Oleh : Jajaj Suharja
Penulis Lepas, Alumnus Fisip Universitas Lampung
Salah satu hal, ‘menjenuhkan’ dalam naskah novel ‘Encyclopedia Soviet’ karya saya adalah bertaburannya jejak-jejak korespondensi melalui sebuah ‘surat terkirim’ secara konvensional. Mungkin itulah salah satu alasan dewan juri lomba penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2021 tidak mengunggulkan naskah novel ‘Encyclopedia Soviet’ sebagai karya pemenang.
Surat-surat yang terkirim pada Presiden Joko Widodo, pada Prof Mahfud MD …lebih dari sepuluh tokoh telah menerima surat-surat yang isinya sangat repetitive, ‘Tiga Pelajar dari SMKN 1 Sanden Hilang dan Negara Wajib Menemukan Mereka!’.
Sub judul ‘Repetisi’ pada naskah novel ‘Encyclopedia Soviet’ seolah kesadaran penulisnya sendiri bahwa rakyat kecil ‘wajib’ tak henti mempertanyakan sebuah keadilan politik dan keadilan hukum. Termasuk di kasus hilangnya tiga pelajar SMKN 1 Sanden. Secara sarkis penulis nukilkan dua lembaran pertama pengisahan pada naskah novel ‘Encyclopedia Soviet’ di bawah ini.
Bilahkayu
Saat misteri adalah misteri dan telunjuk acungkan ke atas ke Tuhan yang satu. Mungkin sekumpulan awan dan mega-mega telah tutupi wajah mereka; siswa-siswa SMKN 1 Sanden agar tak terlihat walau sesungguhnya tak terlihatnya mereka menjadi terlihatnya wajah-wajah yang lain. Para negarawan di negeri ini. Sangat jelas terlihat sebagai ‘pecundang’. Negara yang bilang dan agungkan pancasila di satu sisi sebagai yang satu yang sakti mandraguna menjadi tiada guna, ketika Negara ini dipimpin oleh seraut wajah kemunafikan pemimpin negeri. Mereka anak bangsa yang hilang dianggap biasa saja seolah tidak panik bahwa, sebagai ‘bapaknya’ ia merasa tak memiliki anak walau dialah yang telah perbuat ‘sebab’ menjadi ‘akibat’. Sebab Joko Widodo memenangi pilpres dua periode dan ia Presiden Republik Indonesia sebutannya dan karenanya menjadi ‘bapak’ bagi ratusan ribu anak-anak bangsa negeri ini. Termasuk tiga siswa SMKN 1 Sanden yang hilang belasan tahun jalannya. Tapi sebagai ‘bapak’ bagi ratusan ribu anak bangsa itu, Joko Widodo berkesan happy saja . Apa menganggap tiga anak bangsanya yang hilang dengan sendirinya tergantikan oleh anak bangsa yang tidak hilang begitukah? Jadinya ‘saya’ ingin memungut sebilah kayu dipinggiran jalan dan pukul kepala negarawan ‘kelas pinggiran’ itu hingga patah karenanya. Dari jenis ‘kelas negarawan’ apakah Joko Widodo itu? (tiga anak bangsa hilang di kasus perdagangan manusia, sekolahnya lalai dan negaranya abai). Belasan tahun telah lewat sudah (‘kugantung kemudian cermin retak tinggi-tinggi. Kupinjam dukamu pada bilah mata penaku. Air mata tiga ibu korban anak hilang, seolah sumur tanpa dasar dan Joko Widodo enggan tengok seberapa dalam dasarnya. Siapakah Joko Widodo– presiden yang abaikan anak bangsanya sampai hilang belasan tahun?’).
Sebelum ‘Bilahkayu’ terkuak dalam satu paragraph penuh. Saya telah secara sinisme bilang, ‘Presiden Joko Widodo, Kibarkan saja ‘bendera putih’ tanda menyerah bahwa, Negara tak mampu menemukan warganya yang hilang :
Ignatius Leyola Andinta denny Murdani, Ginanjar Nugroho Atmaji, Agil Ramadhan Putra’.
Inilah naskah novel sebagai ‘Based on actual events’. Dan sejatinya pada naskah novel itu penulis mempergunakan ‘suara’ orang ketiga bernama Jaleswari. Seorang mahasiswi ‘kakak’ dari salah satu anak yang hilang. Dia pembaca novelnya Ayu Utami.Perhatikanlah salah satu fragmen pelukisan tokoh Jaleswari di bawah ini.
Ibuku, Penunggu Sebuah Ketukan Pintu
Sanden, pukul 23.32 WIB. Saat aku hendak masuk kamar dan ingin mematikan lampu depan, kulihat ibuku masih duduk di kursi dan menghadap ke arah pintu : menunggu godot datang!* Ini hari kesekian ibuku melakukan hal yang sama hampir setiap hari, saat ia rindu pada adikku dan aku tak menghitung di hari ini, sudah berapa lama ia duduk dalam tatap nanar seperti itu? Sebuah penantian tak berujung.
Pernah suatu malam kuhampiri ibuku yang masih menatap dalam nanar kearah pintu depan. Bibirnya serupa desis tapi, tak kudengar satu pun kalimat. “Ibu, sudahlah!”. Tanganku menyentuh pundaknya berharap ia beranjak dari duduknya dan segera tidur. Ibuku tak bergeming. “Apakah arti sebuah kehilangan?”.
