Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Al-Qur’an Diturunkan dalam Tujuh Huruf

×

Al-Qur’an Diturunkan dalam Tujuh Huruf

Sebarkan artikel ini
Prof Dr H Fathurrahman Azhari, MHI (Kalimantanpost.com/Repro Pribadi)

Oleh : Prof Dr H Fathurrahman Azhari, MHI *)

TUJUH furuf merupakan makna dari Sab’ah Ahruf. Kata Ahruf adalah jamak dari kata harf, dalam bahasa Indonesia di artikan dengan kata huruf. Sementara dalam bahasa Arab kata harf adalah lafaz yang musytarak (mempunyai banyak arti). Kata harf dapat diartikan sebagai Unta yang kurus, satu huruf ejaan, salah satu huruf hijaiyyah, makna, saluran air, wajah, kata, dan bahasa.

Kalimantan Post

Sedangkan kata Sab’u dalam bahasa Arab berarti bilangan tujuh atau dapat juga diartikan dengan tidak terbatas. Dengan demikian, sab’ah ahruf dapat diartikan dengan tujuh bahasa, tujuh Ilmu, tujuh makna, tujuh bacaan, dan tujuh bentuk (awjuh) dan lain sebagainya.

Ini adalah definisi dasar yang valid tentang sab’ah ahruf , di mana terdiri dari dua kata yang Ketika digabungkan memiliki satu makna kesatuan yaitu tujuh bentuk atau tujuh bacaan. Dari sini harus kita pahami bersama.

Sunnah yang Berhubungan dengan Tujuh Huruf

Banyak sekali ulama yang menegaskan sunah tentang qiraat diriwayatkan secara Mutawatir, bahkan As-Suyuthi mengatakan sunnah yang menerangkan Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf diriwayatkan oleh sejumlah Shahabat yaitu Ubay bin Ka’ab, Anas bin Malik, Hudzaifah Al-Yamani, Zaid bin Arqam, Samurah bin Jundub, Sulaiman bin Sard, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Abdurrahman bin ‘Auf , Ustman bin ‘Affan, Umar bin Al-Khatthab, Umar bin Abi Salamah, Amru bin Al-‘Ash, Muadz bin Jabal, Hisyam bin Hakim, Abu Bakrah, Abu Juhaim, Abu Said Al-Khudri, Abu Thalhah Al-Anshari, Abu Hurairah, dan Ummu ‘Ayyûb. Mereka berjumlah 21 sahabat Nabi. Al-Suyuthi juga pernah mengatakan bahwa hadis Al-Qur’an turun dengan tujuh huruf diriwayatkan oleh 26 Sahabat.

Perkataan ini dikuatkan dengan riwayat Abu Ya’la dalam Musnad-nya, Ustman bin ‘Affan ra pernah berkata di atas mimbar ketika ia beranjak berdiri “Aku menyebut di sisi Allah seseorang pernah mendengar Nabi Muhammad SAW. bersabda: ‘Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf, semua huruf itu sempurna.’ Maka berdirilah orang-orang hingga jumlah mereka tidak terhitung, lantas mereka memberikan kesaksian Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf. Maka Ustman pun berkata: ‘Dan aku pun bersaksi bersama mereka.Bahwa Ustman ra menegaskan turunnya Al- Qur’an dalam tujuh huruf, agar tidak bermunculan pendapat-pendapat yang meragukan adanya tujuh huruf ini di kemudian hari.

Berikut hadis-hadis mengenai turunnya Al-Qur’a>n dalam tujuh huruf: Hadis Umar bin Khatthab ra, ia berkata: “Aku melewati Hisyam bin Hakim bin Hizam sedang membaca Surat Al-Furqan. Waktu itu Nabi Muhamad SAW masih hidup. Aku menyimak bacaan Hisyam, lalu kudapati ia membaca banyak huruf yang tidak pernah dibacakan Rasulullah SAW kepadaku. Hampir saja aku pegang kepala Hisyam, namun saat itu ia sedang shalat. Aku menunggu hingga ia selesai. Lalu aku tarik sorbannya dan bertanya, ‘Siapa yang membacakan surat ini kepadamu dengan bacaan yang barusan kamu baca?’ Hisyam pun menjawab, ‘Rasulullah SAW membacakannya kepadaku.’ Lalu aku berkata, ‘Engkau berdusta! Sesungguhnya Rasulullah SAW telah membacakan surat itu kepadaku dengan bacaan yang tidak seperti bacaanmu.’

