Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarbaru

Lisa Halaby, Kartini Modern Banjarbaru dan Simbol Politik Perempuan

×

Lisa Halaby, Kartini Modern Banjarbaru dan Simbol Politik Perempuan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260417 153935 e1776411663866
Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby. (Kalimantanpost.com/Repro Pribadi)

Di TENGAH dinamika kepemimpinan daerah di Indonesia yang terus bergerak menuju fase lebih terbuka dan kompetitif, nama Erna Lisa Halaby muncul sebagai salah satu figur perempuan yang kerap dikaitkan dengan transformasi peran perempuan dalam ruang publik. Kehadirannya dalam panggung politik lokal tidak hanya dipandang sebagai pergantian aktor kekuasaan, tetapi juga sebagai simbol perubahan sosial yang lebih luas bahwa kepemimpinan daerah tidak lagi didominasi oleh satu gender, melainkan mulai memberi ruang yang setara bagi perempuan untuk mengambil peran strategis. Dalam konteks ini, ia sering diposisikan sebagai representasi semangat R.A. Kartini dalam wajah kontemporer bukan sekadar dalam narasi historis, tetapi dalam praktik kepemimpinan yang nyata.

Momentum itu terjadi ketika ia resmi dilantik sebagai Wali Kota Banjarbaru periode 2025–2030 yang menjadi penanda penting dalam perjalanan politik kota tersebut. Peristiwa itu tidak hanya dimaknai sebagai seremoni administratif, melainkan sebagai tonggak sejarah lokal: untuk pertama kalinya, Banjarbaru dipimpin oleh seorang perempuan. Situasi ini menghadirkan dimensi baru dalam lanskap politik daerah, di mana kepemimpinan perempuan tidak lagi berada di pinggiran, tetapi menjadi pusat pengambilan keputusan.

Kalimantan Post

Dalam perspektif yang lebih luas, kondisi ini sejalan dengan cita-cita emansipasi Kartini yang memperjuangkan kesetaraan akses, kesempatan, dan peran perempuan dalam ruang sosial maupun politik.
Kepemimpinan Lisa Halaby tidak semata bertumpu pada simbolisasi gender atau momentum politik. Ia juga dibaca melalui perjalanan panjang karier birokrasi yang ia tempuh selama bertahun-tahun di lingkungan pemerintahan daerah.

Sejak awal 2000-an, Lisa meniti jalur sebagai Aparatur Sipil Negara, sebuah ruang yang menuntut disiplin, loyalitas, dan kemampuan teknokratis dalam menjalankan kebijakan publik. Dari proses tersebut, Lisa kemudian dipercaya mengemban berbagai posisi strategis di pemerintahan kota, yang mengasah kapasitas manajerial sekaligus memperluas pemahamannya terhadap kompleksitas tata kelola pemerintahan.

Pengalaman birokrasi yang panjang tersebut membentuk karakter kepemimpinannya yang cenderung administratif sekaligus adaptif. Dirinya tidak hadir sebagai figur instan, melainkan sebagai produk dari proses panjang yang ditempa oleh sistem pemerintahan itu sendiri. Dalam konteks ini, kepemimpinannya sering dibaca sebagai representasi pemimpin perempuan modern yang tidak hanya mengandalkan simbol representasi, tetapi juga memiliki basis kompetensi yang teruji di lapangan. Ketekunan dalam menjalani jenjang karier birokrasi menjadi salah satu fondasi yang memperkuat legitimasi kepemimpinannya di tingkat kota.

Di sisi lain, keputusan Lisa Halaby untuk mengundurkan diri dari status Aparatur Sipil Negara dan memasuki arena kontestasi politik elektoral menunjukkan dimensi keberanian yang berbeda dari jalur karier sebelumnya. Langkah tersebut bukan keputusan yang sederhana, mengingat posisi ASN identik dengan stabilitas dan kepastian karier. Namun, pilihan untuk meninggalkan zona nyaman tersebut dapat dibaca sebagai bentuk keberanian mengambil risiko demi membuka ruang perubahan yang lebih luas di tingkat kebijakan publik.

Baca Juga :  HUT ke-27 Banjarbaru, Pemko Gelar Gotong Royong Bersih Sampah Serentak

Dalam perspektif kepemimpinan transformasional, langkah seperti ini sering dipahami sebagai indikator adanya visi yang melampaui sekadar posisi struktural, melainkan berorientasi pada perubahan sistem.

Keputusan tersebut juga dapat ditempatkan dalam kerangka semangat Kartini yang menolak stagnasi sosial dan mendorong perempuan untuk aktif mengambil peran dalam ruang-ruang strategis. Jika Kartini pada masanya memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan intelektual, maka dalam konteks kontemporer, narasi seperti yang dilekatkan pada Lisa Halaby sering dipahami sebagai kelanjutan dari gagasan tersebut dalam ranah politik dan pemerintahan.

Lisa diposisikan sebagai bagian dari generasi perempuan yang tidak hanya hadir sebagai pelengkap dalam struktur kekuasaan, tetapi sebagai aktor utama dalam proses pengambilan keputusan publik.

Sejak dilantik sebagai Walikota Banjarbaru, sosok Lisa Halaby, telah menunjukkan sikap kepemimpinan yang tegas sekaligus terbuka.Sebagai contoh di tengah sorotan publik terhadap isu pengelolaan keuangan daerah ia tampil sigap untuk menjernihkan isu isu tidak sedap yang sempat berkembang.

