Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
EKONOMI

Ini Indikator Tumbuh Positifnya Perekonomian Kalsel Hingga Mei 2024

×

Ini Indikator Tumbuh Positifnya Perekonomian Kalsel Hingga Mei 2024

Sebarkan artikel ini
- Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalsel, Syafriadi di acara Press Conference ALCo Regional Kalimantan Selatan di Aula Kanwil DJPb Kalsel, Jumat (28/6/2024). (Kalimantanpost.com/ful)

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Hingga bulan Mei 2024, kondisi perekonomian Kalsel masih melanjutkan trend positifnya di tahun 2024. Aktivitas dan mobilitas masyarakat yang terus meningkat menjadi salah satu pemicu tumbuhnya perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri yang diikuti dengan cuti bersama Pegawai, serta pencairan gaji ke-13 maupun THR turut menyumbang pergerakan ekonomi di Kalsel dari sisi belanja pemerintah.

Dijelaskan Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalsel, Syafriadi di acara Press Conference ALCo Regional Kalimantan Selatan di Aula Kanwil DJPb Kalsel, Jumat (28/6/2024), beberapa indikator-indikator yang menunjukkan keadaan perekonomian Kalsel yang tumbuh positif.

“Pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2024 Kalimantan Selatan sebesar 4,96 persen sedikit di bawah Nasional yang mencapai 5,11 persen,” ujarnya.

Lalu, tingkat inflasi di bulan Mei 2024 masih terkendali dan tercatat deflasi sebesar 0,01 persen (mtm) atau mengalami mengalami inflasi sebesar 2,63 persen (yoy), lebih rendah dari rata-rata nasional yang mencapai 2,84 persen (yoy). Tingkat inflasi tertinggi pada Kabupaten Hulu Sungai Tengah sebesar 3,34 perseb (yoy).

Ditambahkan Syafriadi, neraca perdagangan kembali mengalami surplus di bulan Mei 2024. Neraca perdagangan di Kalsel yang mencatatkan surplus US$1.018,40 juta terkontraksi hingga 20,61 persen dibandingkan Mei 2023.

“Penurunan ini salah satunya dipicu oleh turunnya nilai ekspor akibat harga batu bara yang terkontraksi dari tahun 2023,” tandasnya.

Ditambahkannya, kelompok barang dengan ekspor tertinggi masih didominasi oleh bahan bakar mineral/batubara sebesar US$1.083,50 juta.

Syafriadi juga menjelaskan,
pendapatan APBN hingga Mei 2024 telah terealisasi sebesar Rp8,38 triliun atau 36,23 persen dari target. Jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2023, kinerja pendapatan APBN terkontraksi 27,96 persen.

Walaupun demikian, lanjut Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalsel, penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menunjukkan angka pertumbuhan positif yaitu 9,41 persen dengan realisasi sebesar Rp797,23 miliar.

Baca Juga:  Sambut Baik UU CiptakerPelaku Bidang Industri dan Usaha di Kalsel

“Dari sisi belanja negara, realisasi total belanja negara sebesar Rp14,96 triliun atau 38,96 persen dari pagu. Capaian ini meningkat 26,82 persen dibandingkan tahun lalu.

Selanjutnya, realisasi Belanja untuk Bulan Mei 2024 terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar Rp3,32 triliun dan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp11,64 triliun.

Menurut Sjafriadi, penjelasan lebih rinci untuk pendapatan negara yaitu realisasi Penerimaan Pajak Dalam Negeri mencapai Rp7,46 triliun atau 34,74 persen dari target, terkontraksi sebesar 29,47 persen (yoy).

Kontribusi terbesar berasal dari Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp4,73 triliun, kemudian PPN memberikan kontribusi sebesar Rp2,49 triliun.

“Tiga sektor yang memberikan kontribusi penerimaan perpajakan terbesar berasal dari sektor pertambangan dan penggalian dengan kontribusi sebesar 35,0 persen, kemudian sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 17,0 persen serta pengangkutan dan pergudangan sebesar 16,5 persen.

“Secara kumulatif, sampai dengan Bulan Mei 2024, mayoritas sektor utama masih tumbuh positif, kecuali Sektor Pertambangan dan Penggalian dan Sektor Perdagangan Besar yang mengalami kontraksi,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Selatan, Dwijo Muryono mengungkapkan, kinerja penerimaan negara yang dipungut oleh Kanwil Direktorat Jenderal Bea Cukai Kalimantan Bagian Selatan sampai dengan Mei 2024 sebesar Rp3,42 triliun.

“Penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp125,98 miliar dan penerimaan lainnya Rp3,29 triliun,” tandasnya.

Ditambahkan Dwijo, tantangan yang dihadapi terkait penerimaan yang dipungut oleh Kanwil DJBC Kalbagsel adalah penurunan harga ekspor komoditas batubara, CPO dan turunannya. (ful/KPO-3)

Iklan
Iklan