Oleh : Dr. Sabariah, M.Pd.
Dosen Pascasarjana Prodi TEP, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Di era digital seperti sekarang, istilah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin sering terdengar, termasuk di dunia pendidikan. Banyak orang bertanya-tanya, apakah AI akan menggantikan guru? Atau justru menjadi teman baik yang membantu pekerjaan guru lebih ringan? Pertanyaan ini wajar, karena teknologi memang membawa perubahan besar, tapi seberapa besar dampaknya bagi profesi guru?
Oleh sebab itu AI dan otomatisasi memang menawarkan kemampuan yang luar biasa.
Misalnya, ada platform belajar digital yang bisa menilai jawaban siswa secara cepat, melacak perkembangan kemampuan mereka, bahkan menyesuaikan materi sesuai gaya belajar masing-masing. Bayangkan jika seorang guru tidak lagi harus menghabiskan berjam-jam hanya untuk mengoreksi tugas atau mengatur administrasi kelas. Semua ini bisa dilakukan oleh sistem AI dalam hitungan detik. Dengan begitu, guru punya lebih banyak waktu untuk hal-hal yang benar-benar manusiawi, seperti membimbing, memotivasi, dan menumbuhkan kreativitas siswa.
Di sisi lain, kekhawatiran tentang AI yang “menggantikan” guru tidak bisa diabaikan begitu saja. Teknologi kini mampu menyampaikan materi interaktif, menilai kinerja siswa, dan bahkan memberikan rekomendasi belajar secara otomatis. Beberapa percobaan di sekolah daring menunjukkan bahwa siswa bisa menerima materi dengan cepat dan sesuai tingkat kemampuan mereka. Tanpa pengawasan yang tepat, ada risiko interaksi sosial dan bimbingan moral yang biasanya hadir melalui guru bisa berkurang. Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membangun karakter, empati, dan budaya belajar yang sehat—hal-hal yang sulit digantikan oleh mesin.
Namun demikian, guru memiliki keunggulan yang sulit ditiru AI. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga mentor dan pembimbing. Mereka bisa membaca emosi siswa, menyesuaikan cara mengajar, bahkan memberi dukungan moral saat siswa mengalami kesulitan. AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu yang memperkuat kemampuan guru, bukan pengganti. Misalnya, dengan bantuan AI, guru bisa lebih fokus pada diskusi kreatif, proyek kolaboratif, atau kegiatan yang menumbuhkan rasa ingin tahu siswa.
Oleh sebab itu Penggunaan AI juga membuka kesempatan bagi guru untuk mengembangkan kompetensi baru. Guru masa kini tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga perlu memahami cara memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan proses belajar-mengajar. AI bisa memberikan data tentang pola belajar siswa, memprediksi kesulitan yang mungkin muncul, dan membantu guru menyesuaikan strategi pengajaran secara lebih tepat. Jadi, AI bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal kualitas pendidikan yang lebih berbasis informasi.
Penting diingat, keberhasilan AI dalam pendidikan sangat tergantung pada cara penggunaannya. Jika teknologi hanya digunakan sebagai alat “kotak hitam” yang menggantikan guru, interaksi manusiawi di kelas bisa hilang. Oleh karena itu, guru tetap harus memimpin proses belajar, menggunakan AI sebagai pendukung untuk membuat pembelajaran lebih personal, menarik, dan efektif. Sentuhan manusia tetap menjadi kunci dalam pendidikan.
Oleh sebab itu Keseimbangan menjadi hal yang paling penting. AI bisa mengotomatisasi tugas administratif, menyajikan materi adaptif, dan memberikan analisis cepat, sementara guru tetap menjadi inti dari proses belajar-mengajar. Dengan pendekatan ini, profesi guru tidak akan hilang, tetapi justru akan lebih relevan. Guru yang mampu memanfaatkan AI dengan bijak akan menjadi lebih kreatif, produktif, dan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang unik bagi setiap siswa.
Dengan demikian AI dan otomatisasi seharusnya dilihat sebagai peluang, bukan ancaman. Teknologi membantu guru bekerja lebih efisien dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting: membimbing siswa, menumbuhkan kreativitas, dan membangun karakter. Tantangan bagi guru adalah belajar beradaptasi, menguasai teknologi, dan menggunakan AI sebagai teman, bukan lawan.
Jadi, pertanyaan sebenarnya bukan lagi “Apakah AI akan menggantikan guru?”, tetapi “Bagaimana guru dan AI bisa bekerja sama untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik?” Jika guru mampu memanfaatkan teknologi dengan tepat, AI akan menjadi mitra yang memperkuat peran mereka, bukan menggantikan. Profesi guru tetap relevan, tetapi kini dengan kemampuan baru yang lebih adaptif di era digital.
Dengan pemikiran ini, AI bukanlah musuh, melainkan sahabat bagi pendidikan. Saat guru dan teknologi bekerja sama, siswa akan mendapat pengalaman belajar yang lebih kaya, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan abad ke-21. Pendidikan tetap manusiawi, tapi lebih cerdas dan efisien. Inilah kesempatan emas bagi guru untuk menunjukkan bahwa peran manusia tetap tak tergantikan, meski zaman berubah.













