Oleh : ADE HERMAWAN
Momen pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram, sering kali disambut dengan berbagai ritual simbolis. Mulai dari pawai obor, doa akhir dan awal tahun, hingga rangkaian pengajian di berbagai sudut kota. Namun, di balik kemeriahan dan refleksi spiritual tersebut, ada satu esensi mendasar yang menjadi akar dari penanggalan Hijriah itu sendiri yaitu peristiwa hijrah.
Dalam catatan sejarah Islam, hijrah merujuk pada peristiwa migrasi fisik Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Perpindahan ini dipicu oleh intimidasi, boikot, dan kekerasan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy di Makkah yang membuat dakwah Islam tidak berkembang. Hijrah fisik ini bukan sebuah pelarian atau tindakan pengecut karena menyerah. Sebaliknya, ini adalah strategi besar untuk menyelamatkan akidah dan membangun tatanan peradaban baru yang berkeadilan, inklusif, dan beretika di Madinah.
Setelah kota Makkah berhasil ditaklukkan, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa kewajiban hijrah secara fisik/geografis telah usai, namun substansi atau esensi hijrah tetap berlaku sepanjang masa. Beliau bersabda :
“Seorang Muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak menyakiti Muslim lain. Dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Secara historis, hijrah adalah peristiwa fisik kepindahan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah untuk membangun peradaban yang lebih adil dan beretika. Namun secara kontekstual hari ini, hijrah adalah transformasi nilai dan perilaku. Ia adalah komitmen untuk berpindah dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih diridai.
Dalam konteks Tahun Baru Islam (1 Muharram), pengertian hijrah mengalami perluasan makna yang sangat mendalam. Ia tidak lagi dimaknai sebagai peristiwa fisik atau geografis seperti kepindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah belaka, melainkan bertransformasi menjadi simbol gerak perubahan, rekonstruksi mental, dan momentum kebangkitan spiritual umat.
Peristiwa hijrah mengubah posisi umat Islam saat itu dari kelompok yang tertindas secara geopolitik menjadi entitas peradaban yang mandiri dan diperhitungkan. Dalam konteks hari ini, Tahun Baru Islam harus dimaknai sebagai momentum kebangkitan produktivitas. Sudah saatnya kita berhijrah dari mentalitas konsumen baik konsumen produk, teknologi, maupun pemikiran asing menjadi produsen yang kreatif dan inovatif. Memaknai Muharram berarti berkomitmen untuk meningkatkan kualitas diri, etos kerja, dan kontribusi nyata bagi bangsa dan agama.
Sayangnya, dalam konteks modern, makna “hijrah” sering kali mengalami penyempitan. Hijrah kerap direduksi sebatas perubahan artifisial atau pernak-pernik lahiriah seperti : perubahan cara berpakaian, perubahan istilah sapaan, atau sekadar ikut-ikutan tren komunitas tertentu. Padahal, jika kita menilik esensi Tahun Baru Islam, hijrah adalah manifesto perubahan yang jauh lebih radikal dan substantif.
Di era digital ini, hijrah mental menjadi sangat krusial. Berhijrah dalam perspektif baru berarti memindahkan jempol dan pikiran kita dari kebiasaan menyebar hoaks, gibah siber, dan ujaran kebencian, menuju pemikiran yang solutif, kritis, dan menyejukkan. Esensi Muharram adalah bermigrasi dari mentalitas korban yang gemar mengeluh, menuju mentalitas pemenang yang siap membawa perubahan.
Tahun Baru Islam seharusnya memicu kita untuk berhijrah dari sikap individualistis menuju kesalehan sosial. Hijrah berarti kita tidak lagi menutup mata terhadap ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan di sekitar kita. Berislam tidak hanya selesai di atas sajadah, tetapi juga harus membumi dalam bentuk kepedulian sosial.
Tahun Baru Islam bukanlah penanda waktu untuk merayakan pertambahan usia kalender semata. Ia adalah alarm tahunan yang mengingatkan kita untuk terus bergerak, mengevaluasi diri (muhasabah), dan melakukan lompatan kuantum ke arah yang lebih baik.
Hijrah dibagi menjadi beberapa bentuk, yaitu : Pertama, Hijrah Ikhtiyariyah, yaitu Berpindah dari perilaku buruk menuju perilaku terpuji, Contohnya: dari malas menjadi produktif, dari pemarah menjadi pemurah, atau dari egois menjadi peduli sesama. Kedua, Hijrah Intelektual, yaitu Meninggalkan cara berpikir yang sempit, taklid buta (ikut-ikutan tanpa dasar), atau fanatisme ekstrem, menuju pemikiran yang terbuka, berbasis data/ilmu pengetahuan, dan bijaksana. Dan Ketiga , Hijrah Sosial/Kultural, yaitu Mengubah kebiasaan kolektif masyarakat yang destruktif, seperti budaya menyebarkan hoaks, saling menjatuhkan di media sosial, atau mengabaikan etika birokrasi menuju tatanan sosial yang menjunjung tinggi integritas, kejujuran, dan kemanusiaan.
Dalam konteks spiritual dan akhlak, hijrah dari perilaku buruk menuju perilaku terpuji adalah proses transformasi diri yang sadar dan konsisten untuk meninggalkan segala bentuk maksiat, kebiasaan negatif, dan akhlak tercela menuju ketakwaan, kebaikan, dan akhlak yang mulia (akhlak mahmudah).
Rasulullah SAW menegaskan esensi hijrah ini dalam sebuah hadis :
“Seorang muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak mengganggu muslim lain, dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari).
Hijrah bukan sekadar perubahan penampilan luar, melainkan sebuah revolusi mental dan spiritual. Hijrah perilaku dimulai dari hati. Proses ini menuntut seseorang untuk mengikis penyakit-penyakit hati yang memicu perilaku buruk, seperti : Mengganti sifat takabur (sombong) dengan tawadhu (rendah hati), Mengubah sifat pemarah menjadi pemurah dan pemaaf, Mengikis hasad (iri dengki) dan menumbuhkan rasa syukur serta ikut bahagia atas nikmat orang lain.
Mari jadikan 1 Muharram ini sebagai momentum untuk berhijrah secara substantif, yaitu dari kegelapan ego menuju cahaya kontribusi. Selamat Tahun Baru Islam.











