Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Dari Kekayaan Alam ke Kesejahteraan: Mencari Arah Ekonomi Barito Utara

×

Dari Kekayaan Alam ke Kesejahteraan: Mencari Arah Ekonomi Barito Utara

Sebarkan artikel ini
junaidy

Junaidy
Dosen FISIP UNISKA MAB
Mahasiswa Program Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Universitas Brawijaya

Tidak semua daerah yang kaya sumber daya alam otomatis menjadi daerah yang sejahtera. Banyak wilayah yang memiliki cadangan tambang, hutan, atau energi justru menghadapi ketergantungan ekonomi pada sektor ekstraktif. Dalam literatur ekonomi pembangunan, fenomena ini dikenal sebagai resource curse, yaitu ketika kekayaan alam tidak selalu diikuti oleh diversifikasi ekonomi yang memadai.

Kalimantan Post

Kabupaten Barito Utara di Kalimantan Tengah berada pada persimpangan penting dalam dinamika pembangunan tersebut. Dengan kekayaan sumber daya alam yang besar—mulai dari pertambangan, energi, kehutanan hingga perkebunan—daerah ini memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Namun tantangan pembangunan daerah ke depan bukan lagi sekadar memanfaatkan sumber daya alam, melainkan bagaimana potensi tersebut dapat diubah menjadi nilai tambah ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Secara makro, perekonomian Barito Utara menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menunjukkan bahwa nilai ekonomi daerah meningkat dari sekitar Rp9,39 triliun pada tahun 2020 menjadi sekitar Rp14,04 triliun pada tahun 2024 (BPS,2025). Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi daerah dalam berbagai sektor pembangunan.

Namun struktur ekonomi daerah masih sangat dipengaruhi oleh sektor berbasis sumber daya alam, terutama pertambangan. Kawasan Cekungan Barito (Barito Basin) dikenal sebagai salah satu wilayah dengan cadangan batubara yang besar di Kalimantan dan menjadi bagian penting dalam industri energi nasional (Sarjuwinardi.dkk, 2019).

Di sektor energi, Barito Utara juga memiliki peran strategis dalam sistem kelistrikan regional. Lapangan Gas Kerendan di Blok Bangkanai memproduksi gas sekitar 20 MMSCFD yang dimanfaatkan untuk memasok pembangkit listrik di Kalimantan (Saka Energi, 2020).

Gas tersebut digunakan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Bangkanai yang berlokasi di Kecamatan Lahei dengan kapasitas sekitar 140–155 MW, yang menjadi bagian penting dalam sistem kelistrikan regional Kalimantan (PLN, 2022).

Baca Juga :  Belajar Dari Perjalanan Hidup Chen Kuan Tai

Selain energi konvensional, wilayah ini juga memiliki potensi energi masa depan seperti gas metana batubara (Coal Bed Methane/CBM) yang tersimpan dalam lapisan batubara dan berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif (Kementerian ESDM, 2021).

Potensi energi lainnya adalah biomassa dari limbah perkebunan dan kehutanan yang dapat dikembangkan menjadi sumber bioenergi atau pembangkit listrik biomassa (ESDM, 2023). Selain itu, wilayah Kalimantan juga memiliki potensi radiasi matahari yang cukup tinggi untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) (Rahman et al., 2020).

Di sektor perkebunan, komoditas karet dan kelapa sawit menjadi bagian penting dari perekonomian daerah. Produksi karet rakyat di Barito Utara mencapai sekitar 37,7 ribu ton per tahun, terutama berasal dari perkebunan rakyat di wilayah Teweh Tengah dan sekitarnya (BPS Barito Utara, 2024). Sementara itu, perkebunan kelapa sawit memiliki luas sekitar 29.529 hektare dengan produksi sekitar 120.960 ton crude palm oil (CPO) yang membuka peluang pengembangan agroindustri seperti minyak goreng, biodiesel, maupun produk turunan sawit lainnya (Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, 2023).

Potensi kehutanan juga masih cukup besar. Produksi kayu bulat di wilayah ini pernah mencapai sekitar 40.327 meter kubik kayu meranti serta sekitar 216 meter kubik kayu rimba campuran, yang menunjukkan bahwa sektor kehutanan masih menjadi bagian penting dalam struktur ekonomi daerah (ANTARA, 2010).

Di luar kegiatan penebangan kayu, sektor kehutanan memiliki peluang besar dalam pengembangan industri bernilai tambah seperti sawmill, plywood, wood pellet biomassa, hingga industri furnitur kayu yang dapat meningkatkan nilai ekonomi hasil hutan (ResearchGate, 2017).

Selain sektor sumber daya alam, posisi geografis Barito Utara juga memberikan keunggulan logistik. Sungai Barito sejak lama menjadi jalur transportasi utama distribusi komoditas seperti batubara, kayu, dan hasil perkebunan. Tongkang yang beroperasi di jalur ini dapat mengangkut sekitar 5.000 ton batubara dalam satu perjalanan, menjadikannya salah satu koridor logistik penting di Kalimantan (Tekmira, 2019).

Baca Juga :  IBADAH

Potensi ekonomi lain yang mulai berkembang adalah sektor pariwisata alam. Kawasan seperti Danau Terinsing, Air Terjun Km 18, serta kawasan hutan tropis di wilayah Barito Utara memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berbasis alam dan budaya lokal (UIN Antasari, 2022; ANTARA Kalteng, 2023).

Jika dilihat secara keseluruhan, Barito Utara sebenarnya memiliki tiga pilar utama pengembangan ekonomi daerah, yaitu sektor energi, sektor sumber daya alam, serta sektor pengolahan hasil alam. Ketiga sektor ini memiliki keterkaitan yang kuat dalam membentuk struktur ekonomi daerah sekaligus membuka peluang bagi pengembangan investasi baru.

Karena itu, tantangan pembangunan ekonomi Barito Utara ke depan bukan lagi sekadar meningkatkan produksi komoditas, tetapi memperpanjang rantai nilai ekonomi di tingkat lokal. Tanpa strategi tersebut, daerah yang kaya sumber daya berisiko tetap berada dalam pola ekonomi ekstraktif yang rentan terhadap dinamika pasar komoditas global.

Transformasi ekonomi daerah perlu diarahkan pada pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya lokal, penguatan sektor logistik regional melalui Sungai Barito, serta pengembangan industri berbasis energi yang dapat menarik investasi baru.

Pada akhirnya, kekayaan sumber daya alam hanyalah titik awal pembangunan. Keberhasilan pembangunan daerah sangat ditentukan oleh kemampuan mengubah kekayaan tersebut menjadi nilai tambah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Barito Utara memiliki semua prasyarat untuk melakukan transformasi tersebut: energi tersedia, sumber daya alam melimpah, dan jaringan logistik regional telah terbentuk. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa potensi tersebut dapat dikelola secara strategis agar benar-benar menjadi fondasi kesejahteraan ekonomi masyarakat di masa depan.

Iklan
Iklan