Kemudian aku bawa Hisyam menemui Rasulullah Shallallah SAW, lalu aku berkata, ‘Aku telah mendengar orang ini (Hisyam) membaca Surat Al-Furqan dengan huruf yang tidak engkau bacakan kepadaku Rasulullah Shallallah SAW bersabda, ‘Lepaskan dia wahai Umar, dan bacakan wahai Hisyam!’

Kemudian Hisyam membacakan kembali surat itu dengan bacaan yang tadi aku dengar. Rasulullah Shallallah SW. bersabda, ‘Demikianlah ayat-ayat itu diturunkan.’ Kemudian Rasulullah SW berkata, ‘Bacalah wahai Umar!’ Aku pun membacakan surat itu dengan bacaan yang dulu diajarkan Nabi Muhammad SAW. Beliau pun berkata, ‘Demikianlah ayat ayat itu diturunkan.’ Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dalam tujuh huruf. Maka bacalah apa yang mudah darinya.(HR. Bukha>ri> no. 4992)

Hadis Ibnu ‘Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jibril membacakan Al-Qur’an kepadaku dengan satu huruf. Dan aku terus meminta tambahan huruf, dan Jibril menambahkan huruf itu hingga mencapai tujuh huruf (HR. Bukha>ri> no. 4991)
Hadis Ubay bin Ka’ab ra ia berkata, ketika Nabi Muhammad SAW berada di dekat parit Bani Ghifar, beliau didatangai Jibril dan berkata, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan umatmu untuk membaca Al-Qur’an dengan satu huruf.” Rasulullah Shallallah SAW berkata, “Aku meminta kepada Allah kelapangan dan keampunan. Dan sesungguhnya umatku tidak akan menyanggupi perintah tersebut.” Kemudian Jibril mendatangi Nabi untuk yang kedua kalinya dan berkata, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan umatmu untuk membaca Al-Qur’an dengan dua huruf.” Rasulullah SWT berkata, “Aku meminta kepada Allah kelapangan dan keampunan. Dan sesungguhnya umatku tidak akan menyanggupi perintah tersebut.” Kemudian Jibril mendatangi Nabi untuk ketiga kalinya dan berkata, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan umatmu membaca Al-Qur’an dengan tiga huruf.” Rasulullah SWT berkata, “Aku meminta kepada Allah kelapangan dan keampunan. Dan sesungguhnya umatku tidak akan menyanggupi perintah tersebut.” Kemudian Jibril mendatangi Nabi untuk yang keempat kalinya dan berkata, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan umatmu untuk membaca Al-Qur’an dengan tujuh huruf, dengan huruf mana pun mereka membacanya, mereka tetap benar. (HR. Muslim no. 821)
Hadis lain dari Ubay bin Ka’ab ta ia berkata, Rasulullah SAW bertemu dengan Jibril di Ahjar Mira’, kemudian ia berkata, “Sesungguhnya aku diutus kepada kaum yang ummi (buta huruf); di antara mereka ada anak kecil, orang tua, dan lanjut usia.” Jibril pun berkata, “Maka hendaklah mereka membaca Al-Qur’an dengan
tujuh huruf.

Baca Juga :  SHOLAT TEPAT WAKTU

Hadis Ummu Ayyub ra ia berkata, “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf. Dengan huruf apapun yang kau baca, maka kau akan benar.
Hadis lainnya dari Ubay bin Ka’ab ra, ia berkata: “Waktu itu aku berada di masjid, seorang laki-laki masuk dan menunaikan shalat, ia membaca Al-Quran dengan bacaan yang tidak aku kenal; lalu masuk laki- laki lainnya dan membaca dengan bacaan yang berbeda lagi dengan laki-laki tersebut. Setelah kami selesai shalat, kami semua menemui Rasulullah SAW Aku katakan kepada beliau bahwa orang ini membaca bacaan yang tidak aku kenal, lalu datang seorang lagi dan membaca bacaan yang berbeda dari laki-laki ini.