Lisa segera merespons kabar yang menyebut adanya dana Pemerintah Kota Banjarbaru sebesar Rp 5,1 triliun yang disebut mengendap di perbankan berdasarkan data Kementerian Keuangan RI.
Menanggapi hal tersebut, pihak Pemerintah Kota Banjarbaru yang dipimpinnya segera melakukan penelusuran dan verifikasi data, termasuk dengan berkoordinasi langsung ke perbankan daerah. Dari hasil pengecekan tersebut, tidak ditemukan adanya dana Pemko Banjarbaru dalam jumlah sebagaimana yang diberitakan tersimpan di bank.

Pemerintah Kota Banjarbaru juga menegaskan data yang ditampilkan dalam forum resmi Kementerian Keuangan pada rapat koordinasi pengendalian inflasi, Senin (20/10/2025), tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Klarifikasi ini menjadi langkah penting dalam menjaga transparansi pemerintahan serta mempertahankan kepercayaan publik, khususnya masyarakat Banjarbaru, agar tidak muncul prasangka terhadap pengelolaan dana publik yang dapat memicu kesalahpahaman.

Di sisi lain, Lisa Halaby juga dikenal memberikan perhatian serius terhadap penataan ruang kota yang lebih inklusif, aman, dan tertib, termasuk di kawasan yang sebelumnya memiliki citra kurang baik, seperti wilayah Pembatuan. Pemerintah kota mendorong penataan kawasan tersebut melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan penegakan aturan, peningkatan penerangan jalan, serta penguatan koordinasi antara aparat ketertiban dan masyarakat.

Upaya ini diarahkan untuk mengubah kawasan yang sebelumnya dipersepsikan sebagai area dengan aktivitas malam yang tidak terkendali menjadi ruang publik yang lebih aman dan nyaman bagi warga. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari aspek fisik seperti jalan yang lebih terang dan tertata, tetapi juga dari meningkatnya aktivitas masyarakat yang kembali hidup, baik pada siang maupun malam hari.

Transformasi ini mencerminkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada aspek sosial dan rasa aman masyarakat. Keterlibatan tokoh masyarakat dalam menjaga ketertiban lingkungan menjadi bagian penting dari proses ini, sehingga perubahan yang terjadi dapat berlangsung lebih berkelanjutan.

Baca Juga :  Korve Massal Hari Jadi Banjarbaru, Dorong Kesadaran Kelola Sampah

Secara keseluruhan, kepemimpinan Lisa Halaby sejauh ini dipandang tidak hanya menitikberatkan pada pembangunan fisik kota, tetapi juga pada pemulihan fungsi sosial ruang publik. Visi tersebut tercermin dalam upaya menjadikan setiap kawasan di Banjarbaru lebih tertib, terang, dan aman, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh lapisan masyarakat.

Di luar ruang pemerintahan, kiprah sosial Erna Lisa Halaby turut memperkuat citranya sebagai sosok yang kerap dipandang merepresentasikan “Kartini masa kini”. Ia tidak hanya hadir dalam konteks jabatan formal, tetapi juga melalui kerja-kerja sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan.

Melalui Yayasan Abdul Aziz Halaby yang ia dirikan, Lisa mengembangkan berbagai program pendidikan berbasis komunitas yang berorientasi pada akses dan pemerataan. Salah satu yang menonjol adalah penyelenggaraan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) gratis yang menampung ratusan santri dari berbagai latar belakang. Program ini menjadi ruang pembelajaran dasar keagamaan yang terbuka bagi masyarakat luas tanpa hambatan biaya, sehingga memberikan kesempatan yang lebih inklusif bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan dini.

Selain itu, yayasan tersebut juga turut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan formal melalui pendirian sekolah dasar yang membuka akses lebih luas bagi generasi muda. Kehadiran lembaga pendidikan ini tidak hanya menjadi sarana belajar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia di tingkat lokal.

Langkah-langkah ini menunjukkan adanya perhatian yang konsisten terhadap pemberdayaan masyarakat, terutama dalam sektor pendidikan yang sejak lama menjadi salah satu fokus perjuangan emansipasi perempuan sebagaimana diwariskan oleh semangat RA Kartini.

Lebih jauh, perjalanan kepemimpinan Lisa Halaby juga ditopang oleh legitimasi politik yang kuat. Dalam kontestasi Pilkada Banjarbaru 2024, dirinya bersama pasangannya berhasil meraih dukungan luas dari berbagai partai politik dan memenangkan pemilihan dengan perolehan suara yang signifikan. Kemenangan tersebut tidak hanya mencerminkan keberhasilan strategi politik, tetapi juga menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap kapasitas, rekam jejak, dan integritas yang ia bangun selama ini.

Kombinasi antara pengalaman panjang di birokrasi, keberanian mengambil langkah di arena politik elektoral, serta konsistensi dalam kerja-kerja sosial menjadikan Lisa Halaby sebagai figur perempuan yang memiliki posisi kuat dalam ruang publik. Ia tidak hanya dipandang sebagai simbol representasi perempuan dalam politik, tetapi juga sebagai aktor yang terlibat langsung dalam proses perubahan sosial di tingkat daerah.

Dalam konteks inilah, semangat Kartini kerap dilekatkan pada dirinya bukan sekadar sebagai warisan sejarah yang dikenang, melainkan sebagai nilai yang terus dihidupkan dalam praktik kepemimpinan sehari-hari. Melalui kerja, kebijakan, dan kontribusi sosialnya, semangat tersebut tampak bertransformasi menjadi tindakan nyata yang memberi dampak langsung bagi masyarakat. (3S/KPO-3)

Iklan
Iklan