BANJARMASIN, KalimantanPost.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda tiga provinsi di Kalimantan yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat kini berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Di tengah kondisi darurat ini, seorang kreator konten sekaligus lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat perhitungan mengejutkan bahaya menghirup asap karhutla setara dengan merokok 950 batang dalam sehari.
Alif Hijriah, alumnus S1 dan S2 Matematika ITB yang akrab disapa @aliftowew di Instagram, menggunakan pendekatan fisika untuk mengungkap skala bahaya asap kebakaran yang selama ini mungkin diremehkan banyak orang.
Dengan prinsip neraca energi, ia menguji apakah faktor alam seperti radiasi matahari dapat memicu kebakaran gambut yang baru menyala pada suhu 170 derajat Celsius.
Bahkan dalam skenario paling ekstrem sekalipun, dengan asumsi Kalimantan sebagai benda hitam sempurna dan radiasi matahari mencapai 1.300 watt per meter persegi tanpa kehilangan panas, perhitungannya hanya menghasilkan suhu maksimal 150 derajat Celsius masih di bawah ambang bakar gambut.
Ia juga menghitung kemungkinan sambaran petir sebagai pemicu, memperkirakan hanya sekitar 532 sambaran per hari di Kalimantan, jauh lebih kecil dibanding 1.400 titik panas yang terdeteksi.
Dari rangkaian perhitungan tersebut, Alif menyimpulkan bahwa faktor alam tidak cukup menjelaskan skala karhutla yang terjadi.
Aktivitas manusia khususnya pembukaan lahan dengan cara dibakar dinilai sebagai penyebab dominan.
Data historis kebakaran Kalimantan sejak 1982 hingga 2026 yang ia rujuk menunjukkan pola kebakaran terus berulang setiap tahun, dengan klaim 74 persen kebakaran pada 2026 terjadi di area berizin.
Yang paling mencengangkan adalah hitungan dampaknya terhadap kesehatan.
Dengan pendekatan ilmiah, ia menyimpulkan bahwa paparan asap karhutla dalam satu hari setara dengan bahaya merokok 950 batang rokok.
Angka ini menjadi pengingat betapa mengerikannya dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat.
Kesimpulan ini selaras dengan peringatan para ahli. Dokter paru menyebut asap karhutla lebih berbahaya secara akut dalam jangka pendek dibanding asap rokok, karena cepat meningkatkan risiko ISPA, serangan asma, hingga pneumonia.
Partikel PM2.5 dalam kabut asap diketahui memiliki dampak buruk bagi organ pernapasan yang setara dengan bahaya menghirup asap rokok secara langsung.
Sementara itu, kondisi di lapangan semakin memprihatinkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kualitas udara di tiga provinsi Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Platform pemantauan kebakaran SiPongi mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026, sementara jarak pandang di beberapa wilayah turun di bawah 3 kilometer.
Kabut asap bahkan telah melintas batas negara hingga mengganggu wilayah Sarawak, Malaysia.
Melalui akun Instagram-nya Alif Hijriah konsisten menyajikan berbagai fenomena sehari-hari dengan pendekatan matematika dan fisika.
Kali ini, perhitungannya mengingatkan publik bahwa bahaya asap karhutla bukan sekadar gangguan sesaat melainkan ancaman serius yang dampak kesehatannya setara dengan konsumsi hampir 1.000 batang rokok setiap hari.(rfz/KPO-1)















