korupsi bernilai tinggi yang merugikan negara.
Di negara kita berdakwah juga bebas. Coba katanya kita bandingkan dengan negara muslim lain, Arab Saudi atau Malaysia, misalnya. Di sana segalanya diatur dan dibatasi oleh pemerintah. Di negara kita, artis yang baru dua bulan belajar agama sudah berani ceramah. Di sana, penceramah adalah orang yang benar-benar berilmu dan ahli dalam agama, sudah bersertifikat.
Di kita kalau ada orang sugih membangun masjid, sendiri, bayar imam dan khatib dan penceramah sendiri, jadilah masjid yang ramai. Atau punya rumah besar, rekrut guru dan cari murid, apalagi kalau mampu membayar semuanya dan santri dibebaskan dari biaya, maka jadilah madrasah atau pondok pesantren. Di negara lain jangan harap bisa demikian, meski kaya sekalipun. Jadi apalagi, kita harus syukuri, katanya.
Ceramah seperti ini, apalagi disampaikan di hadapan para pejabat, aparat pemerintah, anggota TNI, Polri dan sebagainya tentu sangat menyenangkan. Mereka akan tepuk tangan gembira, karena merasa tugasnya sudah sesuai dengan ajaran agama, dan ikut-ikutan mempertanyakan kalangan yang sering bersuara kritis. Penceramah demikian, akan selalu diundang dan cukup laku. Dan kenyataannya, ia memang laku, bahkan sering dalam ceramahnya mengaku diberi puluhan juta rupiah, bahkan lebih. Sering ia dapat rezeki yang tidak terduga.
Sebaliknya, kalau ada ulama yang vokal, suka berceramah secara kritis, berani ambil risiko, amar ma’ruf dan nahi munkar tanpa tedeng aling-aling, ia hanya disukai kalangan tertentu dan kelihatannya ditakuti (tidak disukai) kalangan tertentu. Saya pernah mengikuti ceramah ulama dari Jakarta di sebuah masjid terbesar di Kota Banjarmasin. Karena beliau ulama vokal maka jemaah penuh sesak dan bersemangat. Tetapi saya amati, di sana tidak seorang pun pejabat yang berhadir. Tidak banyak pula ulama dan juru dakwah yang berhadir. Terbanyak adalah generasi muda, aktivis dan kalangan awam. Padahal itu momentum langka dan mungkin seumur hidup beliau hanya sekali itu berceramah di masjid tersebut. Padahal apa yang diceramahkan juga bersumber dari Alquran, Sunnah, akal sehat dan sesuai dengan kenyataan.
Rupanya dakwah kita sudah terpola dan terkotak-kotak, ada yang disenangi dan tidak disenangi. Padahal dakwah itu adalah penyampaian ajaran Islam secara utuh, ada amar ma’ruf dan ada nahi munkar, ada kabar gembira (basyiran) dan ada peringatan (naziran), ada tentang pahala yang dijanjikan reward sorga dan ada tentang dosa yang diancam dengan punisment neraka kalau tidak bertobat.
Allah menyuruh orang-orang beriman agar memasuki Islam secara menyeluruh, dan jangan mengikuti langkah syetan, sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata. Maka pesan Islam yang disampaikan pun harus menyeluruh, tidak boleh hanya sebagian-sebagian, atau yang enak-enaknya saja. Kalau sudah disampaikan, terserah orang merasa terhibur atau tersinggung, orang menurut atau tidak itu, soal lain. Dakwah jangan dikonversi menjadi komoditas bisnis atau iklan suatu produk.
Ulama juru dakwah tidak boleh merasa seperti apa yang dirasakannya. Misalnya ia merasa hidupnya sudah enak, gaji atau pendapatannya sudah besar, lantas mengira rakyat juga demikian. Ia harus menggunakan perasaan rakyat atau umat yang diwakilinya. Lebih lagi ajaran Islam yang butuh penyampaiannya. Dulu para pejuang bangsa, banyak juga orang yang sudah kaya, atau kalangan bangsawan yang sudah enak. Tetapi mereka tetap bersuara dan berjuang keras menentang penjajahan.













