Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

BEDA FASILITAS

×

BEDA FASILITAS

Sebarkan artikel ini

Oleh : CAKRAWALA BINTANG

Debat calon presiden RI yang ditayangkan di televisi beberapa waktu lalu memang menarik, walaupun terjadi protes penggunaan mikrofon yang digunakan digunakan. Bahkan pakar telematika, Roy Suryo menyoroti penampilan cawapres saat debat di Jakarta Convention Center (JCC) pada 22 Desember 2023 lalu. Dia mengatakan, tiga mikrofon sekaligus clip-on, hand-held dan heat-set, namun mengapa mic salah satu pasangan calon berbeda dengan cawapres lainnya, apalagi itu sebenarnya adalah segmen pertama debat.

Sebagai negara berlandaskan hukum, semestinya penyelenggara yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberikan fasilitas yang sama pada semua kontestan, agar tidak menimbulkan protes rasa keadilan yang tidak disamakan pada mereka, yang akan mendapat penilaian pemirsa dan yang melihat sesi debat itu berlangsung. Semestinya, jika diantara sesama rakyat Indonesia ini ‘tidak dusta diantara kita’, ataupun adanya rekayasa yang tidak sesuai dengan pengetahuan calon itu dalam kehidupannya sehari-hari. Hal itu sudah diajarkan atau diterapkan pada sekolah dasar. Jika ujian, jangan menyontek serta membawa catatan, atau bertanya secara diam-diam dengan teman disamping duduk, atau menggunakan fasilitas telepon selular dan lainnya. Dimana kriteria itu semua adalah kecurangan, atau sekedar kebohongan, yang bertujuan untuk memperlihatkan kemampuan yang tidak sebenarnya. Pada akhirnya ilmu yang diserap tidaklah ada, dikarenakan hanyalah sebuah penilaian sesaat, yang bila ditanyakan pada periode berikutnya akan terjadi ketidak mengertian.

Ternyata, menurut Roy Suryo, walaupun nampak rapi dan sepertinya protes itu diterima, pada debat selanjutnya juga ada benda yang lain, semacam pemberitahuan jarak jauh yang digunakan pasangan calon tertentu. Hal itu disampaikannya, sebelum Pemilu itu terjadi mengenai pencoblosan suara. Dengan demikian, kecurigaan dengan urutan-urutan sebelum kejadian yang menghebohkan kemudiannya, memang nampak sistimatis yang juga dapat dikatakan bagian TSM. Jika kemudian, suara yang bisa menembus satu putaran di atas 50 persen memang penuh kecurigaan. Anehnya negara Indonesia yang banyak orang pintar dan ahli dalam hal elektronik bisa terjadi hal yang seperti itu. Padahal secara logika, pasti bisa diprediksi.

Baca Juga:  Transgender Kampanye Lagi, Negara Miskin Proteksi

Mungkin, karena zaman ini adalah zaman telekomunikasi informasi (TI), sehingga segala sesuatu yang merupakan kecurigaan atau keanehan mudah sekali terekspose ke medsos atau internet. Walaupun sebenarnya dalah hal pengungkapan kecurangan itu setidaknya ada, walaupun tidak sepenuhnya, jika dibandingkan pada Pemilu sebelumnya. Karena dalam medsos, segala sesuatu itu sudah ada bahannya, hanya saja tergantung pada tiap orang yang berbeda untuk melakukannya.

Oleh karena itu, maka banyak penghitungan suara yang secara sukarela dilakukan rakyat. Mungkin karena cinta negara atau sekedar hobi, atau juga karena menguji diri dalam hal adu argumentasi keahlian dalam hal hitung-menghitung suara dalam Pemilu tersebut. Hal itu tentu dimanfaatkan paslon yang berkepentingan dalam hal pembuktian pada persidangan sengketa Capres Pemilu.

Iklan
Iklan