Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

ULM Olah Sampah Plastik Residu Jadi Produk Eco Wood, Untuk Furniture dan Kontruksi

×

ULM Olah Sampah Plastik Residu Jadi Produk Eco Wood, Untuk Furniture dan Kontruksi

Sebarkan artikel ini
IMG 20260407 WA0034
PELELEH PLASTIK - Kepala LPPM ULM, Prof. Sunardi memperlihatkan alat peleleh plastik residu yang ramah lingkungan, di Kampus Teknik ULM Banjarbaru. (Kalimantanpost.com/repro ULM).

BANJARBARU, Kalimantanpost.com – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengembangkan inovasi pengolahan sampah plastik residu menjadi material komposit yang dimanfaatkan sebagai produk eco wood untuk kebutuhan furnitur dan konstruksi.

Inovasi ini mengubah sampah plastik kategori low value, seperti bungkus makanan dan plastik campuran, menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomi.

Kalimantan Post

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM, Prof. Sunardi mengungkan, pengolahan ini merupakan bagian dari upaya pengelolaan sampah di lingkungan kampus.

“Diharapkan tidak ada sampah dari internal kampus yang keluar, dengan pemilahan dan pengolahan sampah organik menjadi kompos,” kata Sunardi, Senin (6/4/2026).

“Kita juga fokus mengonversi sampah plastik low value atau residu yang tidak memiliki nilai ekonomi,” tambahnya.

Sampah plastik residu diolah menggunakan reaktor melalui proses pelelehan yang telah dipatenkan. Proses ini menghasilkan material komposit dengan karakteristik menyerupai kayu.

Material tersebut dimanfaatkan untuk berbagai produk seperti kusen, pintu, meja, dan kursi. Satu set meja dan kursi yang menggunakan sekitar 300 kilogram sampah plastik residu dapat dipasarkan hingga Rp1 juta.

“Karena berbahan dasar plastik, daya tahannya bisa bertahun-tahun, anti rayap, dan tahan terhadap berbagai bahan kimia,” ungkap Sunardi.

Dalam satu kali produksi, teknologi ini mampu mengolah hingga 10 ton sampah plastik residu.

Pengolahan dilakukan melalui pelelehan pada suhu terkontrol di bawah 250 derajat Celsius tanpa proses pembakaran.

“Prosesnya tanpa pembakaran, sehingga tidak menghasilkan polusi emisi berbahaya seperti dioksin. Intinya, penemuan ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik,”  jelasnya.

Saat ini, pemanfaatan teknologi difokuskan pada pengolahan sampah di lingkungan kampus dan sekitarnya. Namun, ULM membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah untuk penerapan lebih luas.

“Kampus ULM siap membuka pintu bagi pemerintah daerah yang ingin menduplikasi sistem ini guna mengatasi masalah sampah di tingkat kota maupun kabupaten,” ungkap Sunardi.

Baca Juga :  Ditetapkan, WFH 1 Hari bagi ASN

“Kami siap bermitra dengan kabupaten/kota yang membutuhkan, baik dari sisi tenaga ahli maupun penyediaan peralatan,” tambahnya. (adv/lyn/KPO-4).

Iklan
Iklan