Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarmasin

Mahasiswa FAPERTA UNISKA MAB Sulap Limbah Kulit Buah Naga Jadi Skincare, Raih Medali Emas di Thailand

×

Mahasiswa FAPERTA UNISKA MAB Sulap Limbah Kulit Buah Naga Jadi Skincare, Raih Medali Emas di Thailand

Sebarkan artikel ini
IMG 20260819 WA0016

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Limbah kulit buah naga merah yang selama ini kerap berakhir menjadi sampah, justru berhasil disulap menjadi inovasi bernilai tinggi oleh dua mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) Banjarmasin.

Adalah Shofhah Raihanasari dari Program Studi Agribisnis dan Muhammad Rizqi Maulana dari Program Studi Peternakan yang menggagas pemanfaatan limbah kulit buah naga merah sebagai bahan aktif alami untuk produk perawatan kulit.

Kalimantan Post

Di bawah bimbingan Fuzi Maulana Ash’ari, S.Pt., M.P., keduanya mengembangkan inovasi bertajuk “Hilirisasi Komoditas Hortikultura: Pemanfaatan Ekstrak Antosianin Kulit Buah Naga Merah sebagai Bahan Aktif dalam Produk Perawatan Kulit Anti-Inflamasi.” tersebut mengusung konsep From Waste to Beauty.

Tak hanya menghasilkan gagasan inovatif, karya ilmiah tersebut juga berhasil mengharumkan nama UNISKA MAB di kancah internasional.

Karya itu diikutsertakan dalam 3rd International Student Competition (ISC) yang digelar di Thailand pada 8–9 Agustus 2026.

Hasilnya, tim kolaborasi lintas program studi Fakultas Pertanian UNISKA MAB berhasil membawa pulang Medali Emas (Gold Medal) sekaligus penghargaan Favorite Poster.

Manfaatkan Kandungan Antosianin Kulit Buah Naga

Gagasan tersebut berawal dari keprihatinan terhadap tingginya limbah buah naga merah yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Kulit buah naga diketahui mencapai sekitar 30–35 persen dari total berat buah. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menumpuk dan berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.

Padahal, kulit buah naga merah menyimpan berbagai senyawa bioaktif seperti antosianin, betalain dan senyawa fenolik.

Kandungan tersebut memiliki potensi sebagai antioksidan, penangkal radikal bebas hingga agen anti-inflamasi alami.

Dalam pengujian efektivitas, ekstrak kulit buah naga disebut mampu membantu meredakan peradangan akibat paparan sinar ultraviolet (UV), memulihkan ketebalan lapisan epidermis serta memberikan perlindungan terhadap kerusakan sel.

Baca Juga :  Tanglong Jadi Magnet Harjad 500 Banjarmasin, Tampil Dua Malam dan Berhadiah Rp200 Juta

Gunakan Metode Ekstraksi Ramah Lingkungan

Menariknya, proses pengambilan senyawa aktif dari kulit buah naga juga menggunakan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.

Tim menerapkan metode Green Extraction Innovation berbasis Natural Deep Eutectic Solvents (NADES) yang dikombinasikan dengan teknologi Microwave-assisted.

Metode tersebut memungkinkan diperolehnya ekstrak dalam bentuk cair maupun bubuk yang kaya antosianin tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya.

Inovasi ini tidak hanya berhenti pada pemanfaatan limbah menjadi produk kecantikan.

Lebih jauh, konsep tersebut membawa semangat ekonomi sirkular (circular bio-economy), yakni mengubah limbah pertanian menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Konsep itu juga dinilai sejalan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDGs 3 terkait kesehatan, SDGs 8 tentang pertumbuhan ekonomi, SDGs 9 mengenai inovasi dan industri, serta SDGs 12 terkait konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Bangga Bisa Bersaing di Tingkat Internasional

Ketua tim, Shofhah Raihanasari, mengaku bangga inovasi yang mereka kembangkan mampu bersaing dalam kompetisi internasional.

Terlebih, tim berhasil membawa pulang dua penghargaan sekaligus.

“Ini merupakan kebanggaan bagi kami yang mampu bersaing dengan mahasiswa dari kampus ternama lainnya secara internasional, terlebih lagi kami mendapatkan dua penghargaan sekaligus yakni medali emas dan anugerah poster favorit,” ungkap Shofhah.

Saat ini, Shofhah juga tengah mengikuti program Student Mobility One Semester di Inti International University Malaysia.

Ia mengikuti program perkuliahan selama satu semester di Malaysia yang berlangsung pada periode Agustus hingga Desember 2026.

Jadi Motivasi Mahasiswa Lain

Dekan Fakultas Pertanian UNISKA MAB Banjarmasin, Prof. Dr. Ir. Hj. Tintin Rostini, S.Pt., M.P., IPM, Asean Eng., turut mengapresiasi capaian tersebut.

Menurutnya, prestasi di tingkat internasional ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi dan berani mengikuti berbagai ajang internasional.

Baca Juga :  Bangun Fondasi Sejak Dini, Bunda PAUD Banjarmasin Gencarkan Wajib Belajar Prasekolah

“Hasil ini semoga bisa memotivasi rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk dapat mencapai prestasi internasional lainnya, selain itu dapat mengikuti program lainnya yang ditawarkan, seperti student mobility one semester dan kegiatan lainnya,” ujarnya.

Prestasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa limbah pertanian tidak selalu identik dengan persoalan lingkungan.

Dengan inovasi dan riset yang tepat, limbah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi dan industri yang lebih berkelanjutan.(fin/KPO-)

Iklan
Iklan