Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Derap Nusantara

Mengurai Tantangan Energi Alternatif Berbasis Riset

×

Mengurai Tantangan Energi Alternatif Berbasis Riset

Sebarkan artikel ini
Petugas melakukan perawatan panel surya di PLTS Terapung Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (16/3/2024). (Antara)

Oleh : Sugiharto Purnama

KENAIKAN bahan bakar fosil berupa batu bara, minyak, dan gas bumi telah menciptakan krisis energi global yang memengaruhi stabilitas ekonomi hingga geopolitik dunia.

Situasi ini memaksa untuk segera beralih dari sumber energi hitam yang tidak berkelanjutan ke energi hijau yang lebih bersih dan bisa diperbaharui. Ilmu pengetahuan menjadi penunjuk arah bagi manusia untuk menyelamatkan Bumi melalui alternatif energi ramah lingkungan.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan pengembangan energi baru terbarukan membutuhkan upaya serius tidak hanya dari sisi pemerintah, manajemen energi, tetapi juga terobosan teknologi.

“Di situlah tantangan kami, khususnya komunitas periset dan akademisi (memikirkan cara) bagaimana kita bisa mencapai itu (teknologi energi baru terbarukan) ditambah dengan kondisi geopolitik,” ujarnya awal Juni 2024.

Ilmuwan adalah seniman. Aktivitas riset dan inovasi memungkinkan manusia untuk berkreasi menciptakan apapun dan membuka peluang bagi tumbuhnya industri energi ramah lingkungan.

Di Bumi yang kini mulai sesak oleh ledakan populasi manusia yang telah mencapai 8 miliar jiwa, energi alternatif memegang kunci untuk kehidupan yang lebih teduh di masa depan.

Bahan Bakar Pengganti

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat dalam satu dekade terakhir energi baru terbarukan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan menggeser energi fosil secara perlahan.

Berdasarkan data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2023, yang diterbitkan Kementerian ESDM pada 6 Juni 2024, suplai energi fosil berupa minyak, batu bara, dan gas bumi masing-masing mencapai 41,43 persen, 29,61 persen, dan 22,28 persen pada tahun 2013 lalu.

Satu dasawarsa kemudian, pada tahun 2023, suplai bahan bakar fosil dalam energi primer nasional turun menjadi 29,91 persen minyak dan gas bumi 17,11 persen. Sedangkan, batu bara tercatat tumbuh menjadi 39,69 persen akibat proyek 35.000 megawatt yang menitikberatkan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Baca Juga:  Tim Robotik MAN 1 Pekanbaru Raih Piala Ketua MPR-RI

Pada 2013, suplai energi baru terbarukan dalam energi primer nasional hanya berjumlah 6,69 persen. Kemudian, angka setrum hijau meningkat menjadi 13,29 persen pada tahun 2023.

Komitmen dunia yang berkeinginan keras untuk menekan perubahan iklim dengan mengurangi produksi gas emisi karbon dari pembangkit listrik menciptakan peluang baru bagi listrik hijau ramah lingkungan.

Meski Indonesia memiliki sumber daya energi baru terbarukan yang melimpah, seperti matahari, angin, dan air, namun energi alternatif yang paling menjanjikan adalah bahan bakar nabati dan nuklir.

BRIN melihat, meski Indonesia adalah negara tropis yang mendapatkan sinar matahari 12 jam sepanjang tahun, tetapi efisiensi solar panel di Indonesia lebih rendah ketimbang negara subtropis di Australia dan Timur Tengah.

Ada banyak awan di Indonesia yang dapat menghambat produksi listrik pada solar panel. Indonesia adalah negara perairan yang panas, sehingga awan cepat terbentuk.

Listrik tenaga surya skala besar tidak cocok di Indonesia karena menghabiskan banyak lahan. Namun, solar panel untuk penerangan jalan umum yang bersifat independen dan skala kecil tergolong ideal diterapkan di Indonesia.

Listrik tenaga angin juga kurang efektif bagi Indonesia yang memiliki iklim muson. Bagi negara subtropis listrik tenaga angin justru bagus secara umum karena tekanan angin yang konsisten.