Hanya ibuku yang merasa atau mungkin juga ibu-ibu dari teman adikku yang bernasib sama kehilangan anaknya hingga belasan tahun. Apakah arti negara buat seorang ibu yang anaknya dilenyapkan? Di dalam kamar pada siluet gorden yang pantulkan bayangannya ke dinding kamarku. Aku berpikir keras tentang bagaimana cara bersuara pada Negara bahwa, hilangnya adikku, wajib Negara temukan. Setidaknya ada usaha untuk lakukan pencarian. Tapi, telah belasan tahun sejak pengadilan gelarkan perkara hilangnya adikku dan hanya putuskan seorang calo bersalah (apa untungnya buat kami penjarakan seseorang sementara adikku tak jua pulang dan nyawanya tak pasti antara hidup atau sudah mati), halaman : 9.
Dengan semangat 45 kupaketkan surat-surat itu dengan sampul dan blurb yang mencolok mata berwarna biru sebagai simbol laut dengan siluet pekerja migrant di dalam kapal ikan dan kalimat-kalimat provokasi yang kupelajari dari novel ‘Saman’ dan novel ‘Larung’.
Aku kini jadi aktivis juga. Teman-teman kuliahku tentu kaget atas tindakanku. Mereka pasti tidak menyangka bahwa saya jadi seorang aktivis karena kasus adikku. Aku telah menghilang dari kampus beberapa semester lamanya. Aku mungkin saja sudah di ‘DO’ oleh kampusku.
Namaku Jaleswari.
Aku kakak perempuan dari adikku yang hilang di kasus ‘Setelah Magang Lalu, Menghilang!’
Saat Aiman Witjaksono wawancarai ayah dan ibuku, aku sedang tidak ada di rumah. Hingga muncullah beritanya di kompas Tv. Kini giliranku yang masuk bidikan kamera. Dengan prolog sebuah ‘Mushalla’ yang kumandangkan adzan subuh.
Cerita dimulai sebagai narasi tentang aku yang sedang persiapkan materi demo. Jaleswari melakukan demonstrasi secara literar melalui surat-surat yang dikirimkannya ke tokoh-tokoh nasional maupun dengan demonstrasi secara verbal dalam sebuah ruang terbuka (halaman : 47-51). Naskah novel ‘Encyclopedia Soviet’ ditutup dengan deskripsi penokohan Jaleswari bahwa dirinya adalah pembaca novel-novel karya Ayu Utami yang mempercayai bahwa, ‘saat negara memalsukan sejarah secara kecil, saat itulah dicurigai bahwa ada sejarah besar yang disembunyikan oleh negara’ (halaman: 68-71). Dalam kasus hilangnya tiga siswa SMKN 1 Sanden, secara besar yang tersembunyi adalah : persolan HAM, perdagangan manusia dan kapitalisme global!’
Naskah Novel ‘Tembok Jokowi’
Seperti yang penulis sampaikan dalam tulisan sebelumnya yang telah diterima redaksi dan sedang dipertimbangkan untuk dimuat bahwa, Dewan Kesenian Jakarta setiap dua tahun sekali mengadakan lomba penulisan novel. Penulis adalah salah satu dari ratusan peserta yang kirimkan naskah ke dewan kesenian jakarta. Dengan naskah novel yang penulis revisi menjadi ‘Tembok Jokowi’ naskah novel itu sedang menunggu nasib apakah lolos sebagai ‘pemenang’ ataukah kembali menjadi naskah novel ‘penggembira’ yang kembali kalah dalam ‘pertarungan’.
Dalam naskah novel ‘Tembok Jokowi’ penulis mempersandingkan realitas di saat Presiden Joko Widodo sedang berbahagia karena anak bungsunya naik pelaminan :
INTERRUPT : satu kata ingatan, sekalimat peringatan!
Senja ketika presiden Joko Widodo berbahagia dan tinggalkan kursi pelaminan anaknya, Kaesang Pangarep. Di saat bersamaan di pinggiran sebuah desa di Bantul, Yogyakarta. Seorang ibu bersedih mengenang anaknya yang hilang. Dimatikannya teve oleh sebuah tangan yang memegang remote. “Ibu, sudahlah!”, ucapnya.
Seharian itu ibunya menonton kebahagiaan presidennya di televisi dan air mata rakyatnya tak diketahui oleh Joko Widodo. File-file humanisme yang sekarat tertimpa file-file baru yang dibanggakan sebagai pembangunan manusia dan kebudayaan.
“Hanya kita yang bekerja!” ujar tuan presiden dengan bangganya pada Indonesia.Indonesia adalah dirinya dan dirinya ada bersama rakyatnya.Eufimisme bahasa terpampang sebagai pelajaran tentang kekuasaan dan mahasiswa Fisip terlupa garap skripsi tentang wajah sebuah rezim.
Tapi siapakah ia,pemilik sebuah tangan yang memegang remote dan mematikan kebahagiaan Joko Widodo yang jadi tontonan rakyatnya? (Halaman : 1 , naskah novel ‘Tembok Jokowi).
Jaleswari adalah tokoh dalam naskah novel tersebut diatas sebagai pemegang remote dan orang yang menulis puluhan surat pada presiden Jokowi dan orang-orang terkait yang perlu ia beri tahu bahwa, ‘adiknya telah hilang secara tidak adil!’
Ada kritik sosial dalam naskah novel ‘Tembok Jokowi’ dan dalam realitas tiga siswa SMKN 1 Sanden masih terkubur dalam kubangan mistery dan penulis sebagai ‘Penyambung lidah rakyat’ terus sampaikan fakta ini sampai ‘serak’!!










