Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Literasi sebagai Jalan Perdamaian

×

Literasi sebagai Jalan Perdamaian

Sebarkan artikel ini

(Refleksi Hari Lahir Pancasila 2026)

Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Di tengah berbagai konflik yang masih membayangi dunia, pertanyaan mendasar yang patut diajukan adalah: bagaimana perdamaian dapat diwujudkan dan dipertahankan? Berbagai upaya diplomasi, perjanjian internasional, hingga pembangunan ekonomi telah dilakukan, tetapi ketegangan, perang, polarisasi, dan konflik sosial tetap muncul dalam berbagai bentuk. Pada Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, ketika bangsa Indonesia mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, kita diajak merenungkan kembali bahwa perdamaian sejatinya tidak hanya dibangun melalui kesepakatan politik, tetapi juga melalui pembangunan cara berpikir masyarakat. Di sinilah literasi menemukan relevansinya.

Kalimantan Post

Selama ini, literasi sering dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi pada hakikatnya adalah kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, berpikir kritis, dan mengambil keputusan secara bijaksana. Literasi membentuk cara seseorang memandang dunia, memahami perbedaan, dan merespons berbagai persoalan kehidupan.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa banyak konflik berakar pada ketidaktahuan, prasangka, dan kegagalan memahami perspektif orang lain. Ketika seseorang hanya mengenal kelompoknya sendiri, ia mudah curiga terhadap yang berbeda. Ketika informasi yang diterima terbatas atau menyesatkan, kebencian dapat tumbuh lebih cepat daripada pemahaman. Sebaliknya, ketika seseorang terbiasa membaca, belajar, dan membuka diri terhadap berbagai sudut pandang, ruang dialog akan lebih mudah tercipta.

Dalam konteks inilah literasi menjadi jalan menuju perdamaian. Perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik. Perdamaian adalah hadirnya sikap saling menghormati, kemampuan berdialog, dan kesediaan mencari solusi bersama di tengah perbedaan. Semua itu membutuhkan masyarakat yang memiliki kecakapan literasi yang baik. Literasi membantu manusia melihat persoalan secara lebih utuh, tidak terjebak pada prasangka, serta mampu membedakan fakta dan opini.

Tantangan tersebut menjadi semakin penting di era digital saat ini. Kemajuan teknologi informasi telah menghadirkan kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Berbagai peristiwa dari belahan dunia lain dapat diakses secara langsung melalui gawai di tangan kita.

Baca Juga :  Pancasila dan Bangsa yang Mulai Kehilangan Empati

Namun, kemudahan tersebut membawa konsekuensi baru. Dunia digital tidak hanya mempercepat penyebaran pengetahuan, tetapi juga mempercepat penyebaran kebencian, hoaks, propaganda, dan disinformasi. Dalam banyak kasus, konflik sosial tidak lagi dipicu oleh pertemuan fisik, melainkan oleh narasi yang menyebar di ruang digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa akses informasi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat dalam memahami, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Di sinilah literasi menjadi benteng utama.

Seseorang yang memiliki literasi yang baik tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Ia terbiasa memeriksa sumber, mempertimbangkan konteks, dan melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. Sikap seperti inilah yang sangat dibutuhkan untuk menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam merawat keberagaman. Dengan ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, dan tradisi budaya, Indonesia membuktikan bahwa perbedaan tidak harus berakhir pada konflik. Keberagaman justru dapat menjadi kekuatan ketika dikelola melalui semangat persatuan.

Nilai tersebut tercermin dalam Pancasila. Sila kedua mengajarkan penghormatan terhadap kemanusiaan, sementara sila ketiga menegaskan pentingnya persatuan. Kedua sila tersebut sesungguhnya memiliki hubungan yang erat dengan literasi. Masyarakat yang literat cenderung lebih mampu memahami nilai kemanusiaan dan lebih terbuka terhadap keberagaman.

Karena itu, membangun budaya literasi bukan sekadar urusan pendidikan, melainkan juga bagian dari pembangunan karakter bangsa. Ketika masyarakat gemar membaca, berdiskusi, dan belajar sepanjang hayat, mereka sedang membangun fondasi sosial yang lebih damai dan toleran.

Peran tersebut menjadi semakin penting ketika dunia sedang menghadapi berbagai tantangan global. Konflik geopolitik, krisis kemanusiaan, perubahan iklim, hingga meningkatnya polarisasi politik menunjukkan bahwa dunia membutuhkan lebih banyak ruang dialog daripada ruang pertentangan. Dunia membutuhkan lebih banyak pemahaman daripada prasangka.

Baca Juga :  PEMIMPIN

Dalam situasi demikian, literasi dapat menjadi bentuk diplomasi kultural yang sangat efektif. Buku, perpustakaan, pendidikan, dan pengetahuan memiliki kemampuan mempertemukan manusia dari latar belakang yang berbeda tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing. Melalui literasi, seseorang dapat memahami pengalaman orang lain, merasakan penderitaan sesama manusia, dan membangun empati yang melampaui batas negara, agama, maupun budaya.

Tidak mengherankan jika banyak negara maju menempatkan budaya membaca dan pendidikan sebagai bagian penting dalam strategi pembangunan jangka panjang. Mereka menyadari bahwa perdamaian yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau militer, tetapi juga oleh kualitas pengetahuan dan karakter warganya.

Di Indonesia, upaya membangun budaya literasi memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Sekolah, keluarga, perguruan tinggi, media massa, komunitas literasi, hingga perpustakaan memiliki peran yang saling melengkapi. Gerakan literasi tidak boleh berhenti pada program seremonial, tetapi harus menjadi bagian dari budaya kehidupan sehari-hari.

Momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan bangsa tidak cukup dilakukan melalui slogan atau simbol semata. Persatuan memerlukan warga negara yang mampu berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan. Semua kualitas tersebut tumbuh melalui proses belajar yang panjang, dan literasi merupakan salah satu jalannya.

Pada akhirnya, perdamaian dunia tidak lahir secara tiba-tiba di ruang-ruang perundingan. Perdamaian tumbuh dari ruang kelas, perpustakaan, keluarga, dan komunitas yang menanamkan budaya membaca, berpikir, dan berdialog. Perdamaian lahir ketika manusia memilih memahami sebelum menghakimi, mendengarkan sebelum menyalahkan, serta belajar sebelum bereaksi.

Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki warisan nilai yang sangat berharga untuk ditawarkan kepada dunia. Salah satu cara mewujudkan warisan tersebut adalah dengan memperkuat budaya literasi. Sebab, di tengah dunia yang semakin kompleks dan terhubung, literasi bukan sekadar keterampilan hidup, melainkan jalan menuju persatuan, kemanusiaan, dan perdamaian yang berkelanjutan.

Iklan
Iklan