Kemudian Nabi meminta laki-laki itu membaca kembali bacaannya. Setelah mereka selesai membaca, timbul dalam hatiku sikap mengingkari terhadap apa yang terjadi, bahkan sikap ini belum ada sebelumnya ketika aku masih di zaman jahiliyah. Ketika Rasulullah melihat apa yang meliputi diriku, beliau memukul dadaku. Saat itu aku berkeringat, seolah aku melihat Allah Azza wa Jalla. Beliau berkata padaku: ‘Wahai Ubay, aku diutus untuk membaca Al-Qur’an dengan satu huruf. Kemudian aku meminta kepada Jibril untuk memudahkan umatku, dan dia membacakannya dengan huruf kedua. Aku pun meminta lagi padanya untuk memudahkan umatku, maka ia membacakan huruf ketiga. Jibril berkata, ‘Wahai Muhammad, bacalah Al-Qur’an dengan tujuh huruf dan terserah kepadamu. Apakah setiap kali aku menjawab permintaanmu, engkau susul lagi dengan permintaan yang lain?’ Kemudian aku berkata, ‘Ya Allah, ampunilah ummatku, ampunilah umatku. Dan akan aku tangguhkan yang ketiga kalinya pada saat di mana semua makhluk mencintaiku, hingga Ibrahim ‘Alaihissalam. (HR. Muslim no.820)

Pendapat Ulama Mengenai Tujuh Huruf

Dari beberapa hadis di atas mewakili sekian banyak hadis yang berbicara mengenai sab’ah ahruf menunjukkan bahwa Al-Qur’a>n memang diturunkan Allah Swt dengan tujuh huruf. Hal ini sebagai kemudahan bagi umat Islam dalam membaca Al-Qur’an. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat dan pandangan dalam memahami makna sab’ah ahruf.

Semuanya berupaya menjelaskan defenisinya sehingga mampu dipahami dengan mudah oleh semua orang. Adapun secara istilah para ulama berbeda pendapat dalam mendefenisikan istilah sab’ah ahruf, diantaranya adalah sebagai berikut: Pertama, pendapat menyatakan bahwa sab’ah ahruf adalah tujuh cara dalam membaca sebuah lafaz{ yang berbeda tetapi mempunyai arti yang sama. Seperti ketika kita membaca: nahwi,

Kedua, adapula sebagian ulama yang mengartikan bahwa sab’ah ahruf adalah tujuh bahasa dari bahasa-bahasa arab yang tersebar dalam Al-Qur’an. Tujuh bahasa arab yang terdapat dalam Al-Qur’an tersebut adalah: bahasa Quraisy, Hudzail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman. Menurut sebagian ulama yang lain, bahwa tujuh huruf itu adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab yang ada, artinya bahwa kata-kata dalam Al-Qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam bahasa Arab yaitu bahasa yang paling fasih dikalangan bangsa Arab, meskipun sebagian besarnya dalam bahasa Quraisy, sedangkan sebagian yang lain dalam bahasa huzail, Tsaqif, hawazin, Kinanah, Tamim atau Yamamah. Dengan demikian, secara keseluruhan Al- Qur’a>n mencakup ke tujuh bahasa tersebut. Namun bukanlah setiap kata boleh dibaca dengan setiap bahasa, tetapi tujuh bahasa itu tersebar dalam Al-Qur’a>n. Pendapat ini dinilai paling benar.

Baca Juga :  IBADAH PUASA MENGHENDAKI PERUBAHAN

Ketiga, Al-Qur’an diturunkan Allah SAW dalam bahasa Arab yang memiliki nilai balaghahnya yang tinggi dan susunan bahasanya yang indah serta diturunkan ditengah-tengah bangsa Arab yang terdiri dari banyak kabilah dan suku. Setiap kabilah dan suku tersebut mempunyai lahjah (dialek) yang berbeda, baik dari segi intonasi, bunyi maupun hurufnya. Namun bahasa Quraisy mempunyai kelebihan dan keistimewaan tersendiri dan lebih tinggi daripada bahasa dan dialek yang lain.

Ada beberapa faktor yang membuat bahasa Quraisy lebih unggul dari bahasa-bahasa bangsa Arab yang lain, antara lain karena kaum Quraisy hidupnya berdampingan dengan Baitullah, menjadi pengabdi urusan haji, memakmurkan Masjidil Haram dan menguasai Perdagangan.

