Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Olahraga

Perlukah Program Naturalisasi Pemain Dilanjutkan? Usai 12 Pemain Diaspora Bermain di Liga Super Indonesia

×

Perlukah Program Naturalisasi Pemain Dilanjutkan? Usai 12 Pemain Diaspora Bermain di Liga Super Indonesia

Sebarkan artikel ini
IMG 20260705 WA0020 e1783249860211
Sebanyak 12 pemain naturalisasi dan dulunya berstatus diaspora sekarang bergabung di Super League Liga Indonesia. (Kalimantanpost.com/Instagram garudafansbook_)

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Dua pemain diaspora yang sebelumnya bermain di klub luar negeri, Ragnar Oratmangoen dan Sandy Walsh akhirnya tak kuat menahan godaan, ikut bergabung di klub Liga Super Indonesia musim 2026/2027.

Ragnar yang sebelumnya bermain di klub Liga Belgia, Dender dan Sandy Walsh yang pernah membela klub Liga Belgia, Liga Jepang dan terakhir Buriram United (Thailand) akhir ‘menerima bujukan’ untuk memperkuat Persib Bandung.

Kalimantan Post

Sebelumnya, Persib sudah berhasil menggoda Thom Haye yang sempat bermain Almere City dan Eliano Reijnders di klub PEC Zwolle Liga Eredivisie Liga Belanda.

Berarti hingga saat ini sudah ada 12 pemain naturalisasi yang bermain di Liga Indonesia. Selain Ragnar, Sandy Walsh, Eliano dan Thom Haye, juga ada Dion Markx (dari TOP Oss ke Persib Bandung), Mauro Zijlstra (dari Volendam ke Persija Jakarta), Shayne Pattynama (dari Buriram United ke Persija Jakarta).

Lalu, Jordi Amat ari JDT ke Persija Jakarta), Cyrus Margono (dari Dukagjini ke Persija Jakarta), Rafael Struick (dari Brisbane Roar ke Dewa United), Ivar Jenner (dari FC Utrecht ke Dewa United) dan Jens Raven (dari FC Dordrecht ke Bali United).

Alasan klub-klub Liga 1 merekrutnya agar bisa bersaing di kompetisi antar klub Asia dan mungkin bisa memenuhi ambisi meraih juara Piala AFF yang belum pernah dirasakan.

Saat ini hanya beberapa pemain yang betah tampil di Liga Eropa seperti sang kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes bersama Sassoulo Serie A Liga Italia, Kevin Diks di klub Bundesliga, Borussia Mönchengladbach, Calvin Verdonk bersama klub Lille Liga Perancis.

Juga ada Dean James yang bermain di Go Ahead Eagles, Justin Hubner di klub Fortuna Sittard bersama Ole Romeney yang akan bergabung ke Fortuna Sittard Liga Eredivisie Liga Belanda, Elkan Baggott Ipwich Town FC, Emil Audero Mulyadi di klub Como Liga Italia, Maarten Paes bersama Ajax Amsterdam, Nathan Tjoe-A-On di klub Willem II Liga Belanda dan Joey Pelupessy yang menjadi pemain inti di Lommel SK Liga Belgia.

Baca Juga :  FC Emmen tak Perpanjang Kontrak Abroad Timnas Indonesia, Tim Geypens

Beberapa pemain diaspora seperti Justin Hubner, Oke Romeney, Joey juga sempat digoda untuk membela klub Liga 1, untungnya masih konsisten bertahan bermain di Liga Eropa.

Namun, pemain lainnya, dengan godaan gaji lebih besar tapi latihan dan kompetisi yang tak begitu berat, membuat mereka tergoda.

Apa pun alasannya, tujuan awal naturalisasi pemain diaspora tersebut agar para pemain tetap bermain di Eropa dengan asmofir kompetisi yang begitu tinggi, latihan disiplin ketat, sehingga skill, teknik dan fisik tetap terjaga saat membela Timnas Indonesia mengikuti turnamen internasional seperti Piala Asia maupun kualifikasi Piala Dunia.

Sejak program Naturalisasi di mulai pada tahun 2022, kehadiran pemain diaspora mampu mendongkrak prestasi Timnas sepakbola Indonesia dari peringkat 170-an terus naik hingga 118 di tahun 2026.

Begitu juga, Timnas Indonesia pun mampu melangkah ke putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia dan mampu mengalahkan tim tangguh Arab Saudi, China, Qatar dan lain-lain.

Namun, dengan semakin banyaknya pemain naturalisasi bermain di Super League dikhawatir permainan Timnas Indonesia akan menurun. Ini disebabkan kompetisi Liga Indonesia yang kualitasnya di bawah Jepang, Korea bahkan tim Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia maupun Vietnam bahkan Kamboja.

Belum lagi kompetisi Super League yang kurang begitu kompetitif, akan berdampak fisik dan stamina pemain tak sebagus sewaktu mereka masih bermain di Liga Eropa.

Contohnya, beberapa pemain diaspora yang sebelumnya bermain di Liga Eropabseperti Eliano, Rafael Struick, Witan Sulaiman dan Egy Maulana Vikri, permainan, visi bermain dan fisiknya cukup bagus. Ironisnya, etelah bergabung ke klub Liga 1, permainan jauh menurun akibat tak ditunjang fisik yang perima, sehingga tak masuk tim inti Timnas Indonesia lagi.

Baca Juga :  Comeback Belgia Singkirkan Senegal 3-2

Nah, apabila pemain diaspora, terutama yang masih potensial seperti Ivar Jenner, Eliano, Rafael Struick dan lain-lain bila tetap bertahan di Liga 1, dikhawatirkan membuat permainan menurun, karena kualitasnya dianggap setara dengan pemain lokal dan kalah bersaing dengan pemain asing Super League yang sebenarnya hanya bermain di klub Serie C Liga Italia atau tim-tim papan bawah Liga Eropa.

Belum lagi dampak psikologis calon lawannya di Asia Tenggara, timnas Vietnam, Thailand maupun negara Asia lainnya menganggap kualitas pemain naturalisasi sebagian besar hanya biasa saja, bukan pemain wah Liga Eropa.

Kedepannya saat ketemu timnas Indonesia, tim Thailand dan Vietnam ‘tak takut’ lagi. Ini bakal menyulitkan Timnas Indonesia kedepannya.

Lalu, kembalinyaThom Haye dan lain-lain ke Liga Indonesia, bukan lagi berstatus diaspora, tapi sama dengan pemain lokal biasa.

Nah, dengan ‘kasus’ 12 pemain yang menjalani proses Naturalisasi Istimewa dengan proses panjang dan melibatkan banyak orang serta lembaga namun akhirnya memilih pulang, apakah perlu diteruskan lagi?

Sudah pasti program naturalisasi pemain sepak bola Timnas Indonesia akan jadi evaluasi, khususnya DPR RI Komisi X untuk disetujui.

Kalau pun tetap mau menaturalisasi ada beberapa persyaratan tambahan, pemain great A dan tetap bermain di Liga Eropa hingga usia di atas 30 tahun atau sudah jauh menurun permainannya. (ful/KPO-3)

Iklan
Iklan