Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Mei di Banua: Ketika Jalanan Mengingat, Rakyat Bertanya, dan Kalimantan Selatan Menatap Masa Depan

×

Mei di Banua: Ketika Jalanan Mengingat, Rakyat Bertanya, dan Kalimantan Selatan Menatap Masa Depan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Wira Surya Wibawa, SH, MH
Koordinator Social Justice Institute Kalimantan

Mei selalu memiliki cara tersendiri untuk mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari dan menoleh ke belakang, melihat jejak-jejak sejarah yang membentuk perjalanan bangsa sekaligus memandang ke depan untuk membayangkan masa depan yang ingin dibangun bersama, sebab di bulan inilah berbagai momentum penting bertemu dalam satu ruang waktu yang sama, mulai dari Hari Buruh pada 1 Mei, Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei, Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei, Hari Reformasi pada 21 Mei, hingga berbagai peringatan sosial, budaya, dan lingkungan yang menjadi cermin kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan yang sepanjang Mei seolah menjadi ruang refleksi besar tentang apa yang telah dicapai, apa yang masih menjadi persoalan, dan ke mana arah pembangunan daerah ini akan dibawa di tengah berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks. Dari Banjarmasin sebagai kota perdagangan yang terus tumbuh, Banjarbaru sebagai ibu kota provinsi yang sedang membangun identitas baru, hingga kabupaten-kabupaten seperti Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru yang masing-masing memiliki dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berbeda-beda, bulan Mei menghadirkan berbagai percakapan tentang pendidikan, kesejahteraan, demokrasi, lingkungan hidup, kebudayaan, serta masa depan generasi muda yang sesungguhnya saling terhubung satu sama lain seperti aliran sungai yang bermuara pada laut yang sama.

Kalimantan Post

Peringatan Hari Pendidikan Nasional misalnya, kembali mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal gedung sekolah, kurikulum, atau angka statistik kelulusan, melainkan tentang bagaimana manusia dibentuk menjadi pribadi yang merdeka dalam berpikir dan mampu menghadapi tantangan zamannya, namun ketika kita melihat kondisi pendidikan di Kalimantan Selatan hari ini, masih terdapat berbagai persoalan yang memerlukan perhatian serius, mulai dari kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedalaman, keterbatasan akses terhadap fasilitas pendidikan yang memadai, hingga tantangan ekonomi yang membuat sebagian anak muda harus berjuang lebih keras untuk melanjutkan pendidikan mereka, sementara pada saat yang sama dunia sedang berubah begitu cepat akibat perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan transformasi ekonomi global yang menuntut kemampuan baru yang belum tentu seluruh lembaga pendidikan mampu menjawabnya dengan cepat. Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja tetapi juga warga negara yang mampu berpikir kritis terhadap persoalan sosial, mampu memahami krisis lingkungan yang sedang berlangsung, serta mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang semakin kompetitif dan individualistik, sebab jika pendidikan hanya menghasilkan tenaga kerja tanpa menghasilkan kesadaran sosial, maka kita sedang membangun generasi yang mungkin cerdas secara teknis tetapi kehilangan kemampuan untuk memahami persoalan masyarakatnya sendiri.

Pada saat yang sama, Hari Buruh yang diperingati setiap awal Mei mengingatkan bahwa di balik berbagai angka pertumbuhan ekonomi yang sering dipamerkan dalam laporan pembangunan, terdapat jutaan pekerja yang menjadi fondasi utama roda perekonomian daerah, mulai dari pekerja perkebunan sawit yang bekerja di bawah terik matahari, pekerja tambang yang berhadapan dengan risiko keselamatan setiap hari, buruh pelabuhan yang menopang distribusi barang, pekerja sektor jasa, guru honorer, tenaga kesehatan, hingga pekerja informal yang sering kali tidak terlihat dalam statistik resmi, namun justru menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi ketidakpastian ekonomi. Kalimantan Selatan selama bertahun-tahun dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, namun pertanyaan yang terus muncul adalah sejauh mana kekayaan tersebut benar-benar memberikan manfaat yang merata bagi masyarakat luas, sebab pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan peningkatan kualitas hidup seluruh warga, dan pembangunan tidak selalu berarti keadilan. Di tengah berbagai investasi yang masuk dan berbagai proyek pembangunan yang berjalan, masih terdapat masyarakat yang kesulitan mendapatkan pekerjaan layak, masih ada pekerja yang menghadapi persoalan upah, jaminan sosial, keselamatan kerja, dan kepastian masa depan, sehingga peringatan Hari Buruh sesungguhnya bukan hanya tentang tuntutan ekonomi tetapi juga tentang pengakuan atas martabat manusia yang bekerja untuk menghidupi keluarga mereka setiap hari.

