Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Kalsel

Ketahanan Pangan Kalsel Tetap Stabil Ditengah Tekanan Inflasi, Petani Justru Diuntungkan

×

Ketahanan Pangan Kalsel Tetap Stabil Ditengah Tekanan Inflasi, Petani Justru Diuntungkan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260429 WA0026 e1777446244268
‎PANEN - Aktivitas petani saat panen padi di Kalsel. Produksi yang stabil dan surplus beras menjadi penopang utama ketahanan pangan daerah. (Kalimantanpost.com/devi).

‎BANJARBARU, Kalimantanpost.com – Ketahanan pangan di Kalimantan Selatan tetap terjaga di tengah tekanan inflasi dan dinamika harga bahan pokok. Sepanjang triwulan I 2026, kondisi pangan dinilai stabil dengan inflasi yang masih dalam batas aman.

‎Data menunjukkan inflasi berada di angka 0,2 persen pada Januari, naik menjadi 0,86 persen di Februari, dan kembali melandai ke 0,5 persen pada Maret. Pengendalian ini ditopang intervensi pemerintah melalui pasar murah dan penguatan distribusi pangan antarwilayah.

‎Stabilitas tersebut berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Meski harga sempat naik pada momen tertentu, seperti hari besar keagamaan, lonjakannya tidak berlangsung lama dan tetap terkendali.

‎Di sisi lain, kesejahteraan petani justru mengalami peningkatan. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat naik dari 121,1 menjadi 126,53 pada Maret 2026. Kondisi ini menunjukkan petani tetap memperoleh keuntungan di tengah fluktuasi harga.

‎Kalsel juga mencatat capaian nasional dengan menempati peringkat pertama Indeks Ketahanan Pangan 2025, didukung surplus beras mencapai 1,2 juta ton. Hal ini mempertegas posisi daerah sebagai salah satu lumbung pangan utama di Kalimantan.

‎Gubernur Kalsel, Muhidin menegaskan, ketahanan pangan harus mampu menjaga keseimbangan antara produsen dan konsumen.

‎“Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga keterjangkauan dan keberlanjutan. Pemerintah hadir untuk memastikan petani sejahtera dan masyarakat tetap bisa membeli dengan harga wajar,” ujarnya.

‎Upaya penguatan juga dilakukan melalui hilirisasi dan diversifikasi pangan. Produk pertanian mulai diolah menjadi bernilai tambah, seperti beras premium hingga beras analog berbahan singkong di Tanah Bumbu. Selain itu, peningkatan produksi hortikultura seperti cabai dan bawang turut membantu menjaga stabilitas harga.

‎Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, mengatakan hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan petani.

‎“Kami mendorong hasil pertanian tidak berhenti di produksi, tetapi diolah agar memberi nilai tambah. Dengan begitu, petani mendapat keuntungan lebih dan masyarakat memiliki pilihan pangan yang beragam,” katanya.

‎Penguatan juga dilakukan dari tingkat desa melalui revitalisasi lumbung pangan. Fasilitas ini kini berfungsi sebagai cadangan strategis untuk menjaga pasokan dan menekan gejolak harga. Saat ini, terdapat 175 unit lumbung pangan yang tersebar di 13 kabupaten/kota.

‎Di sektor produksi, Kalsel mencatat hasil positif dengan produksi padi mencapai sekitar 1,3 juta ton pada 2026, meski dihadapkan pada kemarau panjang.

Baca Juga :  Komisi II DPRD Kalsel Akan Temui Manajemen Bank Kalsel Bahas Arah Bank Devisa

‎Selain itu, komoditas porang mulai dikembangkan sebagai peluang ekonomi baru. Melalui program Porang Reborn, budidaya dilakukan di lahan seluas 127 hektare dengan dukungan pasar yang semakin terbuka.

‎Syamsir menambahkan, ke depan penguatan ketahanan pangan akan didukung digitalisasi data melalui sistem Satu Data Pangan.

‎“Kita ingin setiap kebijakan berbasis data yang akurat, sehingga respons terhadap gejolak harga dan pasokan bisa lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

‎Meski demikian, tantangan seperti fluktuasi harga dan tekanan global masih perlu diantisipasi. Pemerintah menilai penguatan sistem pangan lokal menjadi kunci agar ketahanan pangan tetap berkelanjutan dan mampu menghadapi berbagai risiko di masa depan.(dev/KPO-4)


Kalimantan Post

Iklan
Iklan