“Secara saintifik kami sudah tahu kalau (matahari dan angin) tantangannya cukup besar dibandingkan negara lain, sehingga kita harus berpikir yang khas Indonesia. Apakah kita mendorong biofuel? mungkin kalau PLTA juga berat karena pasti menenggelamkan area yang begitu luas dan mungkin merusak lingkungan,” ucap Handoko menjelaskan.

Saat ini BRIN sedang melakukan proyek riset untuk memaksimalkan potensi perkebunan dan pertanian agar dapat menghasilkan bahan bakar nabati.

Baca Juga:  Bappenas: Program Makan Bergizi Gratis Solusi Tekan Stunting

Minyak kelapa sawit atau crude palm oil, sorgum, bahkan jagung dapat menjadi bahan bakar pengganti untuk sektor transportasi. Pada 2013, pangsa bahan bakar nabati dalam energi primer hanya 0,56 persen. Sepuluh tahun setelah itu, pada 2023, jumlah bahan bakar nabati tercatat sebesar 4,54 persen,

Indonesia telah memiliki teknologi yang mapan untuk menghasilkan energi dari sumber daya nabati dan didukung area perkebunan dan pertanian yang sangat luas.

Peneliti Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN, Rizal Alamsyah, mengatakan teknologi pemrosesan biomassa menjadi bahan bakar nabati—produk cair maupun padat—telah mengalami perkembangan.

Konversi biomassa menjadi energi dapat melalui tiba cara, yakni konversi pembakaran langsung, konversi termokimia, dan konversi biokimia.

Kini teknologi bahan bakar nabati cair telah berkembang pesat dari generasi pertama yang menggunakan bahan baku utama hingga generasi ketiga memakai biomassa tanaman perairan. Bahkan, teknologi bahan bakar nabati kini telah memasuki generasi keempat yang mengonversi biomassa menjadi biohidrogen.

Ilmuwan meninggalkan jejak bagi peradaban selanjutnya dengan karya-karya yang mereka ukir pada dinding kitab ilmu pengetahuan. Tujuannya agar umat manusia terus mencari tahu, berpikir, berinovasi.

Teknologi Harus Matang

Baterai memegang peran kunci dalam menentukan arah energi baru terbarukan ke depan. Separuh permasalahan yang menyelimuti setrum hijau akan selesai bila teknologi baterai kian matang.

Umat manusia dapat menyimpan energi sebanyak mungkin dalam ruangan penyimpanan yang tidak memakan banyak tempat.

Saat matahari bersinar terang, solar panel mengonversinya menjadi listrik, lalu disimpan ke dalam baterai untuk penggunaan malam hari. Begitu juga dengan pembangkit tenaga angin.

Sejauh ini listrik tenaga nuklir adalah pilihan paling masuk akal untuk menghasilkan listrik tanpa emisi karbon yang berproduksi secara terus menerus.

Baca Juga:  Merangkul Para Penyintas HIV/AIDS dengan Pertebal Ilmu Agama

Pada 1958, Indonesia adalah negara pertama pemilik reaktor nuklir di Benua Asia. Namun, Indonesia kini tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain, seperti Uni Emirat Arab yang sudah memiliki empat unit pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Pada Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EBET) yang sudah selesai dan segera terbit, pemerintah menempatkan nuklir sebagai salah satu sumber energi di masa depan.

Teknologi nuklir untuk listrik sudah matang. Kini teknologi reaktor nuklir telah mencapai generasi keempat.

Ilmuwan memandang reaktor generasi keempat ini paling sesuai untuk dikembangkan di Indonesia karena sangat aman dengan sistem pendingin gas suhu tinggi, ekonomis, dan rendah limbah.

Meski secara teknologi sudah matang dan menjadi salah satu sumber energi paling potensial, namun nuklir tidak selalu populer di banyak negara, termasuk Indonesia.

Tingkat penerimaan masyarakat — ingat tentang tragedi nuklir di Chernobyl dan Fukushima — masih menjadi tantangan dalam pengembangan nuklir. Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi negara-negara maju juga menghadapi tantangan serupa.

Bila sejarah selalu membayangi, maka kita mungkin tidak akan pernah siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi di masa depan. Sejarah telah memberi pelajaran agar ke depan kehidupan manusia lebih baik melalui ikhtiar-ikhtiar yang serius. (Antara/Tim Kalimantanpost.com)

Iklan
Iklan