Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Ekonomi

Inflasi Tahunan Kalteng Maret 2026 Capai 3,86 Persen

×

Inflasi Tahunan Kalteng Maret 2026 Capai 3,86 Persen

Sebarkan artikel ini
IMG 20260402 WA0003
INFLASI - Kepala BPS Kalteng Agnes Widiastuti pada jumpa pers bulanan, Rabu (1/4/2026). (Kalimantanpost.com/darity).

PALANGKA RAYA, Kalimantanpost.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada Maret 2026 sebesar 3,86 persen.

“Kenaikan ini mencerminkan peningkatan harga sejumlah komoditas utama dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ungkap Kepala BPS Kalteng Agnes Widiastuti pada jumpa pers bulanan, Rabu (1/4/2026).

Kalimantan Post

Agnes Widiastuti menjelaskan, inflasi tersebut ditunjukkan oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,37 pada Maret 2025 menjadi 111,51 pada Maret 2026.

“Pada Maret 2026, inflasi year-on-year Kalteng tercatat sebesar 3,86 persen dengan IHK sebesar 111,51,” ujarnya.

Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan harga secara umum dibandingkan Maret tahun sebelumnya.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,54 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date) sebesar 1,39 persen.

Situasi tersebut mengindikasikan tren kenaikan harga yang tetap terjaga sejak awal tahun.

Inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat. Kelompok dengan kenaikan tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 13,63 persen, diikuti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 5,34 persen.

“Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami inflasi sebesar 4,81 persen, yang menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di Kalteng,” paparnya.

Dijelaskan, kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 2,71 persen, sementara penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,63 persen. Adapun kelompok kesehatan, transportasi, rekreasi, serta pakaian dan alas kaki juga mengalami kenaikan meski relatif lebih rendah.

Terdapat dua kelompok pengeluaran yang justru mengalami penurunan indeks harga atau deflasi, yakni kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,15 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen.

Baca Juga :  Wagub Hasnuryadi Perkuat Kolaborasi dengan Menparekraf, Ekonomi Kreatif Kalsel Digenjot Lebih Kompetitif

Menurut Agnes, sejumlah komoditas menjadi pendorong utama inflasi secara tahunan. Di antaranya adalah emas perhiasan, tarif listrik, beras, daging ayam ras, ikan nila, serta telur ayam ras.

“Komoditas lain seperti minyak goreng, kopi bubuk, ikan olahan, hingga makanan jadi seperti nasi dengan lauk dan ikan bakar juga memberikan andil terhadap inflasi,” jelasnya.

Sementara itu, beberapa komoditas turut menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi, seperti bensin, bawang putih, cabai rawit, wortel, hingga sejumlah bahan pangan lainnya.

Secara wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 4,20 persen dengan IHK 113,46. Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Sukamara sebesar 2,67 persen dengan IHK 112,44.

Agnes menambahkan, seluruh kabupaten/kota yang menjadi sampel penghitungan IHK di Kalimantan Tengah pada Maret 2026 mengalami inflasi, baik secara tahunan maupun bulanan.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga terjadi merata di seluruh wilayah, meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda,” ungkapnya.

Disebutkan, inflasi tahun ini lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 yang hanya sebesar 1,33 persen. Hal ini menandakan adanya peningkatan tekanan harga yang perlu menjadi perhatian bersama.

Dengan kondisi tersebut, BPS berharap data inflasi ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian harga dan menjaga daya beli masyarakat.

Diakuinya, inflasi Kalimantan Tengah pada Maret 2026 mencerminkan dinamika kenaikan harga yang dipicu oleh berbagai komoditas utama, terutama dari sektor kebutuhan pokok dan energi.

“Stabilitas harga ke depan menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan ekonomi daerah”, tutupnya. (drt/KPO-4).

Iklan
Iklan