BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Pengelolaan air limbah domestik di kota seribu sungai tak lagi cukup mengandalkan kerja teknis semata. Dibutuhkan sentuhan riset, inovasi, dan edukasi. Itulah titik temu kerja sama antara Perumda PALD Banjarmasin dan Fakultas Teknik, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) yang ditegaskan melalui penandatanganan MoU, Rabu (29/4/2026).
Dokumen kerja sama diteken langsung Direktur Perumda PALD, Endani, S.Pd., dan Dekan Fakultas Teknik UNISKA, Ir. Firda Herlina, S.T., M.Eng., disaksikan jajaran pimpinan kedua institusi.
Kemitraan ini menempatkan kampus bukan sekadar mitra seremonial, melainkan “laboratorium hidup” bagi pengelolaan limbah kota. Fokusnya jelas: penguatan Tridharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—dengan isu nyata tata kelola air limbah domestik.
Endani menegaskan, karakter Banjarmasin yang bertumpu pada jaringan sungai menuntut pendekatan berbeda dalam sanitasi. “Pengelolaan limbah di kota sungai perlu inovasi berbasis kajian akademik. Kami ingin lahir gagasan baru sekaligus edukasi nyata bagi generasi muda tentang pentingnya sanitasi,” ujarnya.
Bagi kampus, kerja sama ini membuka ruang praktik yang luas. Ir. Firda Herlina menyebut, mahasiswa dan dosen kini memiliki akses langsung ke persoalan riil di lapangan. “Program di Perumda PALD bisa menjadi objek riset terapan, optimalisasi manajemen, hingga pengabdian yang langsung menyentuh masyarakat,” katanya.
MoU ini juga mengandung pesan strategis: pengelolaan limbah bukan semata urusan teknis perusahaan daerah, melainkan isu bersama yang memerlukan keterlibatan dunia pendidikan. Transfer pengetahuan diharapkan berjalan dua arah—dari praktik ke teori, dan dari teori kembali ke praktik.
Kedua pihak menargetkan implementasi program segera berjalan, mulai dari riset, magang, hingga kegiatan edukasi sanitasi berbasis masyarakat. Harapannya, kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga memberi dampak konkret bagi kualitas lingkungan kota.
Di tengah tantangan sanitasi perkotaan, langkah ini menjadi penanda bahwa solusi bisa lahir ketika kampus dan layanan publik duduk di meja yang sama—mencari jawaban atas persoalan yang mengalir bersama sungai-sungai Banjarmasin.(nau/KPO-1)















