Oleh : Eddy Erwan Nopianoor
Statisti Madya BPS Banjar
Hari Lanjut Usia Nasional yang diperingati setiap 29 Mei menyisakan pekerjaan rumah untuk meningkatkan kepedulian dan penghargaan kita terhadap penduduk lanjut usia (lansia). Undang Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia mendefinisikan penduduk lansia adalah mereka yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Populasi lansia yang semakin meningkat baik jumlah maupun proporsinya sebagai akibat usia harapan hidup yang semakin tinggi dan menurunnya tingkat fertilitas. Sensus Penduduk 2020 mencatat bahwa terjadi peningkatan persentase penduduk lansia sebesar 7,84 persen, naik dibandingkan tahun 2010 yang sebesar 5,83 persen. Hal ini menandakan Kalimantan Selatan dalam transisi menuju era penuaan penduduk (ageing population), suatu kondisi ketika penduduk usia 60 tahun keatas lebih dari 10 persen.
Dalam struktur kependudukan, lansia merupakan kelompok usia “beban”, yang berarti memiliki ketergantungan terhadap kelompok usia produktif. Lansia juga merupakan kelompok penduduk rentan. Ada tiga faktor utama yang menjadikan lansia rentan, yaitu tidak lagi produktif secara ekonomi, masalah kesehatan dan membutuhkan pendamping sebagai pengasuh.
Peningkatan jumlah penduduk lansia memiliki berbagai dampak sosial dan ekonomi yang harus diperhatikan pemerintah. Fenomena demografi ini dapat membawa dampak positif, namun dapat juga menjadi penghambat dalam pembangunan. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi dan kebijakan yang tepat sehingga dapat menciptakan lansia sejahtera. Publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2021 dari Badan Pusat Statistik memberikan gambaran mengenai kondisi penduduk lansia di Indonesia khususnya di Kalimantan Selatan.
Di Kalimantan Selatan, penduduk lansia yang tinggal di pedesaan lebih banyak dibandingkan dengan yang tinggal di perkotaan (10,28 persen berbanding 9,38 persen). Menurut jenis kelamin, lansia perempuan lebih banyak dibandingkan lansia laki-laki (10,32 persen berbanding 9,30 persen). Jika dilihat dari kelompok umur, sebagian besar lansia di Kalimantan Selatan merupakan lansia muda yaitu pada kelompok umur 60-69 tahun dengan persentase sebesar 68,67 persen. Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah penduduk yang berada di kelompok pra lansia (45-59 tahun) dengan persentase yang cukup besar yaitu 18,40 persen. Dalam beberapa tahun ke depan kelompok ini akan masuk ke dalam kelompok penduduk lansia.
Penambahan penduduk lansia juga berpengaruh pada angka rasio ketergantungan. Untuk melihat tingkat kemandirian penduduk lansia dan beban ekonomi penduduk usia produktif terhadap lansia, digunakan indikator rasio ketergantungan lansia. Pada tahun 2021 rasio ketergantungan lansia Kalimantan Selatan sebesar 15,32 Angka tersebut memiliki makna bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung setidaknya 15 orang penduduk lansia.
Ketika seseorang memasuki masa tua, dukungan dari keluarga memberikan dampak yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Secara psikologis, adanya dukungan dan bantuan dapat menurunkan risiko sakit dan kematian pada lansia. Pada tahun 2021, terdapat 59,60 persen lansia yang memiliki pasangan atau berstatus kawin. Berdasarkan status tinggal bersama dalam rumah tangga, lansia lebih banyak yang tinggal bersama tiga generasi di dalam rumah tangga, yaitu sebanyak 29,35 persen. Tinggal bersama tiga generasi, artinya seorang lansia tinggal bersama anak dan cucunya, atau tinggal bersama anak dan orang tuanya.
Tantangan kesehatan lansia, dimana seiring dengan bertambahnya usia, terjadi penurunan kapasitas intrinsik dan fungsional tubuh yang berdampak terhadap sistem imun tubuh. Kondisi kesehatan yang menurun menyebabkan lansia sering sakit dan memiliki banyak keluhan kesehatan. 5 dari 10 lansia memiliki keluhan kesehatan, dan 2 diantaranya mengalami sakit. Angka kesakitan lansia sebesar 26,54 persen, menunjukkan bahwa satu dari empat orang lansia mengalami sakit dalam satu bulan terakhir. Mayoritas lansia berobat jalan ke praktik dokter/bidan ketika mengalami keluhan kesehatan.
Untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas kesehatan lansia, pemerintah telah berupaya menyediakan jaminan kesehatan bagi lansia. Kepemilikan jaminan kesehatan merupakan satu hal yang sangat penting bagi lansia, mengingat salah satu tantangan terbesar lansia adalah menurunnya tingkat kesehatan. Pada tahun 2021, sekitar 8 dari 10 lansia (81,80 persen) yang di rawat inap menggunakan jaminan kesehatan. Sementara untuk keperluan berobat jalan, lebih separuh lansia menggunakan jaminan kesehatan (53,73 persen). Penggunaan jaminan kesehatan dari pemerintah (BPJS PBI dan non PBI) mendominasi pembiayaan untuk berobat jalan maupun rawat inap.
Menjaga kebiasaan hidup sehat seperti pola makan, olahraga, dan menghindari konsumsi rokok dan zat aditif lain, merupakan fokus pemeliahraan kesehatan lansia. Meski dampak negatif merokok sudah banyak diketahui namun ternyata tidak menyurutkan lansia untuk menghentikan kebiasaan merokok. Hasil Susenas Maret 2021 menunjukkan bahwa 17,84 persen lansia masih merokok dalam sebulan terakhir, dengan intensitas merokok yang berbeda-beda. Intensitas merokok mencerminkan seberapa akut kebiasaan merokok. Lansia yang merokok setiap hari tentu jauh lebih berisiko terkena penyakit daripada yang tidak setiap hari. Sayangnya, persentase lansia yang merokok setiap hari jauh lebih besar (16,67 persen) dibandingkan yang merokok tidak setiap hari (1,17 persen). Bahkan lansia yang berusia 80 tahun ke atas, persentasenya juga masih cukup tinggi.
Lansia potensial adalah penduduk lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa. Dengan kata lain, lansia potensial adalah lansia yang bekerja. Oleh karena itu, pemberdayaan lansia potensial dalam berbagai aktivitas produktif merupakan salah satu upaya untuk menunjang kemandirian lansia, baik dari aspek ekonomi, psikologi, sosial, budaya, dan kesehatan.
Berbagai alasan melatarbelakangi lansia tetap bekerja, di antaranya karena keharusan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak adanya non-labor income seperti jaminan pensiun, menuntut lansia untuk tetap bekerja. Hampir separuh lansia di Kalimantan Selatan (48,22 persen) mempunyai status masih bekerja, dan sebagian besar (54,07 persen) terlibat dalam bidang usaha pertanian dan jasa-jasa (34,79 persen). Lansia bekerja dengan upah rendah di Kalimantan Selatan ada sebanyak 31,13 persen, dan sebagian besar pekerja lansia memiliki penghasilan di bawah Rp1 juta (55,24 persen).
Untuk membuat program kebijakan yang paling tepat untuk lansia dalam mencapai kualitas hidup yang lebih baik penting untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi lansia. Kondisi ekonomi lansia yang rendah akan menyebabkan lansia lebih rentan untuk hidup dalam kemiskinan. Berdasarkan data BPS (Susenas Maret 2021) diketahui bahwa sebagian besar 40,10 persen lansia di Kalimantan Selatan berada pada kelompok pengeluaran 40 persen menengah, sehingga dapat disimpulkan lansia lebih terdistribusi pada status ekonomi menengah. Namun lansia yang berada pada kelompok pengeluaran 40 persen terbawah juga masih tinggi yaitu sebanyak 39,26 persen. Dari data yang sama terlihat pula bahwa sebanyak 57,24 persen lansia tinggal di rumah layak huni.
Upaya perlindungan sosial terhadap lansia berupa pemberian program bantuan sosial (BPNT, PKH, KPS/KKS dan lainnya) dan jaminan sosial (JKN, Jamkesda) sejauh ini terus diberikan oleh pemerintah. Namun cakupan program yang memenuhi prinsip keadilan, terutama bagi rumah tangga lansia yang kurang mampu harus lebih ditingkatkan.
Pada tahun 2021, sebesar 13,15 persen rumah tangga lansia pernah menerima BNPT (Bantuan Non Pangan Tunai). Sedangkan rumah tangga lansia yang masih tercatat atau menerima PKH sebesar 5,35 persen dan penerima manpat KKS/KPS sekitar 9,59 persen. Adapun lansia yang telah memiliki JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) sebanyak 77,89 persen.
Gambaran kondisi lansia yang telah didapatkan seyogyanya menjadi pijakan bagi pemerintah untuk membuat program bagi peningkatan kesejahteraan lansia. Sehingga fenomena penuaan penduduk bisa dimanfaatkan sebagai bonus demografi kedua, dengan tersedianya lansia yang sejahtera dan produktif.















