Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

PEKERJAAN PROFESIONAL

×

PEKERJAAN PROFESIONAL

Sebarkan artikel ini

Oleh : H. AHDIAT GAZALI RAHMAN

Setiap orang atau lembaga adalah profesi. Profesi seorang pendidik (guru) adalah mengajar, maka ketika dia bekerja di sebuah lembaga pendidikan adalah suatu kebanggaan dan pasti akan senang. Seorang sarjana teknik pembangunan, profesinya adalah melakukan membangun, maka ketika di ditempatkan di lembaga yang berkaitan dengan pembangunan, tentu menjadi kebanggaan. Seorang dokter adalah ahli di bidang kesehatan, maka ketika diberi kesempatan mengabdi di bidang kesehatan, itu adalah sebuah harapan, keinginan dan sebuah tentangan untuk memberikan yang terbaik sesuai dengan keilmuan dan kemmapuan yang dia dapatkan.

Apa itu profesional? Dalam bahasa Indonesia, berasal dari kata profesi, yang diartikan, bidang pekerjaan yang ditempuh melalui pendidikan keahlian, seperti kejuruan atau keterampilan tertentu. Profesi merupakan kata serapan dari bahasa Belanda, yaitu professie dan bahasa Yunani dari kata Epangelia yang artinya janji untuk memenuhi kewajiban melaksanakan suatu tugas khusus dengan tetap atau secara permanen. Selain itu, profesi juga dapat diartikan sebagai pekerjaan yang membutuhkan pelatihan khusus serta penguasaan pada suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi, pada umumnya memiliki asosiasi profesi, kode etik dan proses sertifikasi serta lisensi khusus untuk bidang profesi tersebut. Seseorang yang memiliki kompetensi pada suatu profesi disebut profesional. Meskipun begitu, istilah profesional juga sering digunakan untuk suatu aktivitas yang menerima bayaran.

Profesi adalah pekerjaan yang dilaksanakan untuk dapat menghasilkan nafkah hidup dengan mengandalkan suatu keahlian. Oleh sebab itulah, tidak semua pekerjaan termasuk sebagai profesi. Profesi hanya pekerjaan yang mengandalkan keahlian saja. Profesi tidak seperti pekerjaan yang dapat di lakukan oleh siapa saja tanpa adanya pelatihan dan tanpa adanya persiapan khusus untuk dapat melakukan pekerjaan tersebut

Baca Juga:  Ciptakan Senyum dan Tawa untuk Membangun Energy Positif

Profesi memiliki karakteristik atau cirinya sendiri yang membuatnya berbeda dari pekerjaan biasa. karakteristik profesi. Secara umum mempunyai sembilan karakter, yakni : (1) Memilik kompentensi keterampilan; (2) Ada kode etik; (3) Keterampilan dan pengetahuan khusus; (4) Bekerja demi kepentingan umum; (5) Memiliki lisensi; (6) Memiliki otonomi kerja sendiri; (7) Melayani publik dengan mengatur sendiri; (8) Memilik standar yang tinggi; dan (9) Memiliki standar dan anggaran khusus.

Dari itu, setiap orang atau lembaga tidak mudah untuk merubah profesi. Merubah profesi perlu waktu dan perjuangan, jika profesi ingin sukses dan berkwalitas, tapi jika hanya untuk ikut dan demi kepentingan tertentu, maka suatu belum dapat dikatakan professional. Lembaga profesional adalah pembinaan dan pengayoman tidak akan mudah beralih menjadi profesi lain yang sangat jauh dari profesi sebelumnya. Pribadi atau lembaga pekerjaan yang bukan profesi dan ikut mengerjakan pekerjaan yang bukan bidangnya sangat tidak disarankan, bahkan Islam sangat memperhatikannya sebagaimana hadis Nabi SAW, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).

Memaksakan diri dengan sebuah pekerjaan yang bukan ahlinya. Bila itu tetap dilakukan maka sangat besar kemungkinan menjadi berantakan. Pentingnya memberikan tugas atau pekerjaan sesuai dengan kemampuan karyawan merupakan salah satu bentuk profesional yang dilakukan oleh seorang pemimpin atau pemberi kerja.

Profesionalisme dan kompetensi terhadap sebuah pekerjaan adalah dua hal yang saling berkaitan, namun kadang ada individu/lembaga yang memaksakan diri mengerjakan sebuah pekerjaan yang bukan bidangnya sehingga yang terjadi adalah kerugian, baik dari sisi waktu pelaksanaan pekerjaan mau pun kerugian materil. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT, “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”. (QS. Al Isra : 36).

Baca Juga:  Revisi UU ITE, Untuk Kepentingan Siapa?

Jangan semua pekerjaan yang diberikan selalu ingin dikerjakan tanpa memperhtikan kemampuan, dan pengetahuan yang mencukupi. Apalagi hanya mengandalkan sikap sok tahu atau merasa paling mengerti padahal yang diketahui belum tentu benar. Egoisme yang terlalu tinggi terkadang menutupi pandangan yang objektif dalam menyelesaikan sebuah masalah.

Iklan
Iklan