Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Setiap 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day), sebuah momentum global untuk merefleksikan peran, perjuangan, dan kontribusi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Ditahun 2026 ini, peringatan tersebut mengusung tema “Give to Gain”, sebuah pesan sederhana namun bermakna: ketika perempuan memberi pengetahuan, perhatian, dan kepedulian, masyarakat justru memperoleh lebih banyak kemajuan. Dalam konteks ini, ada satu ruang yang sering luput dari sorotan publik, tetapi menyimpan peran penting perempuan dalam membangun peradaban: perpustakaan.
Perpustakaan sering identik dengan suasana sunyi. Rak-rak buku tersusun rapi, pengunjung membaca dalam ketenangan, dan percakapan berlangsung dengan suara pelan. Bagi sebagian orang, sunyi itu terasa biasa saja, bahkan mungkin membosankan. Namun bagi pustakawan terutama perempuan yang banyak mengabdikan diri di dalamnya, kesunyian tersebut justru merupakan ruang kerja yang penuh makna. Di balik keheningan perpustakaan, berlangsung kerja intelektual yang senyap tetapi berdampak besar bagi masyarakat.
Dalam banyak lembaga perpustakaan di Indonesia, perempuan memegang peran dominan sebagai pustakawan. Mereka mengelola koleksi pengetahuan, membantu pemustaka menemukan referensi, mendampingi proses belajar, hingga menjaga agar informasi tetap tertata dan dapat diakses oleh siapa pun yang membutuhkannya. Pekerjaan ini jarang menjadi sorotan publik, apalagi di era digital yang lebih mengutamakan sesuatu yang viral dan visual. Namun justru dari kerja-kerja sunyi itulah literasi masyarakat perlahan tumbuh.
Sunyi perpustakaan tidak berarti ketiadaan aktivitas. Sebaliknya, di ruang itulah pengetahuan bergerak secara tenang. Seorang mahasiswa menemukan referensi untuk skripsinya, seorang peneliti menggali literatur untuk risetnya, atau seorang anak membaca buku yang mungkin mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Semua proses itu sering terjadi tanpa disadari oleh banyak orang. Perempuan pustakawan hadir sebagai fasilitator yang memungkinkan proses belajar tersebut berjalan dengan baik.
Peran ini menjadi semakin penting di era digital saat ini. Dunia informasi tidak lagi terbatas pada buku cetak. Pengetahuan kini beredar melalui berbagai platform digital dengan kecepatan yang luar biasa. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki kualitas yang baik. Hoaks, misinformasi, dan manipulasi data dapat menyebar dengan sangat cepat. Dalam situasi ini, masyarakat membutuhkan panduan untuk memilah mana informasi yang dapat dipercaya dan mana yang harus dipertanyakan.
Di sinilah pustakawan memainkan peran strategis sebagai penjaga literasi. Mereka tidak hanya mengelola buku, tetapi juga membantu masyarakat memahami cara mencari, menilai, dan menggunakan informasi secara kritis. Banyak pustakawan perempuan kini terlibat dalam program literasi digital, pelatihan pencarian informasi, hingga pendampingan masyarakat dalam memanfaatkan sumber pengetahuan daring. Dengan kata lain, mereka tidak hanya menjaga perpustakaan sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang intelektual di tengah banjir informasi digital.
Namun ironinya, peran ini sering berlangsung tanpa pengakuan yang memadai. Dalam narasi besar tentang kemajuan teknologi dan transformasi digital, profesi pustakawan jarang disebut sebagai aktor penting. Padahal, tanpa literasi yang kuat, teknologi justru dapat menjadi sumber kebingungan dan disinformasi. Di tengah situasi ini, perempuan pustakawan tetap bekerja dengan dedikasi memberi akses pengetahuan, membimbing pembaca, dan menjaga agar perpustakaan tetap relevan bagi masyarakat.
Jika dilihat dari perspektif tema “Give to Gain” pada peringatan International Women’s Day tahun ini, kerja pustakawan perempuan sebenarnya mencerminkan nilai tersebut dengan sangat nyata. Mereka memberi waktu, perhatian, dan keahlian untuk membantu orang lain memahami pengetahuan. Dari pemberian itu, masyarakat mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar: kemampuan berpikir kritis, wawasan yang lebih luas, dan kesempatan untuk berkembang.
Kesunyian perpustakaan dalam hal ini bukanlah simbol keterasingan, melainkan ruang di mana pengetahuan dapat tumbuh tanpa terganggu oleh kebisingan dunia. Di tengah budaya digital yang sering dipenuhi oleh konten cepat dan informasi dangkal, perpustakaan tetap menawarkan ruang refleksi. Di sanalah pembaca diajak untuk berhenti sejenak, membaca dengan saksama, dan merenungkan makna dari apa yang dipelajarinya.
Perempuan pustakawan memainkan peran penting dalam menjaga ruang tersebut tetap hidup. Mereka tidak hanya mengatur buku di rak, tetapi juga merawat ekosistem pengetahuan yang memungkinkan masyarakat belajar sepanjang hayat. Ketelatenan, kesabaran, dan kepedulian yang mereka tunjukkan menjadi fondasi bagi berkembangnya budaya literasi.
Momentum peringatan International Women’s Day seharusnya juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali kontribusi perempuan di bidang-bidang yang sering luput dari perhatian publik, termasuk kepustakawanan. Di balik kesunyian perpustakaan, terdapat dedikasi perempuan yang terus menjaga agar pengetahuan tetap dapat diakses oleh siapa pun. Mereka bekerja tidak untuk sorotan, tetapi untuk memastikan bahwa generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk belajar dan memahami dunia dengan lebih baik.
Pada akhirnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang berada di panggung besar. Ia juga dibentuk oleh orang-orang yang bekerja dengan tekun di ruang-ruang sunyi. Perempuan pustakawan adalah bagian dari mereka. Dalam kesunyian perpustakaan, mereka terus menyalakan cahaya pengetahuan memberi tanpa banyak suara, tetapi menghadirkan dampak yang jauh melampaui ruang tempat mereka bekerja.













