Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Warisan Imam Bukhari Jembatan Spiritual Pemersatu Dua Bangsa

×

Warisan Imam Bukhari Jembatan Spiritual Pemersatu Dua Bangsa

Sebarkan artikel ini
IMG 20260806 WA0048
Qobilov Nodir Peneliti Imam Bukhari International Scientific Research Center Samarkand, Uzbekistan

Oleh : Qobilov Nodir
Peneliti Imam Bukhari International Scientific Research Center Samarkand, Uzbekistan

Indonesia merupakan salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Uzbekistan, dan hubungan diplomatik antara kedua negara resmi dibangun pada tanggal 23 Juni 1992. Sejak saat itu, kerja sama yang konsisten telah terjalin di bidang politik, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Presiden Shavkat Mirziyoyev, kerja sama dengan Indonesia telah mencapai tingkat yang baru.

Kalimantan Post


Di antara kedua negara, kerja sama antarparlemen, hubungan dagang-ekonomi, pariwisata, kerja sama keagamaan-pendidikan, serta hubungan di bidang pendidikan tinggi terus berkembang pesat. Di bidang pariwisata, misalnya, jumlah peziarah dari Indonesia yang datang ke Uzbekistan terus meningkat setiap tahunnya. Hubungan antara Uzbekistan dan Indonesia didasarkan pada nilai-nilai Islam universal, warisan spiritual, dan prinsip saling menghormati. Meskipun secara geografis terletak berjauhan, kedua negara dipersatukan oleh kontribusi besar mereka terhadap peradaban Islam.


Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sementara Uzbekistan adalah salah satu pusat utama berkembangnya ilmu pengetahuan Islam. Warisan para ulama besar yang lahir di kota-kota seperti Samarkand, Bukhara, dan Termez merupakan kekayaan spiritual yang tak ternilai, tidak hanya bagi Muslim Asia Tengah, tetapi juga bagi Muslim Asia Tenggara. Imam Bukhari tidak hanya menjadi kebanggaan Uzbekistan, tetapi juga seluruh umat Islam dunia. Nama Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari (810–870) menempati tempat yang istimewa di hati umat Islam Indonesia, dan kumpulan haditsnya, “Al-Jami’ ash-Shahih”, diajarkan sebagai sumber utama hadits di ribuan lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Imam Bukhari adalah simbol spiritual yang mempersatukan kedua bangsa.
Para ulama dari organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, juga menunjukkan rasa hormat yang mendalam terhadap warisan Imam Bukhari. Di ratusan pesantren dan universitas Islam di seluruh negeri, “Shahih al-Bukhari” diajarkan sebagai buku teks tetap. Bagi umat Muslim Indonesia, datang ke Samarkand dan berziarah ke makam Imam Bukhari merupakan cita-cita yang sakral, sehingga pengembangan wisata ziarah di Uzbekistan telah menjadi arah penting dalam hubungan antara kedua negara.


Salah satu peristiwa penting dalam sejarah hubungan Uzbekistan-Indonesia adalah kunjungan kenegaraan Presiden pertama Republik Indonesia, Ahmad Soekarno, ke Uni Soviet pada tahun 1956. Kunjungan Ahmad Soekarno ke makam Imam Bukhari di awal kunjungannya telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah dan menjadi titik balik penting bagi pemulihan tempat suci ini. Pada waktu itu, Uni Soviet yang mulai terisolasi di dunia mulai memperhatikan pengembangan hubungan ekonomi dan politik dengan dunia Muslim, sehingga mereka menjalin kembali hubungan dengan Indonesia dan berusaha menarik Soekarno ke dalam lingkup pengaruh mereka. Presiden Soekarno datang ke Moskow untuk kunjungan resmi pada tahun 1956, dan meskipun Moskow menyambutnya dengan hangat serta menawarkan bantuan ekonomi dan militer, ia justru menyampaikan permintaan kepada pejabat setempat: “Saya ingin berziarah ke makam Imam Bukhari, seorang ahli hadits besar.”