Dengan demikian, wajarlah jika Al-Qur’an diturunkan dalam lahjah Quraisy, diturunkan kepada Rasul yang Quraisy pula, hal tersebut sebagai bentuk politik pemersatu hati bagi bangsa Arab, pembenaran keindahan bahasa Al-Qur’an dan mewujudkan kemukjizatan Al-Qur’an yang tidak dapat mereka tandingi walau hanya satu ayat yang semisal dengan isi Al-Qur’an. Keempat,Pendapat yang mengatakan bahwa sab’ah ahruf adalah qira’at sab’ah. Para ulama menganggap pendapat yang ke empat ini adalah pendapat awam.

Keterangan ini juga akan dijadikan landasan teoritis dalam tulisan ini tentang apakah sab’ah ahruf adalah qira’at sab’ah sama atau berbeda, yang akan dibahas selanjutnya.

Sekelompok ulama menyatakan, dalam Al-Qur’an terdapat tujuh aspek hukum/ajaran, yaitu berupa perintah, larangan, halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan ams\al. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud tujuh aspek tersebut yaitu: muhkam, mutasyabih, nasikh, mansukh,khusus ‘am (umum), dan qashash. Pendapat ini lebih menitikberatkan kepada isi kandungan dalam Al-Qur’an itu sendiri yang terdiri dari tujuh aspek Sebagian ulama berpendapat, bahwa kata sab’ah dalam hadis tersebut, bukan menunjukkan bilangan tertentu (suatu angka yang berada pada urutan satu angka dibawah angka delapan, atau satu angka diatas angka enam), akan tetapi menunjukkan kepada arti banyak.

Menurut pendapat ini, sab’ah ahruf memiliki arti banyak, bisa jadi bukan hanya tentang dialek bahkan bisa tentang aspek hukum dan lain sebagainya mengingat kompleksitas yang dimiliki Al-Qur’an.

Antara Tujuh Huruf dan Qirat Sab’ah

Kata qira’at merupakan jama dari qir ’ah yang berasal dari kata Qaraa Dari kata dasar tersebut lahir kata qur’an dan qira’ah. kedua kata ini mempunyai makna, yaitu: membaca (al-Tila>wah) yaitu mengucapkan kalimat-kalimat yang tertulis.

Secara terminologi, Menurut ‘Abdul Fatah al-Qa>dh dalam al-Budur al- Zahirah fi Qira’at al-‘Asyr al-Mutawa>tirah, juga dikutip oleh Ahmad Fathoni dalam bukunya Kaidah Qira’at Tujuh: “Ilmu yang membahas tentang tata cara pengucapan kata-kata Al- Qur’an berikut cara penyampaiannya, baik yang disepakati maupun yang diikhtilafkan dengan cara menyandarkan setiap bacaannya kepada salah seorang imam qira’at”.

Definisi yang disampaikan oleh ‘Abdul Fatah al-Qdhi di atas ringkas dan jelas, alasannya mencakup dua hal pokok ‘ilmu qira’t yaitu cara pelafalan ayat-ayat Al-Qur’an baik yang disepakati maupun yang diikhtilafkan oleh para Imam qira’at, dan mencakup pentingnya sanad yang mutawatir sampai kepada Nabi saw. sebagai syarat diterimanya qira’at.

Menurut Imam al-Zarkasy dalam al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an: Qira’at itu adalah perbedaan (cara mengucapkan) lafaz{-lafaz{ Al-Qur’an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapan huruf- huruf tersebut, seperti: takhfif (meringankan), tasqil (memberatkan) dan lain- lain”.

Menurut Imam ‘Ali al-Sjabuni juga mengemukakan definisi tentang qira’at yaitu: Qira’at adalah suatu mazhab tertentu tentang cara pengucapan Al-Qur’an, dianut seorang Imam qira’at yang berbeda dengan mazhab lainnya, berdasarkan sanad-sanad-nya yang bersambung sampai kepada Nabi SAW.

*) Prof Dr H Fathurrahman Azhari, MHI merupakan Guru besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Antasarip Banjarmasin

Iklan
Iklan