Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

E-Commers dan Adaptasi Generasi Alpha

×

E-Commers dan Adaptasi Generasi Alpha

Sebarkan artikel ini

Oleh : Theresia Kurniati Seran
Mahasiswa Teknologi Informasi, Universitas Sari Mulia

Kemudahan akses data dan informasi mendorong terciptanya perdagangan secara online dengan menggunakan e-commerce yang sangat populer di tengah masyarakat. Tren perdagangan bergeser dari yang tadinya dilakukan secara konvensional dengan bertatap muka langsung antara pembeli dan penjual, menjadi secara digital alias online. 

Kalimantan Post

E-commers merupakan salah satu web penjualan, pembelian, pembayaran, dan pemesanan barang dan jasa melalui teknologi seperti internet, televisi, dan jaringan komputer lainnya.

Dikutip dari databoks.katadata.co.id, sebanyak 88,1 persen pengguna internet di Indonesia memakai layanan e-commerce untuk membeli produk tertentu dalam beberapa bulan terakhir. Persentase tersebut merupakan yang tertinggi di dunia dalam hasil survei We Are Social pada April 2021.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan 175 juta penduduk atau 65,3 persen populasi di Indonesia sudah terkoneksi dengan internet.

Dari jumlah itu, terdapat 129 juta penduduk Indonesia yang menggunakan layanan e-commerce pada 2020. Nilai transaksi di e-commerce sendiri mencapai Rp266 triliun tahun lalu. Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan ekonomi digital nomor satu di Asia Tenggara pada 2025 dengan kontribusi transaksi digital US $124 miliar atau Rp1.736 triliun, ini berdasarkan Google dan Temasek 2020.

Dengan berkembangnya tren perdagangan secara online, tentunya ini menunjang perputaran ekonomi di tengah masyarakat. Kemudahan berbelanja secara online menjadi kebutuhan utama banyak generasi tidak terkecuali generasi alpha. Generasi alpha atau generasi A merupakan generasi yang lahir di era digital dengan hitungan tahun 2010-sekarang, generasi yang sudah sangat dekat dan kenal dengan teknologi digital. Generasi alpha juga merupakan generasi pertama yang lahir di era digital sehingga generasi ini sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.

Baca Juga :  Fenomena “Boti” dan Krisis Standar Moral di Era Sekularisme

Generasi alpha memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat terutama untuk dunia perekonomian. Menurut Angela Tanoesoedibjo yang merupakan wakil menteri pariwisata dan ekonomi kreatif yang menyampaikan pendapat diacara webinar peluncuran platfrom brifer yang isinya “berbagai inovasi digital telah mengubah cara orang-orang berinteraksi, mengubah perilaku konsumen, skillset yang dibutuhkan pekerja, dan bahkan mengubah struktur organisasi dan visi misi banyak perusahaan”.

Inovasi digital juga mendorong generasi alpha berperan penting penting dalam membangun ekosistem digital. Saat ini generasi Alfa familiar dengan produk-produk teknologi serta menggunakan bermacam aplikasi digital. Mereka juga bermain game virtual dengan memanfaatkan perangkat yang disediakan.

Generasi alpha memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya seperti yang dijelaskan oleh Joe Pinsker, kolumnis The Atlantic, meriset bahwa generasi Alfa punya kecenderungan tidak sabaran. Ketika mereka tidak mendapatkan penjelasan yang kongkrit di sekolah dan tidak mendapatkan gambaran yang detail dan memadai terkait dengan suatu materi yang diberikan, generasi Alfa akan mencari penjelasan dari media sosial, terutama Youtube.

Dengan demikian, harus ada seni mengatur kecepatan interaksi teknologi dan penghayatan lingkungan serta kesabaran. Kontrol emosi menjadi penting. Pada titik ini, peran pendidikan, komunitas pendidikan dan keluarga atau orang tua menjadi sangat penting dalam memberikan edukasi tentang penggunaan dan pemanfaatan e-commerce dan perangkat platform digital lainnya,sehingga generasi alpha mampu menggunakan teknologi untuk kegiatan yang bernilai positif.

Iklan
Iklan