Baca Juga :  Ketahanan Pangan Banua


Setelah Presiden tamu tersebut tetap pada permintaannya, Nikita Khrushchev memberi perintah untuk mencari makam tersebut. Pada saat itu, karena kebijakan ateis era Soviet, makam Imam Bukhari terbengkalai dan lokasinya tidak diketahui secara pasti oleh khalayak luas. Keinginan Soekarno mendorong pejabat setempat untuk mencari makam Imam Bukhari, dan dengan bantuan para sesepuh serta ulama setempat di Samarkand, makam di desa Hartang berhasil diidentifikasi. Presiden Soekarno pun mengunjungi tempat tersebut dan membacakan Al-Qur’an. Peristiwa ini disebutkan dalam sejumlah memoar, karya sejarawan lokal, dan sumber-sumber jurnalistik. Meskipun beberapa detailnya tidak sepenuhnya tercakup dalam dokumen arsip, banyak peneliti menekankan bahwa kunjungan Soekarnolah yang menjadi pendorong perhatian tingkat negara terhadap makam Imam Bukhari, karena setelah kunjungannya, area sekitar makam mulai dibersihkan dan pekerjaan perbaikan dilakukan.


Setelah Uzbekistan memperoleh kemerdekaan, atas inisiatif Presiden Islam Karimov, perhatian mulai diberikan untuk membangun kembali makam Imam Bukhari. Pada tahun 1998, peringatan 1225 tahun kelahiran Imam Bukhari dirayakan secara luas dengan partisipasi UNESCO. Pada tahun 2017, atas inisiatif dan tindakan nyata Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev, penelitian tentang warisan ilmiah Imam Bukhari dan penyebarluasannya kepada masyarakat luas diangkat ke tingkat kebijakan negara, sekaligus mendirikan Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari pada tahun yang sama. Hingga saat ini, pusat ini memiliki peran penting dalam mempelajari warisan Imam Bukhari dan ulama lain yang lahir di tanah Uzbekistan, menerjemahkan karya-karya mereka, serta mewariskannya kepada generasi muda. Pada tahun 2026, Pusat Peradaban Islam dan kompleks Imam Bukhari telah selesai dibangun dan beroperasi sebagai pusat ilmiah-budaya yang menampilkan warisan spiritual Uzbekistan dalam skala internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, atas inisiatif Presiden Shavkat Mirziyoyev, sebuah kompleks memorial yang megah dan sesuai dengan martabat Imam Bukhari juga dibangun di desa Hartang,

termasuk makam yang indah dan masjid yang agung, sehingga kompleks ini telah berubah menjadi pusat ziarah internasional yang disambut dengan penuh minat oleh masyarakat Indonesia.


Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara Uzbekistan dan Indonesia telah meningkat ke tingkat baru dalam dialog politik, hubungan dagang-ekonomi, investasi, pariwisata, dan bidang budaya-kemanusiaan. Kedua negara dipersatukan oleh nilai-nilai sejarah-budaya yang sama, warisan peradaban Islam, dan keinginan untuk kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan. Tahap-tahap baru kerja sama Uzbekistan-Indonesia berkembang di berbagai bidang. Pertama, di bidang dagang-ekonomi, pada tahun 2025-2026 omset perdagangan meningkat secara signifikan, dengan peningkatan sebesar 82 persen pada akhir tahun 2025, yang menunjukkan hubungan ekonomi kedua negara telah mencapai tahap baru melalui perluasan ekspor produk pertanian, pengembangan perdagangan produk pangan, kerja sama di industri farmasi dan kimia, serta peningkatan ekspor produk tekstil.
Kedua, dimulainya negosiasi resmi mengenai Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uzbekistan (IU-FTA) menjadi salah satu peristiwa terpenting, di samping pembentukan Kelompok Kerja Bersama untuk perdagangan dan investasi, penandatanganan perjanjian kerja sama di bidang perdagangan-investasi, serta upaya pengurangan hambatan tarif dan non-tarif.

Baca Juga :  Cinta Negeri

Ketiga, Indonesia telah menyepakati investasi di Uzbekistan untuk industri kimia, farmasi, pertanian, industri pangan, dan produksi produk halal, sementara kerja sama saling mengakui sertifikat halal juga ditetapkan sebagai arah penting. Keempat, di bidang pariwisata, kedua negara berfokus pada pengembangan wisata ziarah dengan rencana membuka penerbangan langsung dari Indonesia ke Samarkand dan Bukhara, menyelenggarakan familiarization trip bagi perusahaan perjalanan Indonesia, mengembangkan infrastruktur perhotelan, membuka restoran masakan nasional, serta mempromosikan potensi wisata ziarah Uzbekistan di Indonesia. Penandatanganan nota kesepahaman antara Kedutaan Besar Uzbekistan di Indonesia untuk “Umrah Plus” dan Badan Pariwisata Internasional merupakan langkah awal, yang kelak akan mengatur peziarah Indonesia melakukan perjalanan Umrah melalui Samarkand dan Bukhara, dengan perkiraan 150-200 ribu peziarah setiap tahunnya mengunjungi kota-kota bersejarah tersebut sebelum melanjutkan perjalanan Umrah.


Kelima, di bidang politik dan diplomatik, Kementerian Luar Negeri dan komisi antar pemerintah kedua negara secara rutin mengadakan pertemuan untuk membahas isu saling mendukung dalam organisasi internasional, keamanan, stabilitas regional, perang melawan terorisme, masalah Afghanistan, dan masalah Palestina. Keenam, di bidang pendidikan dan budaya-kemanusiaan, kedua negara memperluas pertukaran pelajar, mempelajari warisan peradaban Islam, mengembangkan kerja sama universitas, serta menyelenggarakan acara budaya dan pameran.

Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari di Uzbekistan juga telah bekerja sama dengan sejumlah universitas di Indonesia dalam penelitian bersama di bidang ilmu hadits, studi naskah kuno, konferensi internasional, pertukaran ilmuwan dan ulama spesialis, pertukaran pelajar, serta persiapan publikasi ilmiah, yang semakin memperkuat kedekatan spiritual antara kedua negara. Ketujuh, di bidang industri halal, Indonesia dengan populasi Muslim terbesarnya memiliki pengalaman besar dalam ekonomi halal, sehingga arah kerja sama prospektif meliputi pengembangan sistem sertifikasi halal, keuangan Islam, kosmetik halal, industri makanan halal, dan pariwisata Muslim.
Sebagai kesimpulan, hubungan Uzbekistan dan Indonesia berkembang dari persahabatan tradisional menuju kemitraan ekonomi strategis. Dimulainya negosiasi perjanjian perdagangan bebas, perluasan proyek investasi, pengembangan wisata ziarah, kerja sama di industri halal, serta aktifnya dialog politik membawa hubungan kedua negara ke tingkat kualitas yang baru, dan proses ini diharapkan dapat semakin memperkuat hubungan ekonomi dan budaya antara Asia Tengah dan Asia Tenggara. Hubungan Uzbekistan dan Indonesia tidak hanya didasarkan pada kepentingan diplomatik, tetapi juga pada warisan spiritual yang sama, di mana warisan ilmiah Imam Bukhari yang kaya menempati tempat yang istimewa. Seperti yang telah disebutkan, kunjungan Presiden Ahmad Soekarno ke Samarkand pada tahun 1956 dan keinginannya untuk berziarah ke makam Imam Bukhari dinilai sebagai salah satu peristiwa sejarah penting dalam pemulihan perhatian terhadap tempat suci ini. Saat ini, warisan Imam Bukhari sepenuhnya berfungsi sebagai jembatan spiritual yang mendekatkan masyarakat Uzbekistan dan Indonesia, serta mempromosikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, pendidikan, dan toleransi.

Iklan
Iklan