Oleh : Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Ramadhan selalu datang dengan irama yang khas: ayat-ayat suci bergema, sahur menyatukan keluarga, dan takjil menjadi bahasa kasih yang universal. Tahun 2026, bulan suci ini beradu manis dengan Hari Perempuan Internasional yang mengusung tema “Give to Gain”—sebuah pengingat bahwa memberi bukanlah kehilangan, melainkan investasi abadi.
di era ketika hiruk-pikuk digital seolah tak pernah padam, momen ganda ini layak disebut simfoni. Perempuan menjadi dirigennya, mengatur harmoni antara nilai-nilai suci Ramadhan, tuntutan dunia digital, dan semangat berbagi yang tak pernah lekang.
Ruang Ngaji Berubah Wajah
Siapa bilang Ramadhan perempuan hanya sebatas menggoreng takjil dan menyiapkan hidangan berbuka? Di Kecamatan Lenteng, Sumenep, Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU menghadirkan inovasi yang mencengangkan. Mereka meluncurkan program Kajian Ramadhan Penuh Hikmah (Karomah), sebuah podcast keagamaan yang dirancang khusus untuk perempuan muda .
“Dakwah harus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar keislaman,” ujar Nurhakimah, Ketua PAC Fatayat NU Lenteng . Para kader Fatayat kini menjadi pewara, mengupas tafsir surat-surat pendek, hukum puasa, hingga adab bertamu—semua dikemas ringan namun tetap mendalam.
Inilah wajah baru “give” di era digital. Para perempuan muda ini memberi ilmu dan pencerahan, bukan dengan mimbar konvensional, melainkan melalui gelombang sinyal yang menjangkau generasi Z di gawai mereka. Dan “gain”-nya? Bukan sekadar popularitas, tetapi tradisi ngaji yang kembali hidup di kalangan yang selama ini dikhawatirkan kering spiritualitas.
Dilema Palsu Diruntuhkan
Di forum Majelis Persaudaraan Manusia Zayed Award 2026 di Abu Dhabi, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan yang relevan dengan simfoni ini. Ia mengingatkan para perempuan agar tidak terjebak dalam dilema palsu antara rumah dan masyarakat.
“Yang dibutuhkan adalah manajemen waktu, komunikasi yang setara dengan pasangan hidup, serta dukungan struktural dari negara dan lingkungan sosial,” tegas Megawati. Ia sendiri adalah bukti hidup bahwa seorang presiden, ibu, dan istri bisa berjalan beriringan, bukan karena ajaib, tetapi karena keyakinan, keteguhan, dan keberanian.
Pesan ini menjadi penguat bagi simfoni Ramadhan perempuan. Di era digital, tekanan untuk “memberi” justru semakin besar. Ada tuntutan untuk produktif di ranah publik, namun juga harus sempurna di ranah privat. Megawati mengingatkan bahwa kepemimpinan perempuan adalah tentang kemampuan menyatukan peran, bukan mempertentangkannya.
Talenta Digital Tertunda
Namun simfoni ini belum sempurna. Ada nada sumbang yang perlu dibenahi. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengungkapkan fakta ironis: Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030, tetapi partisipasi perempuan dalam pelatihan digital baru mencapai 36 persen. Lebih memprihatinkan lagi, hanya sekitar 17 persen yang benar-benar melanjutkan karier profesional di bidang teknologi.
Fenomena leaky pipeline ini terjadi karena stereotip gender, kurangnya rasa aman, dan minimnya panutan. Di bidang teknis mendalam seperti kecerdasan buatan dan rekayasa, keterlibatan perempuan hanya 15 hingga 18 persen. Padahal, keberagaman perspektif sangat penting untuk inovasi yang bermakna.
Namun secercah harapan muncul dari program seperti AWS Girls’ Tech Day yang membekali 400 siswi dengan keterampilan AI, koding, dan robotika . “Jangan takut mencoba teknologi dan jangan takut salah. Masa depan digital Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian,” pesan Meutya
Harmoni Harus Diciptakan
Di Malaysia, fenomena serupa terjadi. Jannatul Makwa Sutikislan, pendiri komunitas Circle One, mengadakan program tadarus dalam talian yang pesertanya didominasi wanita dan golongan muda . Sementara Norsyazwa Riyana Shah Rol Rizal, guru muda dari Johor, konsisten membagikan konten doa harian di media sosialnya, yang videonya hampir mencemplung satu juta tontonan.
Mereka membuktikan bahwa media sosial bukan hanya medium hiburan, tetapi juga saluran penyebaran ilmu. Di tangan perempuan, platform digital bisa menjadi ruang ibadah yang tak terbatas dinding dan waktu.
Tema “Give to Gain” di Hari Perempuan Internasional 2026 mengajak kita memaknai ulang arti memberi. Bukan sekadar transfer materi atau konten, melainkan kehadiran utuh di setiap peran.
Megawati mengajarkan bahwa kepemimpinan perempuan adalah tentang menghadirkan nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan dalam seluruh ruang hidupnya. Ketika seorang ibu mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya, ia sedang memberi fondasi peradaban. Ketika seorang kader Fatayat membuat podcast kajian Ramadhan, ia sedang memperluas rahmat. Ketika seorang siswi berani belajar AI di tengah dominasi laki-laki, ia sedang membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Simfoni tidak pernah dimainkan oleh satu alat musik. Ada harmoni dari banyak nada. Perempuan Ramadhan di era digital adalah simfoni itu sendiri: ia bisa lembut seperti ayat-ayat yang dilantunkan, namun juga tegas seperti kode program yang dituliskan. Ia memberi tanpa kehilangan, dan justru memperoleh lebih banyak, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk semesta.
Di bulan yang suci ini, di hari yang istimewa ini, mari kita dengarkan simfoni yang terus dimainkan. Atau lebih dari itu: mari kita menjadi konduktor bagi simfoni kehidupan kita sendiri.
Selamat Hari Perempuan Internasional 2026. Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga setiap nada yang kita hasilkan adalah keberkahan.