Baca Juga :  PENGHARGAAN

Momentum Reformasi yang setiap tahun diperingati pada 21 Mei juga menghadirkan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab, yakni sejauh mana cita-cita reformasi telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Reformasi bukan sekadar peristiwa politik yang mengganti rezim kekuasaan, melainkan sebuah harapan besar tentang lahirnya pemerintahan yang lebih terbuka, lebih adil, lebih demokratis, dan lebih berpihak kepada rakyat, namun hampir tiga dekade setelah reformasi bergulir, berbagai persoalan lama masih tetap hadir dalam wajah yang berbeda. Korupsi masih menjadi ancaman serius bagi pembangunan, ketimpangan sosial masih terlihat di berbagai tempat, konflik sumber daya alam masih terjadi, sementara partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan sering kali belum sepenuhnya mendapatkan ruang yang setara. Di Kalimantan Selatan, reformasi telah membuka peluang bagi tumbuhnya organisasi masyarakat sipil, komunitas anak muda, kelompok lingkungan, organisasi mahasiswa, serta berbagai ruang diskusi publik yang sebelumnya mungkin sulit dibayangkan, tetapi demokrasi yang sehat tidak cukup hanya diukur dari kebebasan berbicara, melainkan juga dari kemampuan negara untuk mendengar dan merespons suara masyarakat secara adil dan bertanggung jawab.

Persoalan lingkungan hidup menjadi salah satu isu yang paling sering muncul dalam berbagai diskusi sepanjang bulan Mei, terutama karena Kalimantan Selatan merupakan wilayah yang memiliki hubungan sangat erat dengan alam. Sungai-sungai yang membelah Banua bukan hanya jalur transportasi atau sumber air, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat. Hutan-hutan yang dahulu menjadi penyangga kehidupan kini menghadapi tekanan yang semakin besar akibat berbagai aktivitas ekonomi. Dalam beberapa dekade terakhir, perubahan bentang alam terjadi begitu cepat sehingga memunculkan berbagai dampak ekologis yang mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat, mulai dari banjir, penurunan kualitas lingkungan, pencemaran sungai, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati. Di satu sisi pembangunan ekonomi memang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi di sisi lain pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan justru dapat menciptakan persoalan baru yang jauh lebih mahal untuk diselesaikan di masa depan. Oleh karena itu, tantangan terbesar Kalimantan Selatan bukanlah memilih antara pembangunan atau lingkungan hidup, melainkan menemukan cara agar keduanya dapat berjalan beriringan sehingga generasi mendatang tidak mewarisi kerusakan yang harus mereka tanggung sendiri.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, ada satu hal yang memberi harapan yakni semakin aktifnya generasi muda dalam berbagai ruang sosial dan kebudayaan. Di berbagai kota dan kabupaten, anak-anak muda mulai membangun komunitas baca, mengadakan diskusi publik, menggelar pameran seni, melakukan kampanye lingkungan, menghidupkan kembali sejarah lokal, hingga menciptakan ruang-ruang alternatif untuk bertukar gagasan tentang masa depan daerah mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda Banua tidak sedang diam menghadapi perubahan zaman. Mereka mungkin tidak selalu hadir dalam ruang politik formal, tetapi mereka hadir melalui karya, gagasan, gerakan komunitas, dan berbagai bentuk partisipasi sosial yang memperlihatkan bahwa kesadaran kritis masih tumbuh di tengah masyarakat. Dalam banyak hal, energi anak muda merupakan salah satu aset terbesar yang dimiliki Kalimantan Selatan hari ini, sebab pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan modal ekonomi tetapi juga modal sosial, kreativitas, dan imajinasi kolektif tentang masa depan yang ingin diwujudkan bersama.

