BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Ambisi Pemerintah Kota Banjarmasin untuk membebaskan wilayahnya dari kepungan banjir lewat megaproyek National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) kian tak terbendung. Setelah sukses memoles wajah kawasan pusat kota, pengerjaan kini bersiap merangsek masuk ke tahap kedua yang membidik rute strategis dari Sungai Gardu hingga kawasan Gatot.
Proyek krusial yang menyedot perhatian publik ini menjadi pertaruhan besar bagi masa depan infrastruktur tata air kota. Pasalnya, pengerjaan fisik tahap pertama yang membentang dari Kelenteng hingga Simpang Ulin telah dinyatakan rampung 100 persen. Kini, fokus alat berat dan para pekerja akan dialihkan sepenuhnya ke zona timur demi menuntaskan cetak biru penanggulangan banjir.
Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin, H. Chandra Iriandhy W, mengonfirmasi langsung transisi krusial megaproyek tersebut. “Tahap pertama dari Kelenteng sampai Simpang Ulin sudah selesai kita kerjakan, tahun ini, pengerjaan langsung beralih ke tahap kedua yang akan menghubungkan wilayah Sungai Gardu hingga Gatot, dan ini sepenuhnya mendapat dukungan pendanaan dari World Bank,” tegas Chandra.
Namun, kucuran dana segar dari Bank Dunia tentu tak berarti tanpa hambatan di lapangan. Syarat mutlak agar pengerjaan fisik bisa berjalan mulus adalah kejelasan pembebasan lahan, sebuah urusan krusial yang menuntut keseriusan pemerintah. Sadar akan hal ini, Pemko Banjarmasin telah memberikan komitmen penuh untuk membereskan proses pembebasan lahan warga yang terdampak proyek.
“Target penyelesaian untuk seluruh proses pembebasan lahan ini kita tetapkan pada bulan Agustus atau selambat-lambatnya bulan September, saat ini progresnya sudah mencapai tahap Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah (DPPT) dan akan segera masuk ke tahap appraisal untuk proses pembayaran kepada para pemilik lahan,” urai Chandra memberikan kepastian.
Jika urusan administrasi lahan tuntas tanpa gejolak, Balai Wilayah Sungai (BWS) selaku eksekutor teknis akan langsung mengeksekusi pembangunan fisik. Desain utama yang diusung dalam pengerjaan tahap kedua ini adalah mengedepankan prinsip pembuatan kanal sungai yang representatif di sepanjang lokasi proyek.
Kanal ini nantinya tidak sekadar menjadi saluran air biasa, melainkan terintegrasi sebagai sistem pengendali banjir yang canggih. “Nanti akan dibangun dua pintu air utama, satu pintu berada di dekat kawasan Lapangan Basket dan satu lainnya berlokasi di Sungai Gardu, sistem dua pintu air ini akan mengatur arus keluar masuk, sehingga area itu otomatis berfungsi menjadi kolam retensi bagi Kota Banjarmasin,” jelas Chandra membeberkan spesifikasi teknisnya.
Efek domino dari megaproyek ini tentu akan dirasakan langsung oleh warga sekitar, terutama terkait akses mobilitas harian. Untuk mencegah terisolasinya permukiman di kawasan tersebut, desain teknis proyek juga sudah mematangkan rencana pembangunan jalan di samping kanal guna memfasilitasi akses kendaraan warga setempat.
Tak pelak, pengerjaan berskala masif di ruas jalan yang padat ini memicu kekhawatiran akan terjadinya kemacetan parah. Oleh karena itu, rapat koordinasi tingkat tinggi antara pihak BWS dan jajaran Pemko Banjarmasin langsung digelar secara khusus untuk mematangkan skenario rekayasa lalu lintas selama masa konstruksi berlangsung.
“Hari ini kita sudah melaksanakan rapat koordinasi dengan BWS untuk membahas rencana rekayasa lalu lintas di kawasan tersebut, kita masih menantikan hasil final dari rapat koordinasi tersebut untuk menentukan langkah pengaturan lalu lintas yang paling ideal di lapangan,” pungkas Chandra menutup penjelasannya. (Nug/KPO-5)















