Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE

Kemelut Lagi Tentang Pasien, RSUD Ulin Digugat

×

Kemelut Lagi Tentang Pasien, RSUD Ulin Digugat

Sebarkan artikel ini
TUNJUKAN FOTO PASIEN - Dr Dra Risma Situmorang SH MH AllArb dan rekan, Senin Pengacara pihak keluarga, Senin (8/7) menujukan foto pasien Sri Herawati Saragih saat masih sehat di RSUD Ulin ketika melakukan pengobatan. (KP/Aqli)

Termasuk Dilaporkan ke MKDKI Pusat

Disebut ada dugaan perbuatan melawan hukum (PMH) dan dugaan malapratik

BANJARMASIN, KP – Kemelut lagi tentang pasien, yang mana Rumah Sakit Umum Daerah) (RSUD) Ulin Banjarmasin, dilayangkan gugatan.

Gugatan masuk di Pengadilan Negeri Banjarmasin, Senin (8/7).

Kalau sebelumnya mencuat kasus kepala bayi tertingal di dalam rahim saat persalinan, yang kasusnya dilaporkan ke Polresta Banjarmasin dan belum ada tanda kabar tuntas ditangani.

Kini kasus lain lagi yakni disebut kalau si pasien ada mengidap miom (semacam tumorjinak yang tumbuh di rahim), dan kemudian meninggal dunia setelah ditangani.

Dari ini pula disebut ada dugaan perbuatan melawan hukum (PMH) dan dugaan malapratik.

Dugaan ini berawal terjadi sekitar 18 Maret 2024 kepada seorang perempuan bernama almarhum Sri Herawaty Saragih (47) yang diketahui berdomisili di daerah Kecamatan Gambut Kabupetan Banjar.

Atas dugaan malapraktik ini, suami korban yakni Lando Simatupang melalui pengacaranya melakukan gugatan secara resmi ke Pengadilan Banjarmasin.

Pengacara pihak keluarga, Dr Dra Risma Situmorang SH MH AllArb beserta sejumlah rekannya pada wartawan membeberkan bahwa dugaan malapraktik ini terjadi bermula saat almarhum Sri Herawati Saragih melakukan pengobatan di RSUD Ulin Banjarmasin dan ditangani oleh seorang dokter kandungan berinisial dr STW.

Setelah diperiksa sang dokter, dijelaskan bahwa ditemukan ada miom pada rahim almarhum hingga kemudian dilakukan tindakan biopsi pada 18 Maret 2024.

Namun setelah dilakukan tindakan tersebut, almarhum yang awalnya masih dalam kondisi normal atau tidak terlalu merasakan kesakitan justru merasakan sakit yang luar biasa.

Bahkan pada Rabu (20/3) sekitar pukul 04.15 Wita, korban yang merupakan ibu dari dua anak menghembuskan nafas terakhir.

Baca Juga:  RUU Penyiaran Dianggap Berpotensi Bungkam Kemerdekaan Pers, DPRD Kalsel Akan Datangi DPR RI

Keluarga korban kemudian mendatangi sang dokter namun tidak puas dengan jawaban dokter, akhirnya meminta bertemu dengan pihak RSUD Ulin Banjarmasin.

Dari pertemuan dengan manajemen RSUD Ulin Banjarmasin, dijanjikan permasalahan akan dibicarakan dengan pimpinan.

“Namun setelah pertemuan dengan pihak RSUD Ulin Banjarmasin tidak ada respon hingga sekarang.

Sehingga pada hari ini kami mendaftarkan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Banjarmasin dengan dugaan perbuatan melanggar hukum yaitu berupa malapraktik,” ujarnya.

Dijelaskan pula oleh Dr Risma Situmorang bahwa pihaknya sendiri sejak awak sudah berupaya menyelesaikan secara kekeluargaan.

“Tapi karena tidak ada respon, makanya kami daftarkan gugatan.

Dan tidak menutup kemungkinan juga kami akan melaporkan dugaan tindak pidananya,” jelas perempuan yang juga tergabung dalam di Perkumpulan Konsultan Hukum Medis dan Kesehatan (PKHMK).

Dr Risma sebut bahwa perkara ini juga sudah dibawa atau dilaporkan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesian (MKDKI) Pusat di Jakarta.

“Sudah kami laporkan ke MKDKI pusat, dan hari ini tadi sudah dilakukan pemeriksaan juga oleh komisioner MKDKI di Kantor Dinkes Provinsi Kalsel di Banjarmasin,” katanya.

[]Soal Haid

Sisi lain, suami almarhum Sri Herawaty Saragih yakni Lando Situmorang membeberkan bahwa awalnya sang istri dalam kondisi baik-baik saja.

Awalnya hanya mengeluhkan terkait haidnya yang kurang nyaman dan molor serta lebih banyak dari kondisi normal.

Sang istri masih bisa beraktivitas bahkan bekerja dengan normal, hingga kemudian melakukan pemeriksaan dengan dokter kandungan dan disebut ada miom.

Dokter menawarkan kepada almarhum bahwa ada dua tindakan yang bisa dilakukan yakni dengan cara dikuret secara manual atau dengan menggunakan alat.

Kemudian dokter memberikan gambaran bahwa apabila dilakukan menggunakan alat, maka tindakan dilakukan diperkirakan hanya diperlukan sekitar 30 menit saja.

Baca Juga:  Ikuti Tes Kesehatan Gelombang 2, Seluruh Balon Tetap Optimis Hadapi Pilkada

Dan rasa sakit atau nyeri setelah dilakukan tindakan hanya sekitar 2-3 jam saja setelah reaksi obat bius selesai.

“Tapi ternyata setelah dilakukan tindakan, almarhum istri saya merasakan sakit yang luar biasa dan terus menerus. Bahkan juga diberi morfin tanpa sepengetahuan keluarga untuk menahan rasa sakitnya, kemudian reaksinya hilang kembali kesakitan.

Bahkan sampai ngelantur hingga akhirnya meninggal,” ucapnya dengan raut wajah tampak sedih.

Dalam perkara ini, tim penasihat hukum korban melakukan gugatan dengan kerugian materil sekitar Rp 851 juta dan immateril sekitar Rp 100 Miliar. (K-2)

Iklan
Iklan