Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Internasional

Giliran Austria Tolak Permintaan AS Gunakan Wilayah Udaranya untuk Serang Iran

×

Giliran Austria Tolak Permintaan AS Gunakan Wilayah Udaranya untuk Serang Iran

Sebarkan artikel ini
IMG 20260403 WA0008
Ilustrasi - Pangkalan militer di Irak. (Antara/Anadolu)

ISTANBUL, Kalimantanpost.com – Giliran Austria menolak permintaan AS untuk menggunakan wilayah udaranya untuk melancarkan operasi militer melawan Iran, dengan alasan hukum netralitas yang diterapkan negara tersebut.

Pada Kamis (2/4), juru bicara Kementerian Pertahanan Austria mengonfirmasi adanya beberapa permintaan dari Washington tetapi tidak menyebutkan jumlah pastinya, demikian laporan penyiar publik Austria, ORF.

Kalimantan Post

Austria, yang mempertahankan kebijakan netralitas militer yang telah lama berlaku, belum memberlakukan larangan umum terhadap penerbangan AS tetapi sedang meninjau permintaan berdasarkan kasus per kasus, menurut kementerian tersebut.

Partai oposisi Sosial Demokrat (SPO) juga menyerukan pemerintah untuk mempertahankan pendiriannya saat ini.

“Menteri Pertahanan Klaudia Tanner (OVP) seharusnya tidak menyetujui satu pun penerbangan militer AS ke Teluk. Ia juga seharusnya tidak menyetujui penerbangan transportasi atau dukungan logistik lainnya,” kata Sven Hergovich, kepala SPO di Austria Hilir.

“Sama seperti yang dilakukan Spanyol, Perancis, Italia, dan Swiss. Perang ini merusak kepentingan ekonomi Austria, Eropa secara keseluruhan, dan perdamaian dunia,” ujarnya, menambahkan.

Awal pekan ini, Spanyol dilaporkan menutup wilayah udaranya untuk penerbangan militer terkait konflik tersebut, sementara Italia menolak permintaan pesawat AS untuk mendarat di pangkalan di Sisilia.

AS dan Israel telah melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari 2026. Serangan itu menewaskan lebih dari 1.340 korban, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Teheran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-neggara Teluk yang menampung aset militer AS—menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan. (Ant//KPO-3,)

Baca Juga :  Umat Manusia Kembali ke Bulan Setelah 50 Tahun Melalui Misi Misi Artemis II
Iklan
Iklan