PALANGKA RAYA, Kalimantanpost.com – Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Faridawaty Dartland Atjeh melaksanakan reses, Senin, (13/2026), yang mencuat bukan sekadar daftar usulan, melainkan potret tentang bagaimana masyarakat masih bertumpu pada swadaya di tengah keterbatasan fasilitas.
Di antara warga yang hadir, Damang Adat yang baru terpilih menyampaikan kegelisahan yang selama ini nyaris tak terdengar. Lembaga adat yang seharusnya menjadi garda depan penyelesaian konflik sosial justru berjalan dengan fasilitas minim.
Kantor adat memang sudah berdiri, bahkan lokasinya berdekatan dengan kantor lurah, tetapi aktivitasnya belum maksimal. Ketiadaan perangkat dasar seperti komputer dan printer membuat administrasi adat berjalan lambat, mengandalkan cara manual, dan sering kali bergantung pada inisiatif pribadi.
Akses pendidikan bukan hanya soal gedung, tetapi juga keamanan dan kualitas pengajaran. Tanpa pagar yang memadai, keselamatan anak-anak menjadi taruhan. Tanpa guru yang cukup, proses belajar pun sulit optimal.
Faridawaty menegaskan, aspirasi warga yang disampaikan bukan sekadar catatan, tetapi menjadi dasar untuk diperjuangkan dalam kebijakan.
“Hal-hal yang disampaikan masyarakat ini memang terlihat sederhana, tapi justru itu yang paling dibutuhkan. Kita ingin lembaga adat bisa bekerja optimal, lingkungan lebih aman, dan masyarakat punya peluang ekonomi dari rumah,” ujarnya.
Menariknya, dalam reses tersebut, dukungan tidak berhenti pada tataran usulan. Sejumlah bantuan pribadi dari Faridawaty dijadwalkan terealisasi pada Mei 2026, mencakup laptop dan printer untuk kantor Damang Adat, perangkat tambahan untuk kantor kelurahan, serta oven, kompor, dan bibit ikan bagi kelompok ibu-ibu.
“Hal-hal yang disampaikan masyarakat ini memang terlihat sederhana, tapi justru itu yang paling dibutuhkan. Kita ingin lembaga adat bisa bekerja optimal, lingkungan lebih aman, dan masyarakat punya peluang ekonomi dari rumah,” ujarnya.
“Kalau fasilitas dasar seperti penerangan, pendidikan, dan sarana kerja belum terpenuhi, maka sulit bicara pembangunan yang lebih besar. Ini yang akan kita dorong bersama,” tambahnya.
Langkah bantuan awal yang ia berikan, menurutnya, adalah bentuk respon cepat agar kebutuhan mendesak bisa segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Aspirasi warga desa ini menjadi pengingat bahwa pemerataan pembangunan masih menyisakan ruang yang harus diisi, terutama pada aspek yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.(drt/ist/KPO-4)















