Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

SERAMBI MEKKAH

×

SERAMBI MEKKAH

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIR B

Sebelum ditemukannya mesin uap yang kemudian menjadi mesin kapal api berbahan bakar batubara, perjalanan haji dari Nusantara ke Tanah Suci hanyalah menggunakan perahu atau perahu layar. Bahkan setelah digunakannya kapal api pun, di antara jemaah haji masih ada yang menggunakan perahu layar. Menurut informasi Prof HM Asywadie Syukur, Lc, ayah beliau H Abdul Syukur ketika berhaji tahun 1937 masih menggunakan perahu, dengan lama perjalanan pergi dan pulang satu tahun, padahal saat itu sudah banyak digunakan kapal api milik Belanda untuk memberangkatkan jemaah Nusantara ke tanah suci. Bagi urang Banjar hal itu tidak aneh, karena tradisi menggunakan perahu berlayar menyeberang laut untuk berdagang sudah biasa dan dilakukan sejak lama, terlebih di masa Kesultanan Banjar sebagai sebuah Negara Maritim. (Djantera Kawi, 2011: 194).

Kalimantan Post

Perjalanan menggunakan perahu atau perahu layar ke tanah suci waktunya lama. Mengutip ceramah KH Zainuddin MZ (alm), dulu orang Nusantara, khususnya dari Betawi, kalau berhaji sangat lama, lebih setahun, itu pun kalau khusus berhaji saja, tidak sambil bekerja atau menuntut ilmu. Ketika orang masih mengingat namanya, sang haji tidak muncul-muncul. Kabar beritanya juga tidak ada, sehingga orang tak tahu lagi apakah yang bersangkutan masih hidup atau sudah meninggal. Giliran orang sudah lupa dia muncul, berhasil pulang ke tanah air dengan selamat.

Perahu layar biasanya singgah selama beberapa waktu di Aceh atau tempat lainnya, sambil menunggu angin baik untuk berlayar. Begitu juga ketika pulang, kembali mereka singgah di Aceh, untuk menunggu angin baik guna berlayar ke Banjarmasin. Aceh saat itu berperan sebagai pelabuhan tempat transit. Karena itulah Aceh disebut sebagai Serambi Makkah, maksudnya serambi atau teras menunggu untuk berangkat ke tanah suci, juga transit ketika pulang dari tanah suci.

Menghitung keadaan cuaca dan menunggu angin baik untuk menghindari gelombang besar, termasuk juga dalam penerbangan modern, memang bagian dari tuntunan agama dalam bepergian. Dalam sebuah hadis, “Barangsiapa yang berlayar di lautan ketika sedang bergelombang lalu tenggelam, maka Allah berlepas diri dari kecerobohannya”. (Imam Ahmad). Hadis ini menunjukkan bahwa gelombang laut merupakan hukum alam, dan karenanya perlu kehati-hatian, kecermatan dan perhitungan untuk menghindari bahaya. Disertai dengan doa bepergian untuk memohon keselamatan, misalnya: “Bismillahi majreha wa mursaha inna rabbi laghafururrahim” (Dengan nama Allah mulai saat berlayar hingga berlabuhnya, sungguh Tuhanku Maha Pengampun lagi Pemurah).

Baca Juga :  Menakar Air Mata Diaspora di Balik Pekatnya Kurs Rp18.000

Menurut akademisi UIN Antasari, M Rusydi (2014: 484), Aceh saat itu merupakan terminal bagi jemaah haji yang akan berangkat ke tanah suci atau mereka yang akan kembali ke tanah air. Sebab Aceh selain merupakan pelabuhan terakhir Nusantara, juga memiliki hubungan baik dengan Haramain (Makkah dan Madinah). Azyumardi Azra menyebut, hubungan baik itu misalnya dibuktikan diberikannya stempel emas Baitul Haram kepada Sultan Aceh, dan sejak 1570-an Aceh secara reguler menerima ulama terkemuka dari Hijaz, Mesir dan Gujarat.

Senada, Martin van Bruinessen mengatakan, sebelum adanya kapal api, perjalanan haji dilakukan dengan perahu layar yang sangat tergantung kepada musim. Para jemaah haji menumpang kapal dagang, dan hal ini menjadikan mereka sering berpindah kapal. Perjalanan mereka melalui beberapa pelabuhan di Nusantara berakhir di Aceh, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke India lalu ke Hadramaut-Yaman atau langsung ke Jeddah. Selama berada di Aceh, mereka mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang berkembang di Aceh saat itu.