Baca Juga :  Dehumanisme Muslim Pelestina Oleh Zionis, Makin Mengkhawatirkan

Seluruh rangkaian peringatan yang berlangsung sepanjang Mei pada akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat penting, yakni pentingnya mendengarkan. Mendengarkan guru yang berbicara tentang pendidikan yang membebaskan, mendengarkan buruh yang berbicara tentang keadilan ekonomi, mendengarkan petani yang berbicara tentang ketahanan pangan, mendengarkan nelayan yang berbicara tentang laut yang semakin berubah, mendengarkan masyarakat adat yang berbicara tentang tanah dan identitas, mendengarkan aktivis lingkungan yang berbicara tentang keberlanjutan, dan mendengarkan generasi muda yang berbicara tentang masa depan yang mereka impikan. Sebab sering kali masalah bukan muncul karena masyarakat tidak memiliki gagasan, melainkan karena terlalu sedikit ruang yang tersedia untuk mendengar gagasan tersebut. Di tengah kebisingan informasi dan pertarungan kepentingan yang semakin kompleks, kemampuan untuk mendengarkan mungkin menjadi salah satu bentuk kepemimpinan yang paling dibutuhkan hari ini.

Ketika Mei perlahan meninggalkan kalender dan berganti dengan bulan-bulan berikutnya, berbagai spanduk peringatan akan diturunkan, panggung-panggung diskusi akan dibongkar, berita-berita akan berganti dengan isu baru, tetapi pertanyaan-pertanyaan yang lahir sepanjang bulan ini seharusnya tidak ikut menghilang. Sebab masa depan Kalimantan Selatan tidak ditentukan oleh satu peristiwa atau satu kebijakan semata, melainkan oleh kemampuan seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga dialog tentang pendidikan, kesejahteraan, demokrasi, lingkungan hidup, dan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan yang sesungguhnya. Banua hari ini sedang berdiri di persimpangan penting antara pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan dan berbagai tantangan sosial-ekologis yang tidak boleh diabaikan, sehingga pilihan yang diambil sekarang akan menentukan wajah daerah ini puluhan tahun ke depan. Apakah Kalimantan Selatan hanya akan dikenang sebagai daerah yang kaya sumber daya alam atau sebagai daerah yang berhasil mengubah kekayaan tersebut menjadi kesejahteraan yang adil, pendidikan yang berkualitas, lingkungan yang lestari, demokrasi yang sehat, dan kehidupan yang bermartabat bagi seluruh warganya, adalah pertanyaan yang jawabannya sedang ditulis bersama oleh masyarakat hari ini. Dan selama masih ada guru yang mengajar dengan penuh pengabdian, buruh yang bekerja dengan penuh harapan, petani yang menanam dengan penuh kesabaran, nelayan yang melaut dengan penuh keberanian, seniman yang berkarya dengan penuh cinta, aktivis yang menjaga nurani publik, serta anak-anak muda yang tidak berhenti bermimpi tentang masa depan yang lebih baik, maka harapan bagi Kalimantan Selatan akan selalu ada, menyala seperti lampu kecil di tepian sungai yang tetap bertahan menghadapi gelap malam dan terus menunjukkan arah bagi siapa saja yang masih percaya bahwa perubahan menuju Banua yang lebih adil, lestari, demokratis, dan bermartabat adalah sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan bersama.

Izin mengirimkan opini dan tulisan saya semoga bisa bantu di publikasikan atau disebarkan

Iklan
Iklan