Jadi, melalui perjalanan yang lama sambil menunggu angin baik, para jemaah haji Banjar dulu tidak tinggal santai dan tidur di kapal atau pelabuhan saja. Selama di Aceh mereka menyempatkan diri untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Menurut sejarawan ULM, Mansur Sammy (22 Juli 2020), hal ini menjadi salahsatu faktor mengapa keberagamaan muslim Banjar, misalnya di segi tauhid, fikih dan tasawuf, ada kesamaan dengan muslim Aceh.

Menurut wartawan Kalimantan Post Rofi Zardaida yang kini berkegiatan di Uzbekistan, dalam sejarahnya jemaah haji yang berangkat ke tanah suci dengan perahu, layar atau kapal laut, lebih dahulu singgah di pulau Rubiah, Sabang Aceh. Di sana mereka dibekali/membekali diri dengan pemahaman tentang Rukun Islam, Rukun Iman, dan hal-hal terkait dengan ibadah haji. Karena itulah Aceh lebih relevan menyandang predikat sebagai kota Serambi Makkah dibanding kota-kota atau daerah-daerah lainnya di Nusantara. (Kalimantan Post, 17 Mei 2023).

Penelitian Ismuha (1983: 19), di Aceh banyak dipelajari kitab-kitab agama, di antaranya kitab Shirathal Mustaqim karya Syekh Nuruddin ar-Raniry dan kitab Sabilal Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yang keduanya mengandung kemiripan. Penelitian Abu Hamid (1983: 339) menyebutkan bahwa Aceh merupakan asal atau pusat penyebaran Islam di Nusantara. Misalnya dakwah Islam di Sulawesi dilakukan oleh tiga orang datuk, yaitu Datuk ri Bandang, Datuk Pattimang dan Datuk ri Tiro. Mereka berasal dari Minang namun belajar di Aceh, kemudian oleh Sultan Aceh dikirim ke Sulawesi untuk berdakwah atas permintaan raja-raja di sana, dalam hal ini para raja Gowa-Tallo, Bone dan lain-lain. Belakangan mereka juga mendakwahkan Islam ke Kalimantan Timur, khususnya di Kutai Kartanagara.

Baca Juga :  Bebersih Sungai Bukan Seremonial

Ketiga datuk mengajarkan Islam sesuai dengan ilmu yang mereka pelajari di Aceh, misalnya di segi tauhid banyak diajarkan tentang Sifat Dua Puluh, di segi fikih diajarkan fikih Mazhab Syafi’i, dan di segi tasawuf banyak diajarkan tasawuf falsafi (seperti ajaran Wujudiyah dan Nur Muhammad) dan tasawuf amali seperti amalan-amalan zikir tarekat, juga tentang syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat.

Dari sini banyak ulama di Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Bugis-Makassar, yang biasa disebut Anre-Gurutta, ajarannya relatif sama dengan ulama yang ada di tanah Banjar. Diperkirakan sesudah Islam tersebar di Sulawesi Selatan, para pelaut Bugis juga banyak berlayar ke Aceh dan daerah lainnya untuk belajar agama, berdagang, menjadi nelayan, dan mungkin juga sekaligus berhaji sebagaimana para haji Banjar.

Begitu juga menurut kajian Dr Fakhriati (2017), peneliti dari Aceh yang bekerja di Badan Litbang Kementerian Agama RI Jakarta, keislaman masyarakat Aceh ada kemiripan dengan Brunei, mungkin karena adanya interaksi yang kuat antara kedua daerah/negara tersebut di masa lalu. Bisa jadi banyak orang Brunei yang belajar Islam ke Aceh, Pasai dan sebagainya, di samping mereka juga mempelajari agama Islam langsung ke sumbernya yaitu Haramain.

Pastinya lautan Nusantara, lautan Hindia hingga laut Arab ketika itu sudah ramai dengan aktivitas pelayaran, baik untuk kepentingan perdagangan, misi budaya dan persahabatan, dakwah Islam, juga sebagai lalu lintas orang berhaji. Dengan keahliannya, para nakhoda kapal berani menyeberang lautan untuk mengantar orang berhaji dan kemudian membawa mereka pulang.

Iklan